Minggu, 04 September 2016

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN MELALUI MEDIA BERITA DENGAN METODE LATIHAN TERBIMBING PADA SISWA KELAS IX F SMPNEGERI 1 JIWAN KAB. MADIUN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN MELALUI MEDIA BERITA DENGAN METODE LATIHAN TERBIMBING PADA SISWA KELAS IX F SMPNEGERI 1 JIWAN KAB. MADIUN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Oleh : ANANG AGUNG SURONO S.Pd
SMPN 1 JIWAN

ABSTRAK
Kata kunci : peningkatan, menulis cerpen, media berita, metode latihan
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen melalui media berita dengan metode latihan terbimbing pada siswa kelas IX F  SMPN 1 Jiwan.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX F SMPN 1 Jiwan. Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Prosedur pelaksanaan dan implementasi di lokasi penelitian terbagi dalam dua siklus. Siklus I dilakukan dua kali pertemuan dan begitu juga siklus II dilakukan dua kali pertemuan. Penelitian ini difokuskan pada permasalahan yang berkaitan dengan peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui media berita dengan metode latihan terbimbing. Data diperoleh dengan menggunakan pedoman pengamatan, catatan lapangan, angket, wawancara, dan tes. Teknik analisis dalam penelitian ini mencakup proses tindakan kelas yang dilakukan secara kualitatif dan analisis hasil tindakan yang berupa skor secara kuantitatif. Kriteria keberhasilan penelitian ini dilihat dari adanya peningkatan keberhasilan proses dan produk.
Penerapan media berita denga metode latihan terbimbing dapat meningkatkan proses dan produk belajar siswa. Peningkatan proses siswa pada akhir tindakan siklus I, yaitu siswa menjadi cukup antusias, semangat, gembira, aktif dalam menulis cerpen. Pada akhir tindakan siklus II terlihat peningkatan proses, yaitu antusias dan semangat yang ditunjukkan siswa dalam menulis cerpen lebih besar, aktif, dan percaya diri. Peningkatan produk ditunjukkan dengan semakin meningkatnya ketutasan tes hasil belajar. Skor ratarata yang dicapai siswa sebelum proses tindakan adalah 61,44. Pada akhir tindakan siklus I skor rata-rata yang diperoleh sebesar 70,31 sehingga mengalami peningkatan 8,87 poin. Pada akhir siklus II skor rata-rata yang diperoleh sebesar 83,81sehingga mengalami peningkatan sebesar 13,5 poin dari siklus I.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melalui media berita dengan metode latihan terbimbing dapat meningkatkan keterampilan
menulis cerpen siswa kelas IX F SMPN 1 Jiwan




PENDAHULUAN
Pembelajaran menulis merupakan salah satu pembelajaran yang memerlukan perhatian khusus baik oleh guru mata pelajaran atau pihak-pihak yang terkait dalam penyusunan kurikulum pembelajaran. Saat ini pembelajaran menulis lebih banyak disajikan dalam bentuk teori, tidak banyak melakukan praktik menulis. Hal ini menyebabkan kurangnya kebiasaan menulis siswa sehingga mereka sulit menuangkan ide mereka dalam bentuk tulisan.
Keterampilan menulis yang tidak diimbangi dengan praktik menjadi salah satu faktor kurang terampilnya siswa dalam menulis. Menyusun suatu gagasan, pendapat, dan pengalaman menjadi suatu rangkaian berbahasa tulis yang teratur, sistematis, dan logis bukan merupakan pekerjaan mudah, melainkan pekerjaan yang memerlukan latihan terus-menerus. Menurut Akhadiah (1988: 2), tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kemampuan menulis merupakan kemampuan yang kompleks, yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan.
Penyebab lain dari terbatasnya siswa dalam kemampuan menulis adalah guru kurang kreatif dalam memilih bahan ajar, metode, dan media pembelajaran. Permasalahan yang ada dari segi guru tidak terbatas dari hal itu saja. Pendekatan tradisional masih digunakan guru dalam pembelajaran menulis. Hal tersebut membuat siswa cenderung pasif dan merasa bosan dengan proses pembelajaran.
Keterampilan menulis cerpen ini bertujuan agar siswa dapat mengekspresikan gagasan, pendapat, dan pengalamnnya dalam bentuk sastra tertulis yang kreatif. Media pembelajaran dan metode pembelajaran sangat perlu dihadirkan untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa. Media dan metode diperlukan dalam pembelajaran menulis cerpen sebab antara keduanya saling mendukung. Salah satu media yang digunakan adalah media berita. Selain itu, metode yang digunakan dalam meningkatkan kemampuan keterampilan menulis cerpen adalah metode latihan terbimbing.
Penggunaan media berita diharapkan membuat siswa mudah dalam mengembangkan ide, gagasan, pikiran yang akan mereka tuangkan ke dalam sebuah tulisan dalam bentuk cerpen. Metode latihan terbimbing membantu siswa agar penulisan yang dilakuakan siswa dapat bimbingan secara intensif dan mendapatkan hasil yang maksimal.
Media berita merupakan media pembelajaran audio visual berupa gambar dan suara yang dapat dilihat dan didengar manusia .Djamarah (2010: 46) menyatakan bahwa, metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode digunakan guru sebagai strategi untuk membuat siswa menjadi lebih aktif, lebih semangat, lebih inovatif, dan mempermudah siswa dalam mengikuti pelajaran. Metode latihan terbimbing adalah suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu dengan memberikan bantuan yang terus menerus dan sistematis dengan memperhatikan potensi-potensi yang ada pada individu untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, diidentifikasikan masalah-masalah yang muncul sebagai berikut.
1.    Minat dan motivasi siswa dalam menulis masih kurang,
2.    Siswa cenderung kurang menyukai kegiatan menulis cerpen,
3.    Siswa kesulitan dalam menuangkan gagasan, pendapat, dan pengalamannya dalam sebuah kalimat yang baik dan menyusunnya dalam bentuk tulisan,
4.    Guru masih menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi pembelajaran menulis,
5.    Kurangnya media dengan metode dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen, khususnya media dengan metode yang dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen.

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan batasan masalah di atas, permasalahan yang akan diteliti ialah bagaimanakah cara meningkatan keterampilan menulis cerpen melalui media berita dengan metode latihan terbimbing pada siswa kelas IX F SMP Negeri 1 Jiwan?

TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen dengan menggunakan media berita dengan metode latihan terbimbing pada siswa kelas IX F SMP Negeri 1 Jiwan.

MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat secara praktis. Manfaat penelitian secara praktis adalah sebagai berikut.
1.    Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran dalam menciptakan suasana belajar mengajar sastra khususnya menulis cerpen secara bervariasi sehingga siswa tidak merasa bosan dalam mempelajari bahasa dan sastra Indonesia.
2.    Penggunaan media berita dapat memotivasi siswa dalam mengekspresikan dan mencurahkan segenap kemampuan dalam menulis cerpen. Metode latihan terbimbing diupayakan dapat membimbing siswa secara bertahap sehingga siswa dapat menulis cerpen secara teratur dan dapat dipantau oleh guru.

HIPOTESA TINDAKAN
Dalam penelitian ini, media berita sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia karena merupakan media yang sesuai untuk pendekatan keterampilan proses dalam menulis cerpen. Dengan demikian, dapat dirumuskan hipotesis tindakan kelas sebagai berikut: media berita dapat meningkatkan keterampilan menulis cerpen siswa kelas IX F SMP Negeri 1 Jiwan.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Menulis
Menulis atau juga disebut mengarang adalah sebuah metode yang terbaik untuk mengembangkan keterampilan di dalam menggunakan suatu bahasa (Hastuti, 1982: 1). Dengan menulis dapat menghasilkan karya sastra yang dapat dinikmati oleh semua orang. Selain itu, menulis juga dapat memperluas daya intelektual, kreativitas, dan daya imajinasi seseorang. Melalui tulisan seseorang dapat mencurahkan pandangan, pemikirannya tentang suatu masalah dari sudut pandang penulis sendiri dan pembaca dapat mengetahui pandangannya dan menikmati tulisan yang telah dihasilkannya.

Penegertian Media
Media pembelajaran menurut Sadiman (2002: 19), terdapat tiga jenis yaitu media grafis, media audio, media audio visual. Media grafis (termasuk media  visual yang dapat dilihat misalnya foto, bagan, poster, dan kartun), media audio (hanya dapat didengar misalnya radio dan rekaman), media audio visual (dapat dilihat dan didengar misalnya film bingkai, film rangkai, video, video klip, dan televisi). Dari ketiga jenis media pembelajaran tersebut secara keseluruhan dapat dikategorikan dalam media pembelajaran bahasa yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa. Salah satu media yang dapat digunakan untuk peningkatan keterampilan menulis cerpen adalah media berita yang terdapat di televisi.

Latihan Terbimbing
Metode latihan yang disebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, selain itu dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan (Djamarah, 2010: 95).
Arikunto (2008: 65) menyatakan bahwa bimbingan adalah bantuanbantuan atau tuntutan khusus yang diberikan kepada siswa dengan memperhatikan potensi-potensi yang ada pada siswa tersebut agar dapat berkembang semaksimal mungkin.

METODE PENELITIAN
Model penelitian yang digunakan adalah model yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri atas empat tahap sebagai berikut.
1.    Perencanaan adalah rencana tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen.
2.    Tindakan adalah pembelajaran macam apa yang akan dilakukan peneliti sebagai upaya peningkatan keterampilan menulis cerpen.
3.    Observasi atau pengamatan adalah pengamatan terhadap kinerja siswa selama proses pembelajaran dan pengamatan terhadap hasil kerja siswa.
4.    Refleksi adalah kegiatan mengkaji dan mempertimbangkan hasil pengamatan sehingga dapat dilakukan terhadap proses belajar selanjutnya.

RENCANA TINDAKAN
SIKLUS I
1. Perencanaan (planning)
Rencana tindakan yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a)    Peneliti bersama kolaborator (guru Bahasa dan Sastra Indonesia) menyamakan persepsi dan berdiskusi untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul berkaitan dengan pembelajaran menulis cerpen.
b)    Merancang pelaksanaan pemecahan masalah dalam pembelajaran dengan menggunakan dan memilih media dengan metode yang tepat.
c)    Mengadakan tes untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menulis cerpen, caranya adalah dengan memberikan tugas kepada siswa untuk menulis cerpen.
d)    Menyampaikan skenario pelaksanaan tindakan dan penyediaan sarana dan media yanag diperlukan dalam proses pembelajaran menulis cerpen seperti RPP, laptop, LCD, sound dan bahan serta peralatan lain yang diperlukan.
e)    Menyampaikan instrumen yang berupa angket, lembar pengamatan, lembar catatan lapangan, dan lembar penilaian.

2. Pelaksanaan Tindakan (acting)
Tahap tindakan yang dilakukan pada siklus pertama ini adalah sebagai berikut.
a)    Pertemuan pertama pembelajaran menulis cerpen dilakukan oleh guru dengan memberikan materi materi cerpen..
b)    Siswa diajak berkonsentrasi untuk melihat dan menyimak pemutaran berita bertemakan Narkoba .
c)    Sebelumnya guru menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyimak berita terkait dengan penugasan yang akan diberikan.
d)    Menyimak berita yang akan diputar, mengidentifikasi pokok-pokok isi berita tersebut dengan memperhatikkan tokoh, latar, dan peristiwa penting dalam kehidupan tokoh, menyusun sebuah kerangka berdasarkan pokok-pokok isi berita yang telah disimak, menulis sebuah cerpen berdasarkan kerangka yang telah dibuat dengan memperhatikkan penggunaan majas, penyusunan kata dan kalimat, dalam menulis siswa diperbolehkan berkreativitas menambahkan atau mengurangi peristiwa dan mengubah akhir cerita
e)    Siswa diberikan tugas untuk menceritakan kembali isi berita yang telah disimak dengan sudut pandang siswa sendiri dalam bentuk cerita pendek. Siswa diberikan kebebasan dalam menuangkan dan mengembangkan ide yang mereka dapatkan setelah menyimak berita.
f)     Dilakukan bimbingan secara berkala (bertahap) oleh guru untuk memperoleh hasil yang optimal.
Bimbingan secara optimal dilakukan denga menerapkan metode yang digunakan ialah metode latihan terbimbing. Pada saat pelajaran berlangsung, guru berkeliling kelas untuk mengetahui seberapa jauh siswa menulis cerpen dan adakah kesulitan yang dihapadi siswa selama menulis cerpen dan Dilakukan revisi atau perbaikan dan publikasi cerpen di depan kelas.

3. Pengamatan (obsreving)
Pada tahap ini, peneliti melakukan kegiatan pengamatan yakni mengamati hasil tindakan yang dilakukan bersama pengajar terhadap siswa. Pengamatan peneliti meliputi (a) proses tindakan, (b) pengaruh tindakan, (c) keadaan dan kendala tindakan, (d) bagaimana keadaan dan kendala tersebut menghambat atau mempermudah tindakan yang telah direncanakan dan pengaruhnya, dan (e) persoalan lain yang muncul selama dilakukan tindakan.

4. Refleksi (reflecting)
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengkaji ulang, mempertimbangkan hasil dari berbagai kriteria atau indikator keberhasilan.

SIKLUS II
1. Perencanaan (planning)
Perencanaan tindak yang dilakukan oleh peneliti dan kolaborator pada siklus II ini ialah menerapkan apa yang terlah didiskusikan pada saat refleksi anatara guru (kolaborator) dan peneliti. Rencana dalam tidakan yang akan dilakukan antara lain adalah sebagai berikut.
a)    Peneliti dan guru mempersiapkan materi denngan penyajian yang berbeda melalui power point.
b)    Guru lebih memperhatikkan siswa pada saat proses menulis cerpen.
c)    Media berita yang digunakan mengalami variasi dengan mengganti tema berita yang akan diputar.
d)    Mengadakan tes untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menulis cerpen, caranya adalah dengan memberikan tugas kepada siswa untuk menulis cerpen.
e)    Menyampaikan skenario pelaksanaan tindakan dan penyediaan sarana dan media yanag diperlukan dalam proses pembelajaran menulis cerpen seperti RPP, laptop, LCD, sound dan bahan serta peralatan lain yang diperlukan.
f)     Menyampaikan instrumen yang berupa angket, lembar pengamatan, lembar catatan lapangan, dan lembar penilaian.

2. Pelaksanaan Tindakan (acting)
Pada pembelajaran siklus II ini, lebih banyak diberikan cara mengatasi hambatan yang dihadapi siswa dalam siklus I. Kesulitan yang dihadapi siswa saat menulis cerpen misalnya dalam membangun karakter tokoh, menciptakan latar, penggunaan majas. Pada tindakan akhir siklus II, peneliti memberikan angket untuk memperoleh tanggapan tentang pembelajaran menulis cerpen.

3. Pemantauan atau Pengataman
Pengamatan dilakukan pada setiap kegiatan yang dilakukan. Kegiatankegiatan tersebut tercermin dalam lembar pengamatan dan catatan lapangan. Pada instrumen tersebut disebutkan kegiatan-kegiatan yang merupakan implementasi dari pengajaran dengan memanfaatkan media berita dengan metode latihan terbimbing. Kriteria keberhasilan pada siklus ini sama seperti pada pengajaran siklus I.

4. Refleksi
Refleksi dilakukan berdasarkan data yang masuk dan melalui diskusi bersama untuk membahas hasil yang diperoleh selama proses tindakan. Dari hasil penilaian dapat diketahui apakah siswa telah mampu mengatasi hambatan hambatan yang dihadapi sebelumnya. Apabila tujuan akhir yakni meningkatnya kemampuan menulis cerpen siswa tercapai, maka penelitian ini dapat dikatakan berhasil. Namun, jika masih ada nilai siswa yang jauh dari harapan maka perlu dilakukan perbaikan atas tindakan yang dilakukan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
SIKLUS I
Berdasarkan Hasil analisis data diperoleh hasil-hasil sebagai berikut, pada SIKLUS I dalam ketrampilan proses masih terdapat beberapa siswa kurang memperhatikan pelajaran. Aktivitas siswa pada awal tindakan pembelajaran cenderung pasif. Guru mampu dengan cukup baik menyampaikan materi, menguasai kelas, mengalokasikan waktu, menguasai media berita dengan metode latihan terbimbing, memberikan tugas, membimbing siswa, mengevaluasi hasil dan memantau siswa. Dalam Ketrampilan produk ,peningkatan terjadi pada hasil siklus I menulis cerpen dengan skor rata-rata 70,31 sedangkan nilai pada tes kemampuan awal hanya mencapai skor rata-rata 61,44. Hal tersebut menunjukkan telah terjadi peningkatan sebesar 8,87 poin.
Hasil Refleksi yang dilakukan , aspek penyajian dan organisasi kekurangan terjadi pada kriteria kepaduan unsur-unsur cerita dan kelogisan urutan cerita sedangkan aspek bahasa mencakup kriteria pilihan kata atau diksi, penyusunan kalimat, dan penggunaan majas. Berdasarkan permasalahan yang muncul di atas, yang paling menonjol, yaitu terletak pada kriteria kepaduan unsur-unsur cerita dan penggunaan majas.  Beberapa hal positif selama pelaksanaan siklus I adalah sebagai berikut.
1)    Pemahaman siswa akan materi menulis cerpen mengalami peningkatan.
2)    Tulisan siswa pada segi isi lebih baik dibanding tulisan pada pratindakan.
3)    Peran guru tidak terlalu dominan dalam pembelajaran.
4)    Siswa lebih antusias dan aktif mengikuti pembelajaran menulis cerpen.

SIKLUS II
Berdasarkan hasil penelitian siklus I tersebut, maka perlu diadakan tindakan pada siklus II. Modifikasi pembelajaran yang disusun berdasarkan hasil refleksi siklus I, diharapkan dapat memberikan hasil yang maksimal. Secara keseluruhan, perencanaan tindakan pada siklus I ini hampir sama dengan perencanaan tindakan siklus I yang meliputi hal-hal sebagai berikut.
1)    Persiapan materi yang akan ditayangkan di layar LCD guna mempermudah siswa dalam memahami materi dan membuat siswa dapat langsung bertanya kepada guru apabila ada materi yang belum mereka pahami.
2)    Penyiapan media yang akan digunakan, yaitu media berita yang telah divariasikan.
3)    Memastikkan guru telah lebih mengerti tentang metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen, yaitu metode latihan terbimbing.
4)    Penyiapan lembar tes yang digunakan oleh siswa untuk menulis cerpen.
5)    Penyiapan alat pengumpul data penelitian seperti catatan lapangan, format pengamatan, dan kamera.
6)    Penyiapan sarana prasarana yang diperlukanselama proses pembelajaran yaitu sound, laptop, dan LCD untuk memutar berita.
Selanjutnya berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil-hasil sebagai berikut, pada SIKLUS II kegiatan pembelajaran menulis cerpen pada siklus II ini dirasa lebih menyenangkan baik oleh siswa dan guru .Siswa dapat menghadirkan unsur-unsur cerpen seperti alur, tokoh, dan latar, sudut pandang, dan stilistika dengan baik.
 Keberhasilan produk dapat dilihat dari hasil menulis siswa, seperti yang terlihat pada tabel sebagai berikut

Tabel  Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Siswa Kelas IX F pada Tahap Siklus II

Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa skor rata-rata siswa secara keseluruhan adalah 83,81. Skor rata-rata tersebut menandakan adanya peningkatan sebesar 13,15poin dibandingkan skor rata-rata siklus I. Skor rata-rata tiap aspek juga mengalami peningkatan. Skor rata-rata yang diperoleh pada tahap pratindakan sebesar 61,44 sedangkan pada akhir tindakan siklus II mencapai skor rata-rata sebesar 83,81. Berdasarkan hasil skor rata-rata dari pratindakan ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 23,37 poin.
Selain dari segi hasil, refleksi juga ditinjau juga dari segi proses. Siswa sudah banyak mengalami peningkatan selama proses belajar mengajar berlangsung. Siswa menjadi lebih aktif dalam belajar, kelas semakin kondusif, dan semangat yang dimunculkan siswa saat menulis cerpen menjadikan siswa lebih antusias untuk menghasilkan cerpen yang bagus dan menarik. Media berita juga dapat diputar dengan baik sehingga semua siswa dapat menyimaknya. Selain itu, guru juga dapat menerapkan metode latihan terbimbing secara benar dan intensif, semua dilakukan lebih maksimal dari siklus I.
Hasil yang telah dicapai berdasarkan evaluasi subjek dalam siklus II menunjukkan adanya peningkatan keterampilan menulis cerpen. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan skor keterampilan menulis cerpen pratindakan, yaitu sebesar 61,44 dan skor rata-rata siswa pada siklus I, yaitu 70,31. Dengan demikian dapat dilihat adanya peningkatan skor rata-rata pratindakan ke siklus I sebesar 8,87. Skor rata-rata siswa pada siklus II sebesar 83,81, peningkatan skor dari siklus I ke siklus II sebesar 13,5. Jadi, dapat diketahui bahwa peningkatan skor hasil menulis cerpen pratindakan dengan siklus II adalah sebesar 22,37. Berdasarkan peningkatan skor tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis cerpen siswa dapat dikatakan meningkat.
Hasil wawancara dengan guru setelah tindakan siklu II menyatakan bahwa penggunaan media berita dengan metode latihan terbimbing dapat meningkatan keterampilan menulis cerpen. Hal itu ditunjukkan dengan meningkatnya nilai siswa dalam menulis cerpen, siswa dapat megembangkan ide sehingga menghasilkan cerita yang menarik, siswa juga dapat menulis cerpen dengan memadukan unsur-unsur intrinsik cerpen.
Berdasarkan hasil angket yang dibagikan, 12 siswa (37,5%) menjawab sangat setuju, 17 siswa (53,12%) menjawab setuju, 2 siswa (6,25%) menjawab kurang setuju, dan 1 siswa (3,13%) menjawab tidak setuju. Siswa menyatakan bahwa media berita dengan metode latihan terbimbing ini sangat meningkatkan keterampilan menulis cerpen. Pemanfaatan media berita dengan metode latihan terbimbing membuat siswa menjadi lebih mudah menuangkan ide atau gagasan dengan lancar. Selain itu juga siswa dapat mengetahui kekurangan yang ada pada tulisanya dengan cara siswa membacakan tulisan siswa di depan kelas kemudian mendiskusikan hasil cerpen setiap siswa.
Media berita dengan metode latihan terbimbing yang diterapkan dalam pembelajaran menulis cerpen dapat meningkatkan keterampilan menulis cerpen siswa.Hal ini menujukkan bahwa tujuan dilakukannya penelitian ini telah tercapai.
Oleh karena itu, media berita dengan metode latihan terbimbing sangat memungkinkan untuk digunakan dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen siswa kelas IX F SMPN 1 Jiwan .

KESIMPULAN DAN SARAN
Media berita dengan metode latihan terbimbing setelah diterapkan dalam proses pembelajaran menulis cerpen di kelas IX F SMPN 1 Jiwan. Hal tersebut dapat meningkatkan motivasi, antusias, rasa senang, dan rasa positif siswa dalam pembelajaran menulis cerpen. Siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran seperti bertanya kepada guru hal yang tidak diketahui, menjawab pertanyaan yang diberikan guru, dan berani mengungkapkan pendapat saat berdiskusi.
Keberhasilan penggunaan media berita dengan penerapan metode latihan terbimbing juga dapat dilihat pada peningkatan kualitas proses pembelajaran menulis cerpen. Secara keseluruhan penggunaan media berita dengan metode latihan terbimbing dalam menulis cerpen dapat meningkatkan keterampilan menulis cerpen. Hal tersebut dapat dilihat dari skor rata-rata tes menulis cerpen dari tahap pratindakan hingga akhir tindakan siklus II mengalami peningkatan yang cukup baik. Selain peningkatan skor rata-rata siswa juga terjadi pada skor setiap aspek cerpen, yaitu aspek isi, aspek penyajian dan organisasi, dan aspek bahasa.




DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, Sabarti. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Arikunto, Suharsimi dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto, Suharsimi. 2008. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media Diponegoro, Mohammad. 1994. Yuk, Nulis Cerpen Yuk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Djuraid, Husun. 2009. Panduan Menulis Berita. Malang: UMM Press.
Enre, Fahrudin. 1998. Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Jakarta: Depdikbud.
Hastuti, Sri. 1982. Tulis Menulis. Yogyakarta: Penerbit Lukman.
Isdriani, Pudji. 2009. Seribu Pena Bahasa Indonesia untuk Kelas SMP/MTS.n Kelas IX. Jakarta: Erlangga.
Madya, Suwarsih. 2006 . Panduan Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.
Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kulitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sadiman. 2002. Media Pengajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media. . 2009. Modul Menulis Fiksi. Yogyakarta. FBS UNY.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Sumardjo, Jacob. 2007. Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sudjana, Nana. 1996. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2002. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Menulis (Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa). Bandung: Angkasa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar