Minggu, 04 September 2016

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE LEARNING DENGAN METODE KUIS TEBAK-TEBAKAN UNTUK MENGATASI KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL FISIKA

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE LEARNING DENGAN METODE KUIS TEBAK-TEBAKAN UNTUK MENGATASI KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL FISIKA


Oleh : Aan Trianti
SMPN Satu Atap Gemarang Kab. Madiun


ABSTRAK
Kata kunci: Creative Learning, Permainan Kuis Tebak-tebakan, kesulitan siswa menyelesaikan sol-soal fisika
Penelitian bertujuan untuk mengetahui profil kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal fisika dan untuk mengidentifikasi profil kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal fisika. Metode dalam penelitian ini adalah Penellitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan model pembelajaran Cretive Learning dengan metode  permainan kuis tebak-tebakan pada mata pelajaran Usaha, Daya, dan Pesawat Sederhana di kelas VIII B SMP Negeri Satu Atap Gemarang.  Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode tes dalam bentuk soal uraian. Hasil tes tersebut digunakan untuk mengidentifikasi profil kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal fisika. Profil kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal fisika dikelompokkan menjadi tiga profil, yaitu kesulitan dalam pemahaman soal, kesulitan pemahaman konsep, dan kesulitan dalam memeriksa kembali jawaban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosentase pada siklus I kesulitan siswa dalam pemahaman soal sebesar 6,89%  menurun pada siklus II menjadi 3,45%, kesulitan dalam penguasaan konsep sebesar 53,45% menurun pada siklus II menjadi 39,66%, dan kesulitan dalam memeriksa kembali 39,66% menurun pada siklus II menjadi 31,03%. Penurunan persetase pada tiap profil kesulitan menunjukkan  bahwa penerapan model pembelajaran Creative Learning melalui permainan kuis tebak-tebakan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal fisika




PENDAHULUAN
Pada kakikatnya fisika merupakan cabang dari ilmu pengetahuan alam yang mempunyai peranan sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan belajar fisika, siswa dilatih agar dapat berfikir secara logis, sistematis, kritis, dan kreatif serta mampu bekerja sama dengan baik. Namun pada kenyataannya banyak dari siswa mengangggap bahwa fisika merupakan mata pelajaran yang sulit. Untuk itu diperlukan strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi siswa yang bervariasi agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar.
Faktanya, sistem pembelajaran disekolah belum mampu menciptakan sistem pembelajaran yang memungkinan siswa berfikir kritis, kreatif, dan bertanggungjawab. Kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru yang cenderung menggunakan metode pembelajaran ceramah, sehingga  menyebabkan siswa hanya bersikap pasif, duduk diam mendengarkan materi yang disajikan oleh guru, keadaan ini mengakibatkan siswa berada pada tataran berfikir tingkat rendah dan tidak memiliki kemampuan memecahkan masalah secara nyata. Kegiatan pembelajaran yang tidak efektif  dapat  menimbulkan beberapa  permasalahan atau kesulitan pada saat siswa mengerjakan soal. Profil kesulitan yang dimaksud antara lain kesulitan dalam memahami soal, kesulitan memahami konsep, kesulitan dalam keterampilan matematis dan kesulitan memeriksa kembali jawaban.
Polya (Waylatul Murtafiah, 2009) menyatakan kesulitan memahami soal adalah suatu persoalan yang diajukan yang tidak dikenali siswa. Peserta didik dikatakan mengetahui masalah bila ia mengetahui: a) Apa yang dibuktikan/ditayakan b) Apa data yang diketahui c) Bagaimana syarat-syaratnya?  Penguasaan konsep adalah pengalaman atau pengetahuan yang diperoleh seorang anakyang tergabung dalam suatu struktur secara skema konseptual yang mencerminkan keseluruhan ranah kognitif yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, evaluasi di bidang fisika selama mengikuti proses belajar (Mufid Masruroh, 2009)
Mufid Masruroh (2009) menyatakan kesulitan keterampilan matematika adalah kesulitan dalam menggunakan prosedur atau operasi matematika yang tepat dan benar. Sedangkan Kesulitan memeriksa kembali adalah kesulitan siswa dalam membuktikan jawaban yang diperoleh, atau kesulitan dalam memeriksa jawaban dimana aturan-aturan yang digunakan sudah benar atau belum (Mufid Masruroh, 2009)
Permasalahan atau kesulitan dalam proses belajar mengajar tersebut juga terjadi di SMP Negeri satu Atap Gemarang, dimana permasalahan tersebut menyebabkan nilai rata-rata pelajaran fisika kelas VIII B hanya mencapai nilai 72. Nilai tersebut tidak memenuhi SKBM SMPN Satu Atap gemarang sebesar 75. Berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa-siswi dan hasil refleksi guru bidang studi teridentifikasi beberapa permasalahan yaitu : a) masih banyak siswa yang kesulitan mengerjakan soal fisika karena menganggap pelajaran fisika sulit untuk dipahami, b) selama proses pembelajaran siswa hanya diam mendengarkan dan mencatat materi yang disampaikan guru sehingga kreativitas siswa kurang, dan proses pembelajaran masih berpusat pada guru sehinngga siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran. Sebagai solusi permasalahan tersebut maka diperlukan sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berfikir kritis, kreatif, bertanggung jawab serta dapat memotivasi siswa agar lebih aktif selama proses pembelajaran.   
Model Pembelajaran Creative Learning (Pembelajaran Kreatif) dapat diterapkan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran fisika. Model pembelajaran ini bertujuan meningkatkan kreatifitas guru untuk menemukan model ataupun metode pembelajaran yang efektif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan meminimalisir kesulitan atau permasalahan yang dihadapi siswa saat mengerjakan soal fisika. Yeni Rachmawati (2010) menyatakan kreatifitas merupakan suatu proses mental yang dilakukan individu berupa gagasan ataupun produk baru, atau mengombinasikan antara keduanya yang pada akhirnya akan melekat pada dirinya. Langkah-langkah model pembelajaran Creative Learning menurut Sri Narwati (2011) yaitu, pahami apa kretifitas itu, Proklamasi: saya guru kreatif, Lakukan kreatifitas, pupuklah kretifitas, Kembangkan otak kanan, Pahami dan hargai multiple intellegences, kreatif menanamkan nilai-nilai, Bangkitkan semangat, dan kembang­kan kompetensi.
Model pembelajaran Creative Learning dilaksanakan dengan menerapkan Metode. permainan kuis tebak-tebakan. Ma’mur Asmani (2011) permainan kuis tebak-tebakan adalah sejenis permainan yang diadopsi dari gabungan permainan tebak kata dan kotak kartu misteri (kokami). Permainan ini dapat digunakan pada materi teori maupun maematis. Media yag diperlukan pada permainan ini adalah pertanyaan kuis, kotak, amplop, kartu berisi soal, bonus, instruksi, sanksi dan pengurangan nilai. Contoh soal kuis tebakan: Apakah aku, aku merupakan alat sederhana, aku digunakan untuk mempermudah pekerjaan...jawaban: Pesawat sederhana. Contoh isi kokami (kotak kartu Misteri) berupa bonus poin sbb:
YES !!!
BONUS 2 POINT

 






SEPUNTENE MAS BRO...!!!
POIN PEAN KULO PENDET 10
Sedangkan contoh kokami berupa pengurangan poin sbb:





Kartu kokami dibuat semenarik mungkin sehingga siswa menjadi semangat untuk mengikuti permainan. Isi kokami yang beragam menyebabkan kelompok yang bernilai tinggi tidak selalu mendapatkan nilai akhir yang tinggi,  tergantung dari kartu kokami yang diambil. Jika kartu yang diambil berupa pengurangan poin maka secara otomatis nilai kelompok tersebut langsung dikurangi sebanyak skor yang tertera dalam kartu tersebut. Metode pembelajaran ini disukai oleh siswa karena terasa menyenangkan saat dilaksanakan.
Berdasarkan hasil  identifikasi masalah, latar belakang masalah serta penjelasan sistem pembelajaran yang digunakan, diperoleh rumusan masalah yaitu: a). Bagaimana cara mengidenti­fikasi kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal fisika, b). Apakah penerapan model pembelajaran Creative Learning dengan metode permainan kuis tebak-tebakan dapat memudahkan siswa mengerjakan soal fisika pada kelas VIII B SMP Negeri Satu atap gemarang. Adapun rencana pemecahan masalah yang dilakukanyaitu: a). Penyusunan silabus dan RPP yang memuat desain pembelajaran kretif atau Creative Learning, b) pelaksanaan kegiatan pembelajaran sesuai RPP, antara lain pembentukan kelompok, penerapan model pembelajaran, pelaksanaan soal kuis, c) Melakukan observasi pada saat pembelajaran berlangsung, d) melakukan refleksi setelah pembelajaran
Penelitian bertujuan untuk mengetahui cara mengidentifikasi kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal fisika dan untuk mengetahui seberapa besar model pembelajaran Creative Learning melalui permainan kuis tebak-tebakan dapat membantu siswa mengerjakan soal fisika.
Kegunaan Penelitian ini ditujukkan untuk beberapa pihak yaitu bagi guru agar lebih termotivasi untuk kreatif dan inovatif dalam menerapkan strategi pembelajaran yang lebih bervariasi sehingga proses pembelajara akan terasa menarik dan menyenangkan. Bagi siswa dengan menggunakan permainan kuis tebak-tebakan dapat memudahkan dalam mengerjakan soal fisikamserta dapat meningkatkan kretifitas berpikir siswa, sehingga siswa lebih kritis menanggapi suatu pesoalan. Bagi Sekolah dapat digunakan sebagai masukan dan bahan pertimbangan untuk meningkatkan keberhasilan proses belajar mengajar, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
Penelitian ini menggunakan tiga jenis variabel yaitu variabel idependen, variabel dependen, dan variabel kontrol. Variabel independen dari penelitian ini adalah menggunakan media pembelajaran berbasis permainan. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kemampuan menyelesaikan soal fisika. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah materi pelajaran, siswa, dan tempat yang sama

METODE
Penelitian dirancang dengan metode penelitian tindakan kelas yang direncanakan secara khusus untuk mengatasi permasalahan belajar siswa, yang di sebabkan oleh faktor-faktor kesulitan dalam mengerjakan soal fisika. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII B SMP N Satu atap Gemarang. Penelitian Tindakan Kelas akan dilaksanakan selama 2 siklus dengan masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi (Arikunto dkk, 2007). Tahapan masing-masing siklus yang akan ditempuh sebagai berikut.
Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam perencanaan: a)menyusun perangkat pembelajaran yang berupa silabus dan RPP, b) Menyiapkan soal kuis tebak-tebakan dan kunci jawaban, c) Menyediakan media kokami dan kunci jawaban, d) Menyiapkan instrumen penilaian yang berupa tes uraian beserta kunci jawaban, e) menyiapkan lembar observasi guru dan siswa.
Pelaksanaan tindakan Kelas dalam proses pembelajaran akan dilaksanakan sebanyak 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan dengan materi pembelajaran Usaha dan Daya serta Pesawat sederhana. Proses pembelajaran dilaksanakan sesuai RPP  dengan menerapkan model pembelajaran Creative Learning dengan metode permainan kuis tebak-tebakan. Tahap kegiatan yang terdapat dalam RPP   meliputi tahap pendahuluan, inti, dan penutup.
Tahapan pelaksanaan pembelajaran model Creative Learning dengan metode permainan kuis tebak-tebakan meliputi: a) Pembentukan kelompok dan ketua kelompok, b) guru memberikan Ilustrasi pertanyaan, c) ketua kelompok mewakili anggota menjawab pertanyaan, d) kelompok yang jawabannya benar mendapat skor dan berhak mengambil kartu pada kokami, e) Anggota kelompok bertugas menyelesaikan soal pada kartu kokami.
Proses observasi untuk mengumpulkan data penelitian dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Kegiatan meng­observasi dilakukan oleh satu orang observer, untuk mengumpulkan data yang terdiri dari: Tahap persiapan guru dan siswa, ketersediaan media, pelaksanaan pembelajaran model creative learning, Aktifitas siswa selama proses pembelajaran, pengelolaan waktu, serta suasana kelas selama proses.
Kegiatan terakhir yang akan dilakukan meliputi; a) menganalisis temuan saat melakukan observasi (kelemahan dan keberhasilan guru dan siswa)  b) melakukan identifikasi profil kesulitan siswa dari hasil tes tiap siklus c) melakukan refleksi terhadap ketercapaian tujuan penelitian

HASIL PENELITIAN
Data penelitian profil kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal fisika diperoleh dengan cara menganalisis atau mengidentifikasi hasil tes belajar siswa per butir soal. Setelah proses identifikasi kemudian proses pengelompo­k­an profil kesulitan siswa dengan cara memberikan poin pada tabel data banyaknya jenis kesulitan siswa sesuai dengan kesulitan yang dialami siswa. Indentifikasi yang dilakukan menunjukkan bahwa saat mengerjakan soal fisika siswa mengalami 3 kesulitan yaitu kesulitan dalam pemahaman soal, kesulitan pemahaman konsep dan memeriksa kembali. Hasil identi­fi­kasi profil kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal fisika disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Data banyaknya Jenis kesulitan Siswa siklus I dan siklus II
Nama
Siklus I
Siklus II
PS
PK
MK
PS
PK
MK
Agung  S
-
2
1
-
1
2
Amin
-
2
2
-
1
-
Angga
-
2
1
-
1
2
Anik P
-
2
1
-
1
1
Bambang
-
1
2
-
2
-
Bayu W
-
2
1
-
1
-
Darmin
1
1
2
-
1
2
Efendi
-
3
-
-
1
2
Fendy P
-
2
2
-
1
1
Jiwo Susilo
1
2
-
-
2
-
Mariyam
1
-
1
-
1
1
Mukarom
1
1
2
1
2
-
Riyan F
-
1
1
-
1
2
Robika S. H
-
2
1
-
1
1
Siti Mifta. U
-
1
1
-
1
-
Sulida
-
2
1
-
2
1
Suwandi
-
1
2
1
-
-
Wibowo
-
1
-
-
-
1
Yudi S
-
1
2
-
1
2
Titah D. P
-
2
-
-
2
-
Jumlah
4
31
23
2
23
18
(PS= Pemahaman soal, PK= Pemahaman Konsep, MK= Memeriksa Kembali)

Prosentase penurunan profil kesulitan siswa  dalam mengerjakan soal fisika pada siklus I dan siklus II disajikan dalam gambar 1.
Gambar 1. Prosentase profil kesulitan siswa  pada siklus I dan siklus II

Penurunan profil kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal fisika pada siklus I ke siklus II menyebabkan nilai hasil tes ranah kognitif siklus II lebih baik dari siklus I.
Selain Data profil kesulitan siswa dalam mengerjakan soal fisika juga akan disajikan nilai hasil ranah kognitif siswa. Nilai hasil belajar siswa disajikan pada tabel 2.

Tabel 2. Rekap Nilai hasil Belajar siswa pada siklus I dan siklus II
Kriteria
Nilai Siklus I
Nilai Siklus II
Jumlah
1475
1580
Nilai Tertinggi
90
95
Nilai Terendah
60
75
Rata-rata
73,75
79
           
Dalam rangka mengetahui efektifitas model pembelajaran maka dilakukan observasi kegiatan pembelajaran guru dan siswa yang dilakukan oleh observer. Hasil observasi kegiatan siklus I dan siklus II disajikan pada tabel 3.

Tabel 3. Perbandingan  hasil pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dan II
Uraian
Siklus I
Siklus II
Jumlah Skor
36
41
Persentase (%)
75
85,4

Permasalahan profil kesulitan yang dialami siswa dalam mengerjakan soal fisika yang diatasi melalui penelitian ini sudah sesuai  harapan. Meskipun persentase penurunannya tidak terlalu besar.

PEMBAHASAN
Berdasarkan tabel  1 terjadi penurunan profil kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal fisika pada siklus I  ke  siklus II. Hal ini dikarenakan pada siklus II siswa telah memahami sistem pembelajaran yang digunakan. Kerjasama anggota kelompok terjalin dengan baik. Keinginan mendapatkan skor   yang lebih baik selama proses pembelajaran  memotivasi siswa untuk belajar lebih tekun, mulai dari belajar materi kemudian memahami konsep maupun rumus matematisnya. Pengelompokan profil kesulitan siswa pada tabel 1 dilakukan dengan cara menganalisis jawaban siswa per butir soal. Proses analisis tersebut dapat dicontohkan sebagai berikut:
Soal no 4 siklus I: Rian sedang menarik sebuah balok dengan usaha sebesar 450 joule selama 3 menit. Berapakah daya yang dikeluarkan Rian?

Jawaban yang diharapkan:
Diketahui         =    Wr = 450 Joule
        t    =3 menit    =  180 sekon
Ditanya            =    P...?
Jawab              =
                               P  =  Wr / t
 P  = 450 Joule / 180 s
     = 2,5 Watt

Ragam Jawaban siswa:
a.     siswa dengan no absen 7 tidak memberikan jawabanmaka dalam hal ini siswa mengalami kesulitan dalam pemahaman soal
b.    Siswa dengan nomor absen 1 tidak menuliskan rumus daya tetapi hasil jawaban siswa benar maka dalam hal ini siswa mengalami kesulitan dalam memeriksa kembali
c.     Siswa dengan no absen 3 hanya menuliskan diketahui dan ditanya saja dalam hal ini siswa mengalami kesulitan pemahaman konsep
Dengan cara menganalisis seperti contoh diatas maka profil kesulitan masing-masing siswa dapat diketahui.
            Selama proses pembelajaran pada siklus I siswa mendapatkan beberapa pemahaman. Pemahaman dalam proses pembelajaran berupa aturan atau tata cara permainan maupun kisi-kisi soal. Kejelian siswa selama proses pembelajaran siklus I inilah yang akhirnya membuat siswa dapat mengetahui bagaimana cara pembuatan soal. Bahwasanya kisi-kisi soal yang digunakan untuk membuat soal kuis tebak-tebakan, soal kartu kokami, dan soal tes tiap siklus adalah sama hanya tingkat kesukaran soal berbeda. Kisi-kisi yang digunakan harus sesuai dengan Indikator pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Persen­tase penurunan profil kesulitan siswa tidak terlalu besar, tetapi telah memenuhi harapan. Selisih profil kesulitan siswa disajikan pada tabel 4.

Tabel 4. Selisih persentase profil kesulitan siswa pada siklus I dan siklus II
Profil kesulitan
Siklus I
Siklus II
selisih
PS
6,89%
3,45%
3,44%
PK
53,45%
39,66%
13,79%
MK
39,66%
31,03%
8,63%

Penurunan profil kesulitan siswa yang menjadi tujuan utama dari penelitian ini telah sesuai harapan, selain itu dengan adanya penurunan kesulitan maka semakin banyak siswa yang dapat mengerjakan soal tes sehingga nilai hasil tes ranah kognitif mereka meningkat. Peningkatan hasil belajar siswa yang disajikan dalam tabel 2 menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran creative learning efektif untuk meminimalisir kesulitan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Nilai rata-rata siswa pada siklus II sebesar 79 telah memenuhi target pencapaian sebesar 75 nilai  ini sesuai SKBM SMPN Satu Atap Gemarang.
Produk penelitian ini juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah siswa yang lulus dengan nilai melebihi target pencapaian. Perbandingan jumlah siswa yang lulus pada siklus I dan siklus II dirangkum pada tabel 5.

Tabel 5. Perbandingan jumlah siswa yang tuntas pada siklus I dan II
Uraian
Siklus I
Siklus II
Pening­­katan
Jumlah siswa yang tuntas
13
19
6
Jumlah siswa yang tidak tuntas
7
1
6

Selain profil kesulitan dan hasil tes ranah kognitif dalam penelitian ini juga dilaksanakan kegiatan observasi belajar mengajar. Kegiatan observasi ini digunakan untuk mengetahui efektifitas model pembelajaran selama proses pembelajaran. Aspek yang dinilai meliputi kinerja guru, kinerja atau aktifitas siswa, ketersediaan media suasana kelas, dan penegelolaan waktu. Dari Observasi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I menunjukkan masih adanya kelemahan.
Berbagai kelemahan pada siklus I, dijadikan bahan perbaikan dalam penelitian ini agar tujuan penelitian dapat tercapai. Kelemahan kualitas pembelajaran pada siklus I meliputi: 1) guru hanya memberi salam saat membuka pelajaran 2) penyaimpaian indikator pembelajar­an belum optimal 3) Tidak memberikan pertanyaan motivasi 4) Anggota kelompok lebih dari lima 5) Penyaimpaian informasi pembelajaran kurang 6) tidak memberikan tugas 7) lebih dari 5 siswa ramai. Kelemahan tersebut diperoleh karena pelaksanaan pembelajaran kurang sesuai dengan RPP yang di buat oleh guru. Beberapa kegiatan untuk perbaikan siklus II meliputi:  melaksanakan kegiatan sesuai RPP, pembentukan kelompok dengan anggota maksimal 4 siswa, meberikan informasi pembelajaran yang benar,  serta lebih  tegas dalam mengontrol siswa.
Capaian siklus II ternyata lebih dapat dioptimalkan dengan usaha perbaikan yang telah ditetapkan melalui kegiatan refleksi oleh peneliti dan observer. Antusiasme dan peran aktif siswa lebih baik, dikarenakan pengalaman siklus I telah dijadikan pelajaran berharga sebagai bahan perbaikan siklus II. Kesadaran anggota kelompok  akan tanggung jawabnya serta kecermatan siswa dalam menyelesaikan soal kuis dan kokami dapat mengefektifkan waktu diskusi di kelas pada siklus II. Siswa yang ramai berkurang, pembelajaran berjalan sesuai harapan peneliti. Prosentase kulitas pembelajaran pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 10,4% dari siklus I
Dengan demikian model pembelajaran Creative Learning dengan metode permainan kuis tebak-tebakandapat mengatasi kesulitan belajar siswa dalam mengerjakan soal fisika pada khususnya serta dapat meningkatkan hasil belajar serta kualitas pelaksanaan pembelajaran.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian disimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Dengan Metode Permainan Kuis Tebak-Tebakan Untuk Mengatasi Mesulitan Siswa Menyelesaikan soal Fisika Kelas VIII B SMPN Satu atap Gemarang dapat mengatasi / mengurangi kesulitan siswa dalam menyelesai­kan soal fisika. Kesulitan dalam pemahaman soal sebesar 6,89% pada siklus Imenurun menjadi 3,45% pada siklus II. Kesulitan dalam penguasaan konsep sebesar 53,45% pada siklus I menurun menjadi 39,66% pada siklus II. Kesulitan dalam Memeriksa kembali sebesar 39,66% menurun menjadi 31,03%.

SARAN
Saran yang dapat diberikan demi perbaikan penelitian yang berupaya mengatasi kesulitan pada siswa yaitu Peneliti lanjutan harus bersikap tegaspada siswa yang ramai agar tidak mengganggu proses pembelajaran. Bagi guru Model pembelajaran Creative Learning dengan metode permainan kuis tebak-tebakan bisa dijadikan alternatif pada kegiatan pembelajaran fisika karena dengan model dan metode ini dapt mengatasi kesulitan siswa dalam mengerjakan soal-soal fisika.





DAFTAR PUSTAKA
Abin Syamsuddin Makmun. 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Awal_lia. 2008. Pelajaran Dengan Permainan Kokami. (Online), (http://cephy-net.blogspot.com/2008/12/pelajaran-dengan-permainan-kokami.html, Diunduh 25 Juli 2012).
Baharudin dan Esa N.W. 2007. Teori Belajar & Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Bambang Budi Wiyono. 2009. Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang.
Bambang Murdaka. 2008. Fisika Dasar Untuk Mahasiswa Eksakta dan Teknik. Yogyakarta: Andi Offset.
Bennett, Neville. 2005. Teaching Through Play. Jakarta: PT Grasindo Anggota    Ikapi.
Budi Susetyo.2010. Statistika Untuk Analisis Data Penelitian. Bandung: PT Refika Aditama.
Eri Sarimanah. 2009. Mengukur Hasil Belajar . (Online), (http://catur.dosen.akprind.ac.id/category/expertise/, Diunduh 25 Juli 2012.
IKIP PGRI Madiun. 2012. Pedoman Penulisan Skripsi. Madiun: Pusat penerbitan Kampus.
Jamal Ma’mur Asmani. 2011. 7 Tips Aplikasi PAKEM. Jogjakarta:Diva Press.
Mufid Masruroh. 2009. Remidiasi Pembelajaran Fisika Dengan Menggunakan Metode QuestionsStudents Have Untuk Mengatasi Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal-Soal Fisika. Skripsi tidak diterbitkan. Madiun: Fakultas Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam IKIP PGRI Madiun.
Oemar Hamalik. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
R. Bekti Kiswardianta. 2005. Inovasi dan Kreatifitas guru. Jurnal Pendidikan, 11 (2): 153.
Reni Akbar-Hawadi. 2004. Akselerasi A-Z Informasi Program Percepatan Belajar dan Anak Berbakat Intelektual. Jakarta : PT Grasindo.
Saeful Karim, dkk. 2008. Belajar IPA Membuka Cakrawala Alam Sekitar 2 Untuk Kelas VIII SMP. Jakarta: Setia Purna Inves.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sri Narwanti. 2011. Creative Learning. Yogyakarta: Familia Pustaka keluarga.
Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.


Suharsini Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Suharsimi Arikunto, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Suharsimi Arikunto, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Sumardi. 2011. Ranah Penilaian Kognitif, Afektif, Dan Psikomotorik, (online), (http://sumardi28.blogspot.com/2011/01/ranah-penilaian-kognitif-afektif-dan.html, Diunduh 25 Juli 2012).
Utami Munandar. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Wailatul Murtafiah. 2009. Profil Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah Kontekstual Matematika di SMP Negeri 1 Madiun. Jurnal Pendidikan MIPA, 1 (2): 103-104.
Yeni Rachmawati. 2010.Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak. Jakarta: Prenada Media Group.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar