Minggu, 04 September 2016

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATERI PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF PROBLEM POSING SISWA KELAS VII-B SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SMP NEGERI 1 JIWAN KABUPATEN MADIUN

MENINGKATKAN  PRESTASI  BELAJAR MATERI PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF  PROBLEM POSING SISWA KELAS VII-B SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SMP NEGERI 1 JIWAN KABUPATEN MADIUN

Oleh : CAHYO WIBOWO
SMP NEGERI 1 JIWAN KABUPATEN MADIUN

abstrak

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, Problem Possing, Hasil Belajar

Peran guru dalam pembelajaran di kelas bukan hanya mengkomunikasikan pengetahuan tetapi juga membantu siswa agar mampu memahami konsep – konsep dn dapat menerapkan konsep yang dipahami serta mendorong terjadinya aktivitas salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajran adalah ketepatan guru dalam memilih dan menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi atau bahan ajar dan situasi kelas, untuk itu maka diimplementasikan pendekatan pembelajaran kooperatif tipe Problem Posing. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :  (1) Bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif tipe Problem Posing pada mata pelajaran IPS  kelas VII-B SMP Negeri 1 Jiwan ?, (2) Apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe Problem Posing dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi  belajar siswa di kelas VII-B SMP Negeri 1 Jiwan? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe pada mata pelajaran IPS  kelas VII-B SMP Negeri 1 Jiwan, (2) Peningkatan hasil belajar  IPS   di kelas VII-B SMP Negeri 1 Jiwan.
            Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan dilakukan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK dilaksanakan dalam 2 siklus, tiap siklus terdiri dari empat tahapan kegiatan yaitu, Perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan : (1) Penerapan pembelajaran  kooperatif tipe Problem Posing dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS  pada kelas VII-B SMP Negeri 1 Jiwan, (2) Penerapan pembelajaran kooperatif tipe Problem Pasing pada mata pelajaran IPS  kelas VII-B SMP Negeri 1 Jiwan telah terlaksana sesuai dengan sintaks langkah – langkah yang telah direncanakan, (3) Adanya peningkatan hasil belajar dan pemahaman siswa terhadap materi IPS  sebagai dampak dari peningkatan aktifitas siswa dalam pembelajaran dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe problem posing, (4) Penerapan pembelajaran kooperatif tipe problem posing pada mata pembelajaran  IPS  menumbuuhkan rasa senang pada siswa.Saran bagi rekan - rekan guru yang tertarik untuk menerapkan pembelajaran kooperatif tipr problem possing adalah sebagai berikut : (1) jika pembelajaran direncanakan dalam bentuk kelompok, hendaknya susunan kelompok telah diseting terlebih dahulu agar tidak memerlukan banyak waktu, (2) diupayakan agar siswa sudah mempelajari atau memahami materi pelajaran sebelum pelaksanaan pembelajaran agar penyusunan soal berhasil lebih baik, (3) dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran dan meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran, pendekatan kooperatif tipe problem posing dapat dijadikan salah satu solusinya.




PENDAHULUAN
Dari hasil pengamatan pada saat pelaksanaan pembelajaran IPS pada kelas VII-B dengan jumlah siswa sebanyak 22 siswa, tampak bahwa aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS masih kurang. Terutama aktivitas dalam mengajukan pertanyaan, menjawab pertannyaan, maupun memberikan tanggapan terhadap pertanyaan. Terlihat jelas pada saat guru memberikan kesempatan untuk bertanya secara lisan, hannya 2 orang siswa yang mengacungkan jarinya. Pada saat mereka diberi kesempatan untuk menyampaikan pertanyaannya, ternyata cara mengemukakan pertanyaan tidak jelas arah maupun apa yang ditanyakan, sehingga sempat menjadi bahan olok-olokan teman sekelasnya. Ketika guru menyampaikan pertanyaan kepada siswa yang lain untuk minta pendapatnya atau tanggapan tidak ada siswa yang angkat tangan, mereka baru menjawab setelah ditunjuk oleh guru. Jawaban yang diberikan juga kurang tepat dan tidak mengenai sasaran yang ditanyakan. Mereka juga kurang begitu respek untuk memberikan tanggapan terhadap jawaban dari siswa yang lain.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut maka peneliti mencoba merangsang suatu tindakan alternatif untuk mengatasi masalah yang ada berupa penerapan pembelajaran kooperatif tipe problem posing yang lebih mengutamakan kreativitas siswa dan memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan potensinya secara maksimal dan meningkatkan ketrampilan – ketrampilan sosial siswa, seperti kepekaan sosial, komunikasi sosial, dan partisipasi serta tanggung jawab sosial.  Keberhasilan siswa dalam belajar salah satunya ditentukan oleh strategi atau pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran, termasuk dalam pembelajaran IPS. Sebagai upaya meningkatkan mutu pembelajaran IPS diperlukan pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa.
Proses belajar mengajar atau pembelejaran harus dirancang sedemikian rupa oleh guru sehingga siswa dapat terlibat secara aktif baik mental amupun fisiknya dalam belajar IPS seperti yang dinyatakan oleh Hudoyo (2002) agar siswa dan guru dapat berinteraksi, perlu suatu model pembelajaran yang merupakan rangkaian pembelajaran pada masalah sehingga siswa dapat mempresentasikan pengetahuan konseptual dan proseduralnya dalam mengajukan masalah dan kemudian menyelesaikannya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sutiarso  (1999) bahwa prestasi belajar yang diperoleh kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan problem posing lebih baik daripada pendekatan sebagaimana biasa (konvensional). Sikap siswa selama mengikuti pembelajaran menunjukkan dampak positif,lebih aktif dan semangat membuat pertanyaan sekaligus mampu memberikan jawabannya.
Dari hasil penelitian terdahulu memberikan gambaran bahwa problem posing merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang mempunyai beberapa kelebihan, seperti menurut English dalam Siswoyo (1999) menyebutkan bahwa : (1) siswa senang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan problem posing dan ingin tahu lebih bannyak tentang materi yang dipelajari, (2) mengerjakan soal yang dibuat sendiri lebih menyenangkan, dan (3) mengajukan soal dapat mendorong siswa lebih banyak membaca materi pelajaran.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti akan melakukan penelitian Tindakan Kelas dengan judul “Meningkatkan  Prestasi  Belajar Materi Perubahan Sosial Budaya Dengan Pembelajaran Kooperatif Problem Posing Siswa  Kelas VII-B Semester Gasal Tahun Pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 1 Jiwan Kabupaten Madiun.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yaitu suatu bentuk kajian reflektif oleh peneliti untuk meningkatkan kemampuan rasional tindakannya dalam melakssanakan tugas. Di samping itu juga untuk memperdalam pemahaman atas tindakan dalam memperbaiki kondisi pelaksanaan dalam praktik pembelajaran di kelas.
Dalam PTK ini diimplementasikan pembelajaran kooperatif tipe problem posing sebagai tindakan karena dijumpai permasalahan kurang aktifnya siswa dalam pembelajaran di kelas. Sebagai acuan dalam pelaksanaan PTK digunakan alur PTK model Kemmis dan Taggart (dalam Kasbulah, 1999). Model ini merupakan rangkaian tindakan perbaikan kelas melalui siklus-siklus, tiap siklus terdiri atas 4 (empat) tahapan tindakan yaitu : tahap perncanaan (planning), pelaksanaan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (refleksition). Refleksi terhadap pemberian tindakan pada siklus pertama dijadikan acuan dalam merencanakan tindakan pada siklus II. Berikut ini gambar alur pelaksanaan tidakan dalam PTK :








PTK model Kemmis dan Taggart (dalam Kasbulah, 1999)











Penjelasan alur di atas adalah:
1.       Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
2.       Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model demonstrasi.
3.       Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
4.       Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaisistem pengajaran yang telah dilaksanakan.

Metode Pengumpulan Data
Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan metode pembelajaran kooperatif model demonstrasi, observasi aktivitas siswa dan guru angket motivasi siswa, dan tes formatif
Data yang diperoleh dari observer dan guru  kemudian di analisis. Apabila dari refleksi siklus 1 tidak memenuhi indicator keberhasilan atau dapat dikatakan tujuan penelitian belum tercapai maka pembelajaran dilanjutkan pada siklus dua.  Kegiatan analisis data ini di dilakukan pada siklus 1, siklus 2  dan seterusnya samapai memenuhi indicator keberhasilan atau samapai tujuan penelitian tercapai.

HASIL PENELITIAN
Pengamatan atau observasi pada siklus I dan II dilaksanakan selama kegiatan pembelajaran atau pelaksanaan tindakan berlangsung. Peneliti dibantu oleh dua orang teman sejawat atau guru mitra, dengan menggunakan blanko observasi yang telah disediakan dan catatan-catatan selama pelaksanaan tindakan. Secara ringkas data hasil observasi pada siklus I dan II adalah sebagai berikut :




Tabel 4.6. Aktivitas Siswa Siklus I dan Siklus II
NO
ASPEK
AMATAN
SIKLUS I
SIKLUS II
FREKUENSI
%
FREKUENSI
%
1
Bertanya
3
13,64
5
22,73
2
Menjawab
7
31,82
14
63,64
3
Menanggapi
13
59,09
18
81,82
4
Presentasi
2
50
4
100

Tabel 4.7. Hasil Belajar dan Pemahaman siswa Siklus I dan siklus II
NO
ASPEK AMATAN
SIKLUS I
SIKLUS II
PENINGKATAN
1
Hasil Belajar (pos tes)
77.73
81.82
4,09
2
Kertas Kerja
68,18
86,36
16,19
Tabel 4.8 Kerjasama Dalam Kelompok Siklus I dan Siklus II
NO
Aspek Amatan
Siklus I
Siklus II
Ket
BS
B
C
K
BS
B
C
K
1
Kekompakan

2
2
-
2
2
-
-
Jumlah
Kelompok
Ada 4
2
Keaktifan

1
2
1
2
2
-
-
3
Konsentrasi
1
1
1
1
2
1
1

Tabel 4.9. Kategori Pertanyaan Siswa
No
Kategori
Siklus I (%)
Siklus II  (%)
1
C 1
77,17
27.27
2
C 2
22.73
45,45
3
C 3

22,73

Tabel 4.10. Pendapat Siswa Tentang Pembelajaran


Frekuensi
%
Frekuensi
%
1
Merasa senang
15
68,18
20
90,91
2
Merasa bias
20
90,91
22
100
3
Antusias
17
77,27
19
86,36
4
Memperoleh manfaat
16
72,73
19
86,36


Penerapan pembelajaran kooperatif tipe problem posing dapat meningkatkan hasil dan pemahaman siswa terhadap materi IPS , hal ini telah ditunjukkan dari hasil pos tes dan kertas kerja siswa yang meningkat, untuk hasil belajar meningkat 9.09% sedangkan kertas kerja meningkat 18,18%.. Meskipun dalam penelitian ini peningkatan hasil belajar bukan merupakan tujuan utama ternyata penerapan dari pembelajaran kooperatif tipe problem posing membawa dampak pada peningkatan hasil belajar dan pemahaman siswa pada materi IPS  sebagai dampak dari adanya peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran di dalam kelas. Hal ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Sutiarso (1999) “bahwa prestasi belajar yang diperoleh kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan problem posing lebih baik daripada pendekatan sebagaimana biasa (konvensional)”,
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe problrm posing dapat membuat siswa merasa senang pada pembelajaran IPS , hai ini dapat dilihat dari angket pendapat siswa dalam pelaksaanaan pembelajaran yang mengalami peningkatan sebesar : merasa senang meningkat 22,72%, merasa bias 9.09%, antusias 9,09% dan memperoleh manfaat meningkat 13,63%. Menurut English dalam Siswono (1999) dari hasil penelitian terdahulu memberi gambaran bahwa problem posing merupakan pendekatan pembelaajaran yang mempunyai kelebihan : (1) siswa senang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan  problem posing dan ingin tahu lebih banyak tentang materi yang dipahami, (2) mengerjakan soal yang dibuat sendiri lebih menyenangkan, dan (3) mengajukan soal dapat mendorong siswa lebih banyak membaca materi pelajaran. Pendapat siswa yang senang pada pembelajaran ditunjukkan pada angket siklus I maupun pada siklus II, yang dapat diamati pada table 4.10.

KESIMPULAN
Berdasarkan paparan data, analisis data, temuan penelitian, dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.         Penerapan pembelajaran kooperatif tipe problem posing dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa tentang perubahan sosial budaya di kelas VII-B semester gasal tahun pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 1 Jiwan Kabupaten Madiun.
2.         Penerapan pembelajaran koooperatif tipe problem posing pada mata pelajaran IPS  kelas VII-B semester gasal tahun pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 1 Jiwan Kabupaten Madiun telah terlaksana sesuai dengan  langkah-langkah yang telah direncanakan.
3.         Adanya peningkatan prestasi/hasil belajar dan pemahaman siswa terhadap materi Perubahan Sosial Budaya sebagai dampak dari peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe problem posing.
4.         Penerapan pembelajaran kooperatif tipe problem posing pada pembelajaran IPS  menumbuhkan rasa senang pada siswa.






DAFTAR PUSTAKA

A. Jalil, 2006 Pembelajaran dan Pendekatan Problem Posing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Siswa Kelas VIII SMP Negeri IV Malang Pada Konsep system Hormon Tahun Pelajaran 2004/2005. Tesis tidak dipublikasikan, Universitas Negeri Malang.
A’ari, A.R. 2000 Pembelajaran Matematika yang demokratis, Makalah disajikan dalam seminar Nasional : Penngajaran Matematika Sekolah Menengah Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang.
Chotimah Husnul, 2007, Model-model Pembelajaran untuk PTK, Malang.
Corebina, A. D. 2002, Pelatihan terintegrasi Berbasis Kompentensi Guru Mata Pelajaran Biologi . PTK. Dirjen dikdasmen. Jakarta. Depdiknas.
Hamalik, O, 2004 Proses Belajar Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara
Hasibuhan, J.J. Moedjiono, 1995, Proses  Belajar Mengajar, Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.
Hadoyo, H, 2002, Suatu usaha Untuk meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Belajar Matematikan. Makalah Disajikan dalam Seminar Nasional Penngajaran Matematika di Sekolah Jurusan Matematika. Universitas Negeri Malang.
Isjoni, 2007,Cooperative Learning, Alfabeta, Bandung.
Kasbolah, K. 1999, Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru Sains. Makalah dalam Penelitian Guru Sains dengan Pendekatan STM, Malang 12 – 15 Juli 1999
Nurhadi, Yasin, B. Dan Senduh, AG, 2004, Pembelajaran Konteksrual dan Penerapannya dalam KBK, Malang : Universitas Negeri Malang
Rochiati Wiriaatmadja.2008. Metode Penelitian Tindakan Kelas Bandung PT. Remaja Rosdakarya.
Siswoyo. T. Y. E. 1999. Metode Pemberian Tugas penyajian soal dalam pembelajaran Matematika. Tesis. Tidak Diterbitkan. Surabaya : PPS IKIP Surabaya
Suryanto, 1988, Pembentukan Soal Dalam Pembelajaran Matematika. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional. Malang : PPS IKIP Malang.
Susilo, H. 2002. Pembelajaran Kontekstual Dalam MIPA “Majalah Pendidikan Konsep”, Nomor 1 Agustus-Oktober, 15-20
Sutiarso, S. 1999. Pengaruh Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Problem Posing Terhadap Hasil Belajar Aritmatika Siswa Kelas II SMP N 18 Malang. Tesis. Tidak Diterbitkan. Malang : IKIP Malang.
Trianto.2007.Model-model Pembelajaran Inovatif berorientasi konstruktivistik. Prestasi Puistaka Plubiser. Surabaya




Tidak ada komentar:

Posting Komentar