Minggu, 04 September 2016

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TERPADU DAN PENILAIAN BERBASIS KELAS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN PADA SISWA KELAS IX B SMP NEGERI 1 JIWAN KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TERPADU DAN PENILAIAN BERBASIS KELAS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN PADA SISWA KELAS IX B SMP NEGERI 1 JIWAN KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Oleh : SRI RUSMIYATI, S.Pd
SMP NEGERI 1 JIWAN


ABSTRAK
Kata Kunci: menulis cerpen, pembelajaran bahasa Indonesia, model pembelajaran terpadu,  penilaian berbasis kelas.

Salah satu faktor yang menentukan kualitas pendidikan dan pengajaran di suatu sekolah adalah hasil belajar. Keberhasilan kualitas dan pengajaran pendidikan formal secara umum dapat diindikasikan apabila kegiatan belajar mampu membentuk pola tingkah laku peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan, serta dapat dievaluasi  melalui pengukuran dengan menggunakan tes dan nontes. Proses pembelajaran tidak akan  efektif apabila dilakukan tanpa melalui persiapan yang cukup dan terencana dengan baik. Sudah tentu kualitas hasil belajar siswa akan jauh dari harapan.
Berdasarkan permaslahan diatas maka penelitian ini bertujuan  untuk (1) meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis cerpen bagi siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Jiwan, dengan menerapkan model pembelajaran terpadu dan penilaian berbasis kelas dan (2) meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Jiwan melalui penerapan model pembelajaran terpadu dan penilaian berbasis kelas.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan menerapkan tiga siklus. Setiap siklus meliputi empat tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa rerata hasil aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran selalu meningkat. Aktivitas siswa sebelum tindakan kategori kurang 26%, cukup 71,4% , baik 1%. Sesudah pelaksanaan tindakan siswa dengan kategori kurang 0%, cukup 5 %, dan baik 95 %. Aktivitas guru sebelum dilaksanakannya tindakan rata-rata perolehan skor yang dicapai adalah 1,93 dan setelah pelaksanaan tindakan skor rata-rata yang dicapai 3,60 dari perolehan skor maksimal berjumlah 4. Hasil rata-rata kemampuan menulis cerpen juga menunjukkan peningkatan dari pratindakan sampai siklus I, siklus II, dan siklus III. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebelum pelaksanaan tindakan adalah 67,60, siklus I adalah72,65, siklus II nilai rata-rata 76,85, dan siklus III nilai rata-rata yang diperoleh 81,50.
Simpulan dari peneltian ini adalah bahwa penerapan model pembelajaran terpadu dan penerapan penilaian berbasis kelas dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan kemampuan menulis cerpen siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Jiwan.




PENDAHULUAN
Salah satu faktor yang menentukan kualitas pendidikan dan pengajaran di suatu sekolah adalah hasil belajar. Keberhasilan kualitas dan pengajaran pendidikan formal secara umum dapat diindikasikan apabila kegiatan belajar mampu membentuk pola tingkah laku peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan, serta dapatdievaluasi  melalui pengukuran dengan menggunakan tes dan nontes. Proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan yang cukup dan terencana dengan baik. Hal itu perlu dilakukan untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat di era globalisasi sekarang ini. Untk dapat bersaing dalam kancah persaingan global, suatu bangsa harus memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.
Berdasarkan alasan tersebut, maka sekolah / madrasah merasa perlu untuk melakukan inovasi pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diimplementasikan dalam bentuk inovasi kegiatan pembelajaran dan penilaian. Inovasi pembelajaran dan penilaian yang dilakukan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas pendidikan dan pengajaran di suatu sekolah yang berujud hasil belajar. Hasil belajar atau keberhasilan proses pendidikan sangat dipengaruhi oleh proses belajar mengajar. Hasil belajar yang sudah dicapai suatu sekolah, tinggirendahnya atau baik-buruknya sangat bergantung pada proses belajar, yakni pengalaman belajar apa saja dan proses penilaian yang dilakukan. Proses belajarmengajar dan penilaian yang berlangsung dengan baik dan berkualitas, dengan sendirinya akan mencetak hasil belajar yang baik; sebaliknya proses belajar-mengajar dan penilaian yang berjalan tidak baik akan menghasilkan hasil belajar yang tidak baik pula.
Salah satu faktor yang berpengaruh dalam peningkatan kualitas pendidikan dimaksud adalah proses pembelajaran yang selama ini dilakukan, yaitu kurangnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Masih banyak guru dalam proses pembelajaran, pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered learning) dan belum pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning).
Handayani (2008: 325) mengungkapkan bahwa hasil pembelajaran bahasa Indonesia khususnya untuk keterampilan menulis sekarang ini masih rendah. Kekurangberhasilan pembelajaran menulis tersebut disebabkan banyak faktor, khususnya yang menyangkut siswa dan guru. Penemuan sebab-sebab merupakan langkah awal yang perlu ditemukan setelah ditemukan penyebabnya, dicari solusinya sehingga siswa mencapai hasil belajar sesuai harapan.
Pencapaian kompetensi dasar pada aspek menulis siswa kelas IX B masih rendah. Hal tersebut bisa dilihat dari rerata yang dicapai siswa masih di bawah KKM. Pada penelitian ini, siswa yang diteliti adalah siswa kelas IX B. Nilai rerata yang diperoleh siswa dengan kompetensi dasar masih di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ideal yaitu 75. Hal tersebut mencerminkan bahwa kompetensi dasar yang terkait dengan aspek menulis, khususnya menulis cerita pendek bertolak dari peristiwa yang pernah dialami masih rendah. Hal tersebut dapat diketahui dari kondisi awal yang berasal dari hasil wawancara dengan guru bahasa Indonesia kelas IX B dan observasi.
Faktor rendahnya kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP 1 Jiwan kelas IX B disebabkan: proses pembelajaran yang dilakukan guru masih konvensional, guru dalam proses pembelajaran menggunakan metode ceramah, tanpa menggunakan media pembelajaran. guru hanya menunjukkan contoh-contoh yang bersumber dari LKS dan buku paket. Guru belum menyentuh potensi yang terdapat pada diri siswa agar bisa menulis cerpen dengan menggunakan kemampuan yang dipunyai siswa dengan memanfatkan berbagai sumber yang bisa mengasah kemampuan siswa.
Pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan pendekatan terpadu, keberhasilan­nya juga sangat ditentukan oleh penilaian yang dilakukan. Penilaian yang dipilih dan digunakan harus memperhatikan hal-hal yang meliputi: dapat mengukur secara langsung kemahiran berbahasa siswa, dapat mendorong siswa untuk secara aktif berlatih berbahasa Indonesia dan bertolak dari wacana. Penilaian yang dilakukan daharapkan dapat mengukur secara langsung kemahiran berbahasa siswa secara menyeluruh dan terpadu. Penilaian yang dapat mengukur kemahiran secara menyeluruh adalah penilaian berbasis kelas. Penilaian ini dilakukan secara terusmenerus, selama proses pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Dengan demikian, kegiatan penilaian bukanlah merupakan kegiatan yang terpisah dari pembelajaran.
Penelitian yang fokus pada peningkatan kemampuan menulis cerpen, didasarkan pada alasan bahwa siswa-siswa kelas IX B di SMP Negeri 1 Jiwan belum mampu menulis cerpen. Proses kreatif menulis cerpen siswa dalam menuangkan ide, gagasan dan emosi jiwa secara imajinatif belum terasah. Siswa hanya sekadar menulis cerpen belum bisa menghasilkan cerpen yang enak untuk dibaca dan bisa menyentuh pembaca.
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis cerpen di kelas IX B SMP Negeri 1 Jiwan dengan penerapan strategi pembelajaran terpadu dan penilaian berbasis kelas karena dengan pendekatan terpadu dan penilaian berbasis kelas tersebut pembelajaran menulis cerpen akan lebih menarik dan tidak menjemukan siswa. Dengan penerapan strategi pembelajaran terpadu proses pembelajaran tidak akan terlepas dari organisasi pembelajaran, pemilihan metode, teknik, dan media, serta evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan secara terencana dan terpadu dalam proses pembelajaran.

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1.    Apakah penerapan model pembelajaran terpadu dan penilaian berbasis kelas dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis cerpen bagi siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Jiwan tahun pelajaran 2013/ 2014?
2.    Apakah penerapan model pembelajaran terpadu dan penilaian berbasis kelas dapat meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Jiwan Tahun Pelajaran 2013/ 2014?

TUJUAN PENELITIAN
1.    Meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis cerpen bagi siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Jiwan, dengan menerapkan model pembelajaran terpadu dan penilaian berbasis kelas.
2.    Meningkatkan kemampuan siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Jiwan dalam menulis cerpen melalui model pembelajaran terpadu dan penilaian berbasis kelas.

MANFAAT PENELITIAN
1.    Hasil penelitian ini dimanfaatkan sebagai bahan masukan/informasi untuk memper­dalam pemahaman dan wawasan teori tentang  langkah-langkah penggunaan model pem­belajaran terpadu dan penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP/MTs, khususnya menulis cerpen.
2.    Siswa akan lebih saksama dalam mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya tentang menulis cerpen.
3.    Siswa akan semakin bersemangat dalam belajar, melalui strategi pembelajaran terpadu, karena mendorong siswa agar selalu aktif untuk mengikuti pembelajar­an yang berasal dari materi yang bersifat nyata dan alamiah.
4.    Siswa lebih aktif dan minat menulis siswa meningkat dalam proses pembelajar­­an, karena selama pembelajaran berlangsung siswa terlibat secara aktif dalam penilaian, baik menilai hasil karya sendiri maupun menilai hasil karya teman.
5.    Hasil belajar lebih bermakna karena siswa lebih banyak melakukan praktek menulis dan menilai kelemahan atas tulisan-tulisannya.

HIPOTESA TINDAKAN
Penerapan Model Pembelajaran Terpadu dan Penilaian Berbasis Kelas dapat meningkatkan kualitas pembelajaran menulis cerpen bagi siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Jiwan Tahun Pelajaran 2013/ 2014.

KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Kemampuan
Kridalaksana (2008:117) mengemukakan Kemampuan adalah pengetahuan tentang bahasa yang bersifat abstrak dan bersifat tidak sadar. Pengetahuan yang dimiliki seseorang dapat diketahui oleh orang lain setelah seseorang tersebut mengimplementasikan dalam aktivitas sehari-hari. Baik aktivitas yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan. Tugas yang menggunakan kemampuan yang tinggi dibandingkan dengan tugas yang berada di tingkat bawahnya. Sejalan dengan pendapat di atas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:707) kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan kita berusaha dengan diri sendiri.

Pengertian Menulis
Pengertian menulis adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang dalam mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca seperti yang dimaksud oleh pengarang. (Widyamartaya,1990: 9). Sementara itu, Nurgiyantoro (2010:423) mengemukakan, agar komunikassi lewat lambang tulis dapat seperti yang diharapkan, penulis haruslah menuangkan gagasannya ke dalam bahasa yang tepat, teratur, dan lengkap. Dengan demikian bahasa yang dipergunakan dalam menulis dapat menggambarkan suasana hati atau pikiran penulis. Sehingga dengan bahasa tulis seseorang akan dapat menuangkan isi hati dan pikiran.

Pengertian Cerpen
Cerpen sebagai salah satu jenis genre sastra fiksi sangat menarik untuk ditulis dan dipelajari. Cerpen tergolong cerita rekaan. Waluyo (2001:1) mengatakan bahwa istilah rekaan terdapat kata ‘cerita’ dan ‘rekaan’ sebenarnya semua cerita mestinya adalah fiksi. Namun akhir-akhir ini banyak juga cerita yang bukan fiksi karena perkataan cerita itu berubah makna meluas yakni mengisahkan juga yang bukan fiksi sehingga timbul cerita yang bukan nonfiksi. Baik cerita fiksi maupun nonfiksi termasuk jenis prosa. Prosa ini pun sering juga diklasifikasikan menjadi prosa fiksi (prose fiction) dan prosa nonfiksi (prose nonfiction). Kata fiksi berarti bahwa cerita itu merupakan hasil khayalan atau hasil imajinasi dan bukan cerita yang nyata terjadi.
Kardi, S. dan Nur cit, Trianto (2012:52) mengemukakan bahwa model pembelajaran terpadu mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.

METODE PENELITIAN DAN OBYEK PENELITIAN
Obyek penelitian ini adalah siswa kelas IX B SMP N 1 Jiwan dan penelitian ini mencakup rangkaian kegiatan tahapan penelitian dari awal hingga akhir penelitian. Penelitian dalaksanakan dalam bentuk 4 tahapan yaitu (1) persiapan, (2) studi/survei awal. (3) pelaksanaan siklus, dan (4) penyusunan laporan.

RENCANA TINDAKAN
Pelaksanaan siklus meliputi (i) perencanaan tindakan (planning), (ii) pelaksanaan tindakan (acting), (iii) pengamatan (observing), dan (iv) refleksi (reflecting). Jumlah siklus yang digunakan adalah minimal dua siklus. Pelaksanaan minimal dua siklus dianggap sudah cukup untuk mengatasi permasalahan yang terjadi.
            Untuk meningkatkan keakuratan dalam penelitian maka perlu dilakasanakan observasi dan pengumpulan databerupa keatifan siswa saat proses pembelajaran dan hasil pos tes siwa

Alur Penelitian
1. Persiapan
Kondisi awal adalah berupa persiapan. Disini guru mempersiapkan semua istrumen keterlaksanaan saat digunakan untuk melaksanakan penelitian tindakan
2. Survei Awal
Berisi penentuan kelas yang akan digunakan penelitian dan waktu mengamati proses pembelajaran menulis cerpen, melihat kondisi awal berupa hasil pekerjaan siswa berupa cerpen, dan wawancara untuk mendapat masukan baik dari guru maupun siswa. Kondisi awal menunjukkan bahwa kemampuan menulis cerpen masih rendah. Dikatakan rendah karena siswa belum maksimal memberdayakan dirinya untuk berkreatif menulis cerpen.
3. Pelaksanaan Siklus
Satu siklus ada empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Empat komponen tersebut dijabarkan dalam desain penelitian tindakan kelas. Adapun empat komponen tersebut adalah sebagai berikut.
1.    Perencanaan, yaitu tindakan yang akan dilakukan bertujuan untuk memperbaiki, meningkatkan, atau perubahan sebagai solusi.
2.    Tindakan, yaitu tindakan apa yang dilakukan guru sebagai upaya perbaikan, peningkatan, atau perubahan sebagai solusi. Maksudnya melakukan perbaikan terhadap siswa agar terwujud menulis cerpen sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
3.    Observasi atau pengamatan, yaitu mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan siswa. Kesulitan yang dihadapi siswa, kesalahan siswa, motivasi siswa, dan tanggapan siswa, kita jadikan agenda sebagai bahan pertimbangan untuk perencanaan pada siklus berikutnya.
4.    Refleksi, adalah kegiatan yang mengulas secara kritis tentang sejumlah perubahan-peerubahan yang terjadi baik siswa, suasana kelas, maupun guru. Pada tahapan ini dilakukan diskusi dengan kolaborator, untuk mengungkap kekurangan dan kelebihan selama pelaksanaan tindakan untuk selanjutnya bertujuan menentukan perencanaan pada siklus berikutnya.
Tiap-tiap siklus terdiri atas empat langkah yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. . Indikator keberhasilan Indikator yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatnya kualitas proses pembelajaran dan kemampuan menulis cerpen siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Jiwan, Kabupaten Madiun. Keberhasilan pembelajaran tersebut digunakan indikator seperti di bawah ini.
1.    Keaktifan siswa dalam berpikir kreatif untuk bisa menulis cerpen.
2.    Atensi siswa terhadap pembelajaran.
3.    Minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.
4.    Kemampuan siswa untuk melakukan berbagai bentuk pengkajian untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman.
5.    Kemampuan guru mengelola kelas.
6.    Kemampuan menulis cerpen siswa ditandai dengan kemampuan siswa menulis cerpen setelah berlatih berbagai keterampilan kognitif, personal social, dan psikomoto­rik, baik yang berbentuk efek langsung pengajaran maupun sebagai dampak pengiring pelaksanaan berbagai kegiatan belajar mengajar.
7.    Ketuntasan hasil belajar mencapai minimal 75.

HASIL PENELITIAN  DAN PEMBAHASAN
1.    Kondisi awal
Deskripsi secara konkret tentang kualitas proses belajar mengajar dapat dilihat dari hasil pengamatan baik pengamatan untuk guru maupun pengamatan yang dilakukan terhadap aktivitas siswa. Hasil pengamatan tentang kualitas proses belajar mengajar dari aktivitas siswa saat survei awal dapat diketahui sebagai berikut. (1) Aktivitas siswa ketika tanya jawab tentang pengetahuan cerpen adalah 90% berkategori kurang, 18 siswa memperoleh skor 1. Skor 1 berkategori kurang. Sedangkan 2% siswa berskor 2 menunjukkan kategori cukup. (2) aktivitas siswa ketika tanya jawab tentang pelaksanaan pembelajaran terpadu dan penilaian berbasis kelas 10% siswa berskor 1 menunjukkan kategori kurang dan 90% siswa berkategori cukup. (3) Aktivitas siswa ketika menentukan tema cerpen bertolak dari peristiwa yang pernah dialami siswa adalah 15% siswa berkategori kurang dan 85% siswa berkategori cukup. (4) Aktivitas siswa ketika menyusun kerangka cerpen bertolak dari peristiwa yang pernah dialami siswa adalah 5% siswa berkategori kurang, 90% berkategori cukup dan 5% siswa berkategori baik. (5) Aktivitas siswa ketika menyusun cerpen bertolak dari peristiwa yang pernah dialami siswa adalah adalah 10 % siswa berkategori kurang dan 90% siswa berkategori cukup.

2. Pembahasan Tiap Siklus
a. Siklus I
Deskripsi siklus I menunjukkan bahwa mutu proses pembelajaran belum maksimal. Mutu proses pembelajaran ditinjau dari dua segi yaitu segi yang pertama adalah siswa sedangkan segi yang kedua adalah guru. Pertama, dari segi siswa belum aktif melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan scenario pembelajaran yang telah dirancang oleh guru. Hal ini disebabkan oleh karena siswa sudah terbiasa diajarkan dengan metode ceramah dengan jalan hanya menyimak penjelasan guru. Keaktifan siswa sudah mulai tampak tetapi hanya sedikit.. Siswa belum bersungguh-sungguh untuk melakukan aktivitas membaca, menyimak, berbicara, dan menulis selama proses pembelajaran. Kedua, dari segi guru belum maksimal untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Hal tersebut dapat dibuktikan guru belum membiasakan siswa menjawab pertanyaan berdasarkan ide yang berasal dari siswa sendiri. Untuk kegiatan kolaborasi guru kurang terampil mengatur siswa untuk selalu aktif dalam kelompok masing-masing.
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan atau observasi menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan kriteria cukup. Adapun deskripsi aktivitas siswa adalah sebagai berikut: (1) rerata aktivitas siswa berkategori kurang adalah 20 %, (2) rerata aktivitas siswa berkategori cukup adalah 80, (3) rerata aktivitas siswa berkategori baik adalah 0. Hasil ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran belum sesuai dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan. Sedangkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan observasi terhadap guru menunjukkan bahwa guru memperoleh skor rata-rata untuk aktivitas rencana pelaksanaan pembelajaran sebesar 3,30. Adapun rata-rata skor maksimal adalah 4, sehingga untuk aktivitas ini masuk skor sangat memuaskan. Kegiatan pembelajaran inti yang dilakukan guru memperoleh rata-rata skor 2,58 termasuk kriteria kurang memuaskan. Aktivitas selanjutnya adalah kegiatan hubungan pribadi memperoleh skor rata-rata 2,70 kriteria kurang memuaskan.
Berdasarkan hasil tes menulis cerpen diketahui rerata kelas sebesar 72,65. Sejumlah 9 siswa mendapat nilai kurang (di bawah) dari 75. Sebanyak 11 siswa mendapat nilai sama dengan atau lebih dari 75. Ketuntasan secara klasikal sbesar 55 % (lihat lampiran 32 halaman 295). Bedasarkan data tersebut, rerata kelas belum mencapai batas tuntas yang ditetapkan. Demikian pula, secara klasikal belum mencapai ketuntasan.

b. Siklus II
Pembelajaran pada siklus II telah diikuti siswa dengan dengan cukup baik. Keaktifan siswa untuk mengikuti pembelajaran terutama aktivitas tanya jawab sudah tampak. Siswa lebih termotivasi belajarnya, lebih bersemangat, lebih fokus pada pembelajaran dan antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Pengaruh yang tampak pada dari meningkatnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah meningkatnya kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa.. Siswa terlihat bersungguh-sungguh untuk memberikan penilaian terhadap hasil karya siswa yang lain.
Mutu proses pembelajaran ditinjau dari dua segi yaitu segi yang pertama adalah dari siswa sedangkan segi yang kedua adalah dari guru. Dari segi siswa dapat dilihat saat aktivitas mengikuti pembelajaran. Aktivitas siswa saat proses pembelajaran mulai menunjukkan peningkatan. Namun, aktivitas tersebut masih perlu ditingkatkan. Aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran dengan kriteria baik dapat diketahui dari hasil observasi sebagai berikut, (1) rerata siswa berkategori kurang adalah 1%, (2) rerata aktivitas siswa berkategori cukup adalah 79%, (3) rerata aktivitas siswa berkategori baik adalah 20 % (lihat lampiran 20 halaman 251).
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap guru menunjukkan bahwa guru memperoleh skor rata-rata 3,023 dari rata-rata skor maksimal 4,00 dengan kriteria memuaskan. Dengan demikian, aktivitas guru sudah termasuk memuaskan. Meskipun demikian, perlu peningkatan lagi agar bisa masuk pada kriteria teratas yaitu sangat memuaskan. Berdasarkan hasil tes menulis cerpen dapat diketahui rerata kelas yang berhasil dicapai adalah 76,85. Sejumlah 6 siswa mendapat nilai kurang (dibawah) dari 75. Sebanyak 14 siswa mendapat nilai sama atau lebih dari 75. Ketuntasan secara klasikal sebesar 70% (lihat lampiran 32 halaman 295).  Berdasar data tersebut, rerata kelas sudah mencapai batas tuntas yang ditetapkan. Tetapi, secara klasikal belum mencapai ketuntasan.

c. Siklus III
Pada siklus III, pembelajaran sudah diikuti siswa dengan baik. Siswa dan guru memperlihatkan aktivitas pembelajaran secara maksimal, bersemangat, terfokus, dan antusias. Aktivitas tanya jawab dilakukan siswa secara maksimal. Aktivitas guru ketika melaksanakan pembelajaran sudah memberikan kesempatan kepada siswa yang seluas-luasnya untuk membaca beberapa contoh novel, baik lewat media LCD, hasil karya mereka sendiri, menyimak pembacaan cerpen hasil karya siswa yang lain, dan mengoreksi terhadap cerpen hasil tulisan mereka sendiri maupun siswa yang lain.
Ketika pelaksanaan proses pembelajaran guru sudah menanggapi ide-ide siswa secara terbuka. Ide-ide siswa pada siklus III lebih bervariasi. Hal itu mudah mereka dapatkan karena kemampuan mengemukakan ide dan menulis siswa dapatkan dari kegiatan banyak membaca cerpen. Kemampuan tersebut akan berkembang karena ditunjang dengan kegiatan membaca dan pengayaan kosa kata.
Aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar menulis cerpen sudah terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan proses belajar mengajar pada siklus sebelumnya. Peningkatan tersebut dapat dibuktikan jika diukur dengan indicator kinerja. Kemampuan menulis cerpen siswa sudah mencapai batas tuntas secara klasikal meskipun ada satu siswa yang belum mencapai batas tuntas.
Siswa sudah serius, aktif, dan kreatif mengikuti proses pembelajaran. Hanya pada pelaksanaan kegiatan menanggapi kegiatan pembacaan cerpen dan mendiskusikan kelebihan dan kekurangan cerpen yang dibuat siswa perlu peningkatan kemampuan berbicara dan kemampuan mengungkapkan ide dan gagasan dengan menggunakan bahasa yang baik.. Demikian juga dengan guru, sudah melaksanakan mengajar secara maksimal. Peningkatan aktivitas siswa sebagai indiktor mutu proses pembelajaran berkriteria baik dapat diketahui dari hasil pengamatan atau observasi sebagai berikut, (1) tidak ada aktivitas siswa berkategori kurang, (2) rerata siswa berkategori cukup adalah adalah 5%, (3) rerata aktivitas siswa berkategori baik adalah 95% .
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap guru menunjukkan bahwa guru memperoleh skor rata-rata 3,66 dari rata-rata skor maksimal 4,00. Dengan demikian, aktivitas guru saat proses pembelajaran termasuk criteria sangat memuaskan.
Berdasarkan hasil tes menulis cerpen diketahui rerata kelas sebesar 81,50. Ada 1 siswa mendapat nilai kurang (dibawah) dari 75. Sebanyak 19 siswa mendapat nilai lebih dari 75. Ketuntasan secara klasikal sebesar 95% Berdasarkan data tersebut, rerata kelas sudah mencapai batas tuntas yang ditetapkan. Secara klasikal sudah mencapai ketuntasan tetapi secara individual belum mencapai ketuntasan sebab masih terdapat 1 siswa mendapat nilai di bawah 75 padahal KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan di indicator kinerja adalah 75.
Berdasarkan data di atas, apabila dilihat dari aspek aktivitas siswa dan kemampuan menulis cerpen siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Jiwan sudah mencapai batas tuntas secara klasikal tetapi secara individual masih terdapat 1 siswa yang belum mencapai batas tuntas.

HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian tindakan kelas tentang pembelajaran menulis cerpen dengan model pembelajaran terpadu dan penilaian berbasis kelas yang dilakukan sebanyak tiga siklus dapat dideskripsikan sebagai berikut.
1. Kualitas Proses Pembelajaran
Kualitas proses pembelajaran ditandai dua aktivitas yaitu dari guru dan siswa. Aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan model pembelajaran terpadu dan penerapan penilaian berbasis kelas dapat dilihat dari hasil pengamatan berikut ini.
Rerata hasil observasi dari segi aktivitas siswa pada siklus I kategori kurang sebesar 20%, kategori cukup sebesar 80% , dan kategori baik 0%. Rerata hasil observasi dari segi aktivitas siswa pada siklus II kategori kurang sebesar 5%, kategori cukup sebesar 79%, dan kategori baik sebesar 20%. Rerata hasil observasi dari segi aktivitas siswa pada siklus III kategori kurang sebesar 0%, kategori cukup sebesar 5%, dan kategori baik sebesar 95%. Hasil observasi tersebut dapat digambarkan dengan grafik histogram sebagai berikut.

Grafik Histogram Rata-rata Aktivitas Siswa dari  Siklus I sampai Siklus III

Aktifitas guru selama proses mengajar menulis cerpen dengan model pembelajaran terpadu dan penilaian berbasis kelas dapat dilihat dari hasil observasi. Adapun hasil observasi terhadap aktivitas guru pada siklus I, siklus II, dan siklus III dapat disajikan pada tabel berikut.

Tabel  Hasil Observasi Rata-rata Aktivitas Guru
Aspek yang Diamati
Siklus
I
II
III
1. Aktivitas guru ketika merencanakan pembelajaran
3,18
3,43
3,75
2. Aktifitas guru ketika pelaksanaan pembelajaran
2,58
2,96
3,16
3. Aktivitas guru dalam keterampilan hubungan pribadi
2,70
2,93
3,90
Rerata
2,82
3,10
3,60

Hasil Observasi yang disajikan pada tabel di atas, dapat dideskripsikan bahwa aktivitas guru dalam proses pembelajaran selalu meningkat. Aktivitas guru tersebut diperoleh dari nilai rata-rata aktivitas guru yang meliputi, (1) penilaian rencana pelaksanaan pembelajaran, (2) penilaian pelaksanaan pembelajaran, dan (3) penilaian keterampilan pelaksanaan hubungan pribadi. Nilai maksimal dari rata-rata perolehan aktivitas guru tersebut 4.

2. Kemampuan Menulis Cerpen
Kemampuan menulis cerpen selama tiga siklus mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan, seperti yang disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel  Hasil Kemampuan Menulis Cerpen pada
Siklus I, Siklus II, dan Siklus III.


Hasil rerata tes kemampuan menulis cerpen pada kondisi awal adalah 67,60. Setelah diberikan tindakan perbaikan pada siklus I, meningkat menjadi 72,65. Peningkatan dari rerata 67,60 menjadi 72,65 belum mencapai batas sesuai dengan indicator kinerja, yakni 75. Dari segi ketuntasan belajar, baik secara individual maupun secara klasikal, hasil tersebut belum mencapai tujuan yang diharapkan. Dari 20 siswa, tercatat 9 siswa belum mencapai batas tuntas, baru 11 siswa yang mencapai batas ketuntasan. Ketuntasan secara klasikal tercatat 55 %. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa secara klasikal belum memenuhi batas ketuntasan yang telah ditetapkan.
Hasil rerata tes kemampuan menulis cerpen pada siklus II sebesar 76,85. Dilihat dari batas minimal sudah sesuai dengan indicator kinerja, nilai rerata siswa tersebut sudah memenuhi criteria. Namun, secara individual dari tes pada siklus II tersebut masih terdapat 6 siswa memperoleh nilai kurang dari 75. Siswa yang mendapat nilai lebih besar atau sama dengan 75 sebanyak 14 siswa. Ketuntasan secara klasikal sebesar 70 %. Jadi hasil tes kemampuan menulis cerpen siswa pada siklus II, jika dilihat dari batas minimal sesuai dengan indikator kinerja, belum memenuhi kriteria baik secara klasikal maupun individual sehingga penelitian tindakan kelas perlu dilanjutkan pada siklus III.
Kemampuan menulis cerpen siswa pada siklus III nilai reratanya sebesar 81,5. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa nilai rerata kemampuan menulis cerpen pada siklus III telah mencapai batas tuntas yang telah ditetapkan yaitu 75. Secara individual, dari 20 siswa masih ada satu siswa yang mendapat nilai di bawah 75. Sedangkan secara klasikal dan rerata kelas sudah mencapai batas tuntas yang telah ditetapkan dengan tingkat ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 95 %.
Dengan demikian, penelitian tinadakan kelas yang dilaksanakan telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan, yakni dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran menulis dan kemampuan menulis cerpen.


SIMPULAN DAN SARAN
A.   Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan sebanyak tiga siklus dapat disimpulkan sebagai berikut.
1)    model pembelajaran terpadu dan penerapan penilaian berbasis kelas dapat meningkatkan aktivitas siswa.
2)    model pembelajaran terpadu dan penerapan penilaian berbasis kelas aktivitas guru lebih bermakna bagi siswa.

B. Saran
1.    Bagi guru, khususnya guru mata pelajaran bahasa Indonesia dapat menerapkan model pembelajaran terpadu dan penilaian berbasis kelas dalam rangka peningkatan mutu proses pembelajaran dan kemampuan menulis cerpen.
2.    Bagi guru, khususnya guru mata pelajaran bahasa Indonesia perlu lebih meningkatkan wawasan tentang model-model pembelajaran, teoro-teori pembelajaran, dan penerapan penilaian berbasis kelas serta yang melatarbelakangi teori tersebut. teori-teori tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran.






DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, Sabarti. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Arikunto, Suharsimi dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2008. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media Diponegoro, Mohammad. 1994. Yuk, Nulis Cerpen Yuk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Djuraid, Husun. 2009. Panduan Menulis Berita. Malang: UMM Press.
Enre, Fahrudin. 1998. Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Jakarta: Depdikbud.
Hastuti, Sri. 1982. Tulis Menulis. Yogyakarta: Penerbit Lukman.
Isdriani, Pudji. 2009. Seribu Pena Bahasa Indonesia untuk Kelas SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
Madya, Suwarsih. 2006 . Panduan Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.
Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kulitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BFFE-Yogyakarta.
Sadiman. 2002. Media Pengajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.
. 2009. Modul Menulis Fiksi. Yogyakarta. FBS UNY.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Sumardjo, Jacob. 2007. Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sudjana, Nana. 1996. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2002. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.

Tarigan, Henry Guntur. 1986. Menulis (Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa). Bandung: Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar