Minggu, 04 September 2016

PEMBELAJARAN EXAMPLES NON EXAMPLES UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS GEGURITAN SISWA KELAS IX-D SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2014/2015 SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN

PEMBELAJARAN EXAMPLES  NON EXAMPLES UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS  GEGURITAN SISWA KELAS IX-D SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2014/2015 SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN

Oleh : MUHAMMAD SARIFUDIN, S.Pd
SMP NEGERI 1 DOLOPO  KABUPATEN MADIUN


ABSTRAK
Kata Kunci : Menulis, Examples  non examples
             Kemampuan siswa dalam menulis teks report perlu dikembangkan sejak dini. Menulis teks report sebagai bagian materi ajar yang harus dikuasai siswa SMP kelas IX. Dengan demikian diharapkan siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama memiliki kemampuan tinggi dalam menulis teks report. Namun pada kenyataannya sampai saat ini pengajaran menulis dirasakan masih kurang optimal. Hal ini dapat diketahui dengan adanya keluhan-keluhan dari siswa yang merasa belum mampu menulis teks report secara baik yang didukung dengan nilai siswa kelas  IX-D  SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun pada ulangan harian yang masih rendah dengan rerata 54, dan siswa yang dinyatakan tidak dapat memenuhi ketuntasan minimal 77,4% dari KKM yang telah ditetapkan 75.
            Hal tersebut ditengarai disebabkan oleh : (1) Guru menggunakan metode yang kurang bervariasi (2) Guru tidak menggunakan media yang tepat (3) Materi pembelajaran tidak kontektual. Masalah ini perlu segera dipecahkan  sebab jika tidak akan membawa akibat yang fatal diantaranya : (1) Siswa tidak tanggap terhadap peristiwa yang terjadi di sekelilingnya  (2) Kemampuan menulis teks report rendah (3) Nilai Bahasa Inggris rendah (4) Prestasi belajar secara umum rendah (5) Siswa tidak naik kelas.
            Untuk memecahkan masalah di atas peneliti menawarkan penerapan model pembelajaran Examples  non examples dalam meningkatkan kemampuan siswa untuk menulis geguritan. Model Examples  non examples sangat dimungkinkan disukai siswa karena menampilkan beberapa contoh gambar / foto sehingga menarik perhatian siswa. Diharapkan degan penggunaan media gambar ini kemampuan membuat / tulisan berupa geguritan  pada siswa kelas IX-D  SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun meningkat minimal berkategori baik dengan nilai rerata 75 keatas. Sedangkan siswa yang dapat mencapai KKM yang ditetapkan meningkat menjadi 85% ke atas.
            Penelitian di atas merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus. Tiap siklus meliputi tahapan perencanan, tindakan, observasi dan refleksi.
            Tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan kemampuan menulis geguritan melalui model pembelajaran Examples  non examples pada kelas IX-D  Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015 SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun
            Berdasarkan hasil penelitian telah terbukti bahwa model pembelajaran Examples  non examples dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis khususnya dalam menulis geguritan. Hal ini didukung adanya data tentang peningkatan rerata kelas dalam setiap siklusnya, yakni siklus I mencapai 51,50, siklus II sebesar 80,06, dan siklus III meningkat menjadi 80,03, di samping itu juga diikuti adanya peningkatan prosentase ketuntasan belajar yang selalu meningkat dalam setiap siklusnya yaitu siklus I sebesar 15,63%, siklus II sebesar 81,25% dan siklus III yang merupakan siklus terakhir mencapai 93,75%.




PENDAHULUAN
Pembelajaran Bahasa Jawa bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bentuk lisan dan tulis (Depdiknas,2004;3) yang menyangkut empat keterampilan berbahasa yakni mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Kemampuan menulis dalam rangka mengungkapkan makna geguritan dalam teks report dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar, dan diterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari - hari merupakan salah satu kompetensi dasar yang wajib dikuasai kelas IX. Dengan demikian bagi siswa  Sekolah Menengah Pertama wajib dibelajarkan sejak dini. Menulis dalam rangka mengungkapkan makna geguritan dalam teks report sebagai salah satu materi ajar kelas IX diharapkan telah dikuasai siswa kelas IX-D
Menulis geguritan merupakan salah satu hasil karya yang memperkaya inspirasi kreatifitas wajib dilestarikan bahkan dikembangkan. Karena dengan menulis si penulis dapat menuangkan ide atau geguritannya kepada orang lain dengan menggunakan bahasa yang baik. Oleh karenanya pembelajaran menulis sebaiknya tidak hanya diajarkan secara sepintas saja. Memang kegiatan menulis merupakan hal yang kurang menyenangkan, sebaiknya bagi siswa yang kurang menyukai kegiatan menulis akan menganggap menulis sebagai kegiatan yang berat dan menyulitkan, sebab dalam kegiatan menulis memang memerlukan waktu, tenaga, dan pikiran yang banyak. Guru hendaknya menyadari bahwa menulis bagi siswa merupakan suatu langkah dalam mengembangkan daya nalar dan daya imajinasi siswa. Untuk itu seharusnya pembelajaran menulis diselenggarakan dalam iklim yang kondusif sehingga siswa kelas IX-D diharapkan memiliki kemampuan tinggi dalam hal menulis geguritan.
Kenyataan yang terjadi di kelas IX-D SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun sampai saat ini pengajaran menulis dalam Bahasa Jawadirasakan masih kurang optimal. Hal ini dapat diketahui dengan adanya keluhan-keluhan dari siswa yang merasa belum mampu menulis secara baik yang didukung dengan nilai ulangan harian yang masih rendah dengan rerata 54, dan siswa yang dinyatakan tidak dapat memenuhi standar ketuntasan minimal sebanyak 27 siswa atau 84,37%, dengan  KKM yang ditetapkan 75.
Hal tersebut ditengarai disebabkan oleh (1) guru menggunakan metode yang kurang bervariasi (2) Guru tidak menggunakan metode yang tepat (3) Materi pembelajaran tidak kontekstual. Masalah ini perlu segera dipecahkan sebab jika tidak akan membawa akibat yang fatal diantaranya (1) Siswa memiliki kemampuan rendah dibidang menulis (2) Nilai Bahasa Jawa rendah (3) Prestasi belajar secara umum rendah (4) Siswa tidak naik atau tidak  lulus.
Untuk memecahkan masalah di atas peneliti menawarkan penerapan model pembelajaran Examples  non examples dalam meningkatkan kemampuan menulis geguritan. Penerapan model pembelajaran Examples  non examples sangat dimungkinkan adanya diskusi siswa karena menggunakan gambar-gambar yang bervariasi, sehingga menarik perhatian siswa. Diharapkan dengan penggunaan model pembelajaran Examples  non examples ini kemampuan menulis dalam  geguritan pada siswa kelas IX-D SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun meningkat minimal berkategori baik dengan nilai terendah KKM dapat tercapai.

RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah : “Bagaimana model pembelajaran Examples  non examples dapat meningkatkan kemampuan menulis  geguritan  di kelas IX-D SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015. “

TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah : Meningkatkan kemampuan menulis  untuk mengungkapkan geguritan dalam teks report melalui penerapan model pembelajaran Examples  non examples siswa kelas IX-D SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015.

HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis tindakan dirumuskan sebagai berikut : “Jika dalam mengajar Bahasa Jawa menerapkan model pembelajaran Examples  non examples maka kemampuan menulis  dalam Bahasa Jawa khususnya geguritan  siswa di kelas IX-D SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015 akan meningkat.”

MANFAAT PENELITIAN
1.    Bagi Siswa
a.     Meningkatkan minat dan aktivitas belajar siswa pada pelajaran Bahasa Jawa melalui kerjasama kelompok.
b.    Melatih ketrampilan sosial siswa melalui kerjasama kelompok
c.     Melatih siswa untuk mengemukakan pendapat dengan mengajukan pertanyaan atau permasalahan.
d.    Membantu ketrampilan berfikir siswa secara aktif melalui pengajuan masalah.
2.    Bagi Peneliti
Sebagai wahana untuk mengembangkan profesionalisme dan wawasan keilmuan khususnya tentang strategi pembelajaran Bahasa Jawa.
3.    Bagi Guru
Dapat menjadi salah satu model pembelajaran untuk diterapkan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Jawa.
4.    Bagi Lembaga Pendidikan dan Sekolah Terkait
Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran demi peningkatan mutu pendidikan khususnya pembelajaran dalam mata pelajaran Bahasa Jawa

RUANG LINGKUP PENELITIAN
1.    Penelitian Tindakan Kelas ini membahas tentang upaya meningkatkan kemampuan menulis dalam Bahasa Jawa khususnya geguritan dengan menggunakan model pembelajaran Examples  non Examples.
2.    Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun.
3.    Subyek penelitian kali ini adalah siswa kelas IX-D SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015 yang jumlahnya 32  siswa.

DEFINISI OPERASIONAL PENELITIAN
1.    Menulis dalam penelitian ini mengacu pada Kompetensi Dasar di kelas IX semester genap yaitu  menulis dalam mengungkapkan geguritan dalam teks report..
2.    Model Pembelajaran Examples  non examples salah satu model pembelajaran yang langkahnya : mempersiapkan gambar untuk ditempel di papan tulis dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, siswa berdiskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, siswa mempresentasikan hasil kelompok, siswa bersama-sama guru menyimpulkan, evaluasi, refleksi.

KAJIAN PUSTAKA
Hakikat Kemampuan Menulis
1.    Pengertian
Kemampuan adalah kesiapan mental dan intelektual baik terwujud kematangan sikap dan pengetahuan maupun keterampilan yang digunakan untuk menemukan kebutuhan (Tanuwijaya etal. 1996:8). Menurut Purwo (1991).

2.    Ragam Tulisan
Menurut Marwoto (1987:152) tulisan secara umum dapat dikembangkan dalam 4 bentuk yaitu :
a.     Narasi, merupakan bentuk tulisan yang bertujuan menyampaikan atau  mencerita­kan rangkaian peristiwa atau pengalaman dari waktu ke waktu. Tulisan narasi sering disebut sebagai cerita yang bersifat menceritakan suatu peristiwa yang disusun sedemikian rupa dan runtut sehingga menimbulkan pengertian-pengertian yang merefleksikan interpretasi penulis.
b.    Report (Laporan), adalah tulisan yang bertujuan menjelaskan atau memberikan informasi tentang sesuatu. Karangan report berwujud gagasan yang memberikan, mengupas, atau menguraikan sesuatu penyuluhan tanpa disertai desakan atau paksaan kepada pembacanya agar yang dipaparkan sebagai sesuatu yang benar.
c.     Diskripsi, diartikan sebagai tulisan yang membangkitkan kesan atau impresi seseorang melalui uraian atau lukisan tertentu. Sehingga tulisan ini terutama digunakan untuk membangkitkan kesan atau impresi tentang seseorang, tempat, suatu pemandangan yang semacam itu.
d.    Argumentasi, adalah tulisan yang isinya terdiri dari paparan, alasan atau penyitesisan pendapat untuk membangun sesuatu kesimpulan.
 Selain keempat hal tersebut di atas dikenal adanya puisi atau dalam Bahasa Jawa “geguritan”. Adapun geguritan bisa diterang­kan sebagai berikut :
a.    Pengertian
Guritan iku wujude puisi Jawa kang ditulis kanthi adhedhasar pengalamane pangripta (penulis) migunakake basa kang ringkes sarta ngemu teges kang mentes. Kejaba iku isi / piweling kang kinandhut sajroning guritan bisa wae wedharan pengalaman kang nyenengake apadene pengalaman kang ora nyenengake. Dene pengalaman iku bisa wae minangka pengalaman pribadi utawa pengalamane wong liya, kang diweruhi dhewe kedadeyane, utawa olehe ngrungokake / maca saka crita / pawarta.
Ajar nulis guritan sejatine ora angel jalaran saben pawongan satemene duwe pangrasa kang bisa diwedharake lelandhesan pengalaman uripe. Mung wae akeh pawongan (siswa / siswi) kang wis kadhung duwe panemu yen ngrita guritan iku kudu migunakake basa kang ndakik-ndakik endahe, kudu ngemu teges entar (bermakna konotatif), kudu tansah milah lan milih tembung kanthi trep, lan sapanunggalane. Sejatine kang wigati nalika para siswa / siswi duwe pangangen-angen kang wus jumbuh karo pangrasane, mula age-age wae diwujudake ing basa tinulis senajan migunakake basa prasaja lan sagaduk-gaduke. Karya sastra awujud basa tinulis kang nuduhake ciri-ciri guritan wis kena diarani guritan.
b.    Ciri-ciri geguritan
1)    Panulise kerep migunakake basa kang endah (nengenake kagunan endahing basa).
2)    Basa kang digunakake ringkes lan ngemu teges mentes.
3)    Wedharane biasane awujud “monolog”
c.     Tata cara nulis geguritan
1)    Tema
Kang dikarepake tema ing kene yaiku bab / perkara kang bakal dadi underan panulise guritan, umpamane : Panguripan, Lingkungan, Kabudayan, Kesenian, Ekonomi, Sekolah, lan sapiturute.
2)    Milih tembung (diksi)
Pamilihe tembung kanggo nulis guritan kudu dijumbuhake karo underane perkara kang arep diwedharake ing guritan.
3)    Ngrakit tembung-tembung supaya dadi ukara.
Ngrakit tembung sajroning karya sastra kayadene guritan iku biasane ora ngugemi marang paugeran tata tulis basa kang baku. Pangripta kene wae ngolak-ngalik lan munggel tembung utawa nggandhengake tembung kang sejatine dudu gathukane kanthi tujuan tetamtu kanggo nuwuhake teges anyar (penafsiran).
3)    Ngrakit ukara-ukara dadi guritan prasaja.
4)    Pamilihe tembung : Tembung-tembung sing gegayutan karo donyane sekolahan, umpamane : biji, telu, guru, elek, ora sinau, kumawani, bengi, ulangan, ngonto, guru, piwulangan, lsp.
5)    Ngrakit tembung-tembung supaya dadi ukara
6)    Ngrakit ukara-ukara supaya dadi guritan
d.    Werna-werna model panulising geguritan
1)    Model Jeneng
Nulis guritan model jeneng yaiku nulis guritan kang pangrakite saben ukara diwiwiti saka aksara-aksara jenenge wong kang arep dianggo nulis guritan iku mau. Mula saka iku sadurunge nulis guritan luwih dhisik kudu nemtokake “Jeneng” kang didadekake bakalane guritan mau. Aksara-aksara mau panatane mudhun jalaran kanggo miwiti medharake gagasan ing saben ukara (larik).
2)    Model “Definisi”
Nulis guritan model definisi iki carane negesi utawa njlentrehake angen-angen kang arep didadekake guritan. Mula saka kuwi sadurunge kudu wis ditetepake apa sing arep dadi wedharan mengkone. Dene ukara-ukarane kanggo nuduhake manawa iku wujud wedharan mula tansah migunakake tembung YAIKU.
3)    Model Wedharan
Guritan model wedharan mujudake guritan kang surasane njlentrehake utawa nggambarake endahe kahanan sawijining papan. Biasane kang dadi underan guritan model wedharan iki kayadene : alam pagunungan, pasawahan, grojogan, wadhuk / dam, lsp.
4)    Model Bebas
Guritan model Bebas mujudake guritan kang medharake rasa-pangrasa kang metu saka telenging atine pangripta jalaran rumangsa jengkel, kuwatir, prihatin, seneng, kasepen, susah, lan liya-liyane. Dene isine bisa awujud pitutur / piweling,pangudarasa, payendhu lan sapiturute.

3.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Kemampuan Menulis
Secara terperinci faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar itu adalah :
a.     Sifat pribadi siswa
Sifat pribadi siswa meliputi :
1)    Kemauan atau kehendak
2)    Kemampuan
3)    Kesempatan
b.    Keadaan bahan yang dipelajari
c.     Faktor-faktor yang berhubungan dengan proses belajar
d.    Proses belajar dan ingatan
e.     Hubungan antara proses belajar dan kematangan

4.    Penilaian Kemampuan Menulis
Menurut Noehi Nasution (1999:126) menyatakan : pelaksanaan penilaian dapat dilaksanakan secara lisan, tertulis, dan dengan perbuatan atau melakukan sendiri. Teknik yang akan digunakan tergantung dari berbagai faktor  antara lain waktu, dana, peralatan yang diujikan.
a.     Materi. Materi pembelajaran sekolah menyangkut pengembangan kemampuan proses berfikir (kognitif, psikomotorik dan afektif).
b.    Alat yang digunakan. Alat yang digunakan dalam penilaian tergantung dari jenis materi yang dinilai.

Model Pembelajaran Examples  non examples
Menurut Suyatno. Diposing 46.40.00. Komentar 2008  Model Pembelajaran Examples  non examples salah satu model pembelajaran yang sintaksnya :
1.    Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
2.    Guru menempelkan gambar di papan tulis atau ditayangkan melalui LCD
3.    Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar.
4.    Melalui diskusi kelompok 45 orang siswa, hasil diskusi analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
5.    Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
6.    Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
7.    Kesimpulan.

METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
1.    Lokasi Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul  “Pembelajaran Examples  non examples untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis  Geguritan Siswa Kelas IX-D Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015 SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun” dilaksanakan di SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun yang terletak di jalan Adil Makmur no. 95 Kelurahan Bangunsari  Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun Provinsi Jawa Timur.
2.    Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IX-D pada semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015  SMP Negeri 1 Dolopo sejumlah 32  siswa yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 25 siswa perempuan.

Rancangan Penelitian
1.    Perencanaan
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini direncanakan dalam 3 siklus, tiap siklus terdiri dari 2 pertemuan, tiap pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran (2 X 40 menit), namun apabila pada siklus II telah terjadi peningkatan secara baik maka tidak dilajutkan pada siklus III. Setiap siklus dalam penelitian ini mencakup 4 tahap yaitu (1) perencanaan (2) tindakan (3) observasi (4) refleksi.
Pada tahap perencanaan ini peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut :
a.     Menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan kebutuhan penelitian tindakan kelas
b.    Menyusun rancangan pelaksanan dalam bentuk rencana pembelajaran.
c.     Menyiapkan alat peraga pendidikan yang diperlukan dalam proses kegiatan belajar mengajar berupa gambar.
d.    Menyusun pedoman pengamatan, wawan­cara dan jurnal.
e.     Menyusun rancangan program evaluasi.

2.    Tindakan
Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut :
a.     Guru menyiapkan gambar-gambar sesuai tujuan pembelajaran
b.    Guru menempelkan gambar-gambar di papan tulis atau ditayangkan melalui LCD.
c.     Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar.
d.    Melalui diskusi kelompok 4-5 orang siswa menganalisa gambar, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
e.     Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
f.     Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
g.    Kesimpulan

3.    Observasi
Pengamatan dilakukan oleh wali kelas IX-D, meliputi aspek-aspek :
a.     Posisi badan siswa saat menulis
b.    Kejelasan terhadap informasi yeng diterima dari model Examples  non examples.
c.     Tanggapan siswa terhadap tugas yang dibebankan.
d.    Kelengkapan peralatan tulis menulis siswa.
e.     Situasi dan kondisi kelas sebagai ruang belajar.

4.    Refleksi
Berdasarkan hasil observasi, dilakukan refleksi. Adapun refleksi ini dilakukan oleh peneliti dan pengamat yang hasilnya sebagai dasar penentuan tindakan pada siklus berikutnya. Refleksi meliputi :
a.     Pengungkapan hasil pengamatan oleh peneliti. Pengungkapan perlakuan-perlakuan yang telah dilakukan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar.
b.    Pengungkapan perlakuan-perlakuan yang telah dilakukan guru selama mengajar.
c.     Pengungkapan iklim pembelajaran menulis menulis geguritan dengan model Examples  non examples. Sesudah mengadakan refleksi pada siklus pertama maka guru melakukan tindakan remidial rencana kegiatan. Pada siklus II ini pada dasarnya sama dengan siklus I, namun fokusnya terletak pada sasaran perbaikan pada siklus pertama. Jika hasil penelitian telah memenuhi standar indikator kinerja dimungkinkan siklus dihentikan.

Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah :
1.    Data tentang kemampuan mengungkapkan gagasan dalam menulis geguritan.yang diperoleh dari tes.
2.    Data tentang aktivitas siswa dan guru diperoleh dari observasi.
3.    Data tentang minat siswa diperoleh dari angket dan catatan lapangan.

Instrumen Penelitian
Instrument yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas guna memperoleh data adalah :
1.    Tes
Tes digunakan untuk mengukur kemampuan mengungkapkan gagasan dalam menulis geguritan. Sedangkan jenis tes yang digunakan adalah tes tertulis. Adapun kriteria penilaian tes tersebut meliputi :
a.     Kesesuaian antara isi dengan tema
b.    Tata bahasa
c.     Kosa kata
d.    Ketepatan struktur teks
e.     Tanda baca
Penskoran tes tertulis, menggunakan pedoman sebagai berikut
SKOR
KETERANGAN
20
Jika 1 kriteria terpenuhi
40
Jika 2  kriteria terpenuhi
60
Jika 3 kriteria terpenuhi
80
Jika 4  kriteria terpenuhi
100
Jika 5  kriteria terpenuhi

2.    Non tes
Instrument non tes yang digunakan berbentuk observasi, angket dan catatan lapangan seperti berikut :
a.     Pedoman observasi
Aspek – aspek yang diamati dalam observasi ini :
1)    Sikap positif siswa saat menulis
2)    Sikap negatif siswa saat menulis
3)    Respon positif siswa saat menulis
4)    Respon negatif  siswa saat menulis
b.    Angket
Menurut Suharsimi Arikunto 1993 : 124, angket atau questioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan pribadinya, atau hal-hal yang diketahui.
c.     Catataan Lapangan
Setiap selesai membelajarkan menulis untuk mengungkapkan gagasan dalam menulis geguritan, peneliti membuat catatan lapangan, guru sebagai “self reflection” yang mengungkap beberapa aspek diantaranya :
1)    Sikap positif siswa saat menulis
2)    Sikap negatif siswa saat menulis
3)    Respon negatif siswa saat menulis
4)    Respon positif siswa saat menulis
   Siswa juga membuat jurnal setiap kali selesai pembelajaran, membuat kalimat tanya, catatan siswa ini mengungkapkan aspek-aspek :
·      Penyebab kesulitan menulis
·      Penyebab keberhasilan menulis
·      Sikap siswa saat menulis
·      Kesan siswa terhadap guru pada waktu mengajarkan menulis

Analisis Data
Analisis diskriptif terhadap kemampuan menulis untuk  mengungkapkan gagasan dalam menulis geguritan dilakukan dengan mentabulasi data masing-masing ubahan untuk mencari statistik deskriptif berupa harga rerata, nilai tertinggi, nilai terendah, presentasi ketuntasan dan ketidaktuntasan. Adapun standar ketuntasan belajar minimal yang ditetapkan 75. Untuk tujuan tersebut, kelas interval dibuat untuk menggambarkan distribusi frekuensi data.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian Siklus I
a.    Perencanaan
Pada siklus I, peneliti menyiapkan kegiatan pembelajaran yang mengikuti 1 alur sebagai berikut :
1)    Menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan kebutuhan penelitian tindakan kelas.
2)    Menyusun rancangan perlakuan dalam bentuk rencana pembelajaran.
3)    Menyiapkan alat peraga pendidikan yang diperlukan dalam proses kegiatan belajar mengajar.
4)    Menyusun pedoman pengamatan, wawancara dan jurnal.
5)    Menyusun rancangan program evaluasi.
b.    Tindakan
Pada waktu berlangsung kegiatan belajar mengajar menulis untuk  menulis  geguritan, guru memberi penjelasan tentang cara menulis  geguritan yang benar. Para siswa diharap memusatkan perhatiannya pada guru sebagai nara sumber belajar dan media gambar khususnya serta menyiapkan alat tulis menulis yang dibutuhkan. Kemudian guru memberi contoh sederhana dan memaparkan kriteria penilaian menulis geguritan. Guru memberi tugas kepada siswa untuk  menulis  geguritan sesuai gambar yang dilihat di kelas dengan alokasi waktu 40 menit. Pada tahap ini pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Rabu, 4 Februari 2015 dan pertemuan ke-2 pada hari Rabu, 11 Februari 2015
c.     Observasi
Pada siklus I ini pengamatan meliputi aspek-aspek atara lain :
1)    Posisi badan siswa saat menulis
2)    Kejelasan terhadap informasi gambar yang dilihatnya
3)    Tanggapan siswa terhadap tugas yang dibebankan
4)    Kelengkapan peralatan tulis menulis siswa
5)    Situasi dan kondisi kelas sebagai ruang belajar
d.    Refleksi
1)    Pengungkapan hasil pengamatan oleh peneliti. Setelah pengamatan dilakukan, maka didapati adanya posisi tempat duduk siswa pada saat menulis untuk  menulis  geguritan kurang sempurna. Di sini terlihat masih terdapat siswa yang menulis sambil menyandarkan kepala di meja, ada pula yang menulis dengan posisi jarak mata dengan buku terlalu dekat. Adapun media yang disajikan sebagai sumber informasi menulis cukup jelas, terbuti tidak ada satupun siswa yang mananyakan kejelasan informasi dari gambar. Siswa juga terlihat tanggap terhadap tugas yang diberikan, siswa mulai merasakan adanya kesulitan dalam menulis untuk  menulis  geguritan, sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan dari siswa sehingga suasana kelas menjadi gaduh.
2)    Pengungkapan perlakuan-perlakuan yang telah dilakukan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar. Siswa tampak mengikuti kegiatan belajar mengajar secara aktif, meskipun ada bebarapa siswa yang kurang tertarik terhadap pelajaran menulis untuk  menulis  geguritan. Dengan adanya kesulitan yang dihadapi sewaktu melaksanakan tugas siswa berusaha untuk bertanya kepada guru, sehingga terjadi diskusi kelas yang merangsang siswa untuk berimajinasi.
3)    Pengungkapan perlakuan-perlakuan yang telah dilakukan guru selama mengajar. Selama mengajar guru berupaya memberi penjelasan secara jelas tentang cara menulis untuk  menulis  geguritan, bahkan guru selalu melayani bimbingan individu secara efektif, supaya siswa dapat menulis untuk  menulis  geguritan. Guru mengajar sesuai skenario pembelajaran tanpa ada kendala yang berarti.

Hasil Penelitian Siklus II
a.    Perencanaan
1)    Menyusun remedial rencana pembelajaran sesuai dengan karakteristik penelitian tindakan kelas
2)    Menyusun perbaikan rencana pembelajaran
3)    Menyusun perbaikan pedoman observasi, wawancara dan jurnal
4)    Menyusun perbaikan rancangan evaluasi program 
b.    Tindakan
Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap tindakan siklus II ini mencakup remedial kegiatan yang dilakukan pada siklus I. Media gambar yang digunakan pada kegiatan belajar mengajar ini berupa gambar binatang. Diharapkan media gambar ini lebih menarik perhatian siswa. Guru mengingatkan aturan-aturan tentang cara menulis untuk  menulis  geguritan yang benar, dan kriteria penilaian menulis untuk  menulis  geguritan. Siswa diharap duduk di tempat yang nyaman, dan menyediakan alat peraga pendidikan yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas menulis untuk  menulis  geguritan dalam waktu 30 menit. Siklus II ini dilaksanakan pada hari  Rabu, 18 Februari 2015 dan Rabu, 25 Februari 2015.
c.     Observasi
Pemantauan dilakukan secara rinci atas semua perlakuan kegiatan ini diikuti dengan pencatatan, sehingga memungkinkan peneliti mendapatkan temuan perlakuan. Pada tahap pengamatan ini diharapkan siswa mulai memiliki kemauan untuk menulis dalam tulisan sederhana meskipun belum memenuhi kriteria menulis untuk  menulis  geguritan yang benar. Kemungkinan juga sering terjadi kesalahan penggunaan tanda baca, maupun penyusunan kalimat, bahkan sering ditemui kalimat rancu dalam menulis untuk  menulis  geguritan. Namun demikian suasana kelas nampak lebih aktif dibanding dengan siklus sebelumnya walaupun belum harmonis.
d.    Refleksi
1)    Pengungkapan hasil pengamatan oleh peneliti. Selama proses pembelajaran berlangsung, suasana kelas tampak lebih harmonis. Di sini terlihat pula bahwa minat siswa untuk menulis sudah meningkat, terbukti posisi menulis siswa sudah sempurna dan mereka asyik menulis untuk  menulis  geguritan, meskipun secara sepintas tulisan siswa belum sempurna, baik dalam hal teknis penulisan, ejaan, penggunaan tanda baca maupun penguasaan kosa kata, sehingga banyak kata yang diulang dan masih terdapat banyak kalimat rancu dalam tulisan siswa.
2)    Pengungkapan tindakan-tindakan yang telah dilakukan siswa selama proses belajar. Selama mengikuti proses pembelajaran siswa kelihatan aktif, mereka tak segan untuk bertanya tentang penjelasan guru maupun hal-hal yang masih dirasa sulit dalam menulis geguritan. Siswa dengan tekun mengerjakan tugas menulis untuk  menulis  geguritan. Hanya beberapa siswa yang kelihatan belum paham tentang tugas yang harus dikerjakan. Siswa dengan asyiknya mencermati gambar sebagai acuan menulis untuk  menulis  geguritan.
3)    Pengungkapan tindakan-tindakan yang dilakukan guru selama mengajar.

Hasil Penelitian Siklus III
a.    Perencanaan
1)      Menyusun perbaikan rencana pembelajaran sesuai dengan paradikma penelitian tindakan kelas.
2)      Menyusun perbaikan rancangan perlakuan dalam bentuk rencana pembelajaran
3)      Menyusun perbaikan pedoman wawancara
4)      Menyusun perbaikan rancanan program evaluasi
5)      Menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan dalam proses kegiatan belajar mengajar
b.    Tindakan
Pada tahap tindakan ini dilaksanakan berbagai kegiatan, diantaranya perbaikan kegiatan yang telah dilakukan pada siklus II. Siswa yang belum memiliki kemampuan menulis dan memang siswa yang belum dapat menulis untuk  menulis  geguritan diberi kesempatan lagi. Seperti halnya pada siklus-siklus sebelumnya, guru memberi penjelasan ulang cara menulis untuk  menulis  geguritan yang benar serta menjelaskan kriteria penilaian tulisan pada siklus III ini diharapkan siswa memiliki minat dan motivasi yang kuat untuk menulis yang lebih baik daripada hasil yang diperoleh pada tahap sebelumnya. Agar iklim pembelajaran di kelas lebih menyenangkan, guru memanfaatkan model Examples  non examples secara bergantian yang selalu berbeda pada setiap putarannya. Pada kesempatan ini media yang digunakan adalah gambar yang ditampilkan di depan kelas. Guru memberi tugas menulis untuk  menulis  geguritan dengan alokasi waktu 30 menit. Siklus III ini dilaksanakan pada hari Rabu, 4 Maret 2015 dan Rabu, 11 Maret 2015.
c.     Observasi
Observasi dilakukan secara teliti dan terperinci atas semua tindakan. Observasi ini dibarengi dengan pencatatan atas semua tindakan yang terjadi, yang memungkinkan peneliti menemukan temuan-temuan tindakan. Tujuan observasi ini adalah untuk mengetahui kemajuan menulis setalah memanfaatkan model pembelajaran Examples  non examples secara berbeda.
d.    Refleksi
1)    Pengungkapan hasil observasi oleh peneliti. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan guru selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, ditemui adannya minat siswa untuk menulis untuk  menulis  geguritan semakin besar. Hal ini terlihat ketika guru memasang gambar di depan kelas, siswa bersorak gembira dan meminta guru agar memberi tugas menulis untuk  menulis  geguritan berdasarkan gambar yang dilihat di depan kelas. Guru berusaha memberi keterangan ulang teknik menulis untuk  menulis  geguritan dengan benar termasuk mengingatkan ketelitian siswa dalam menulis kalimat, penggunaan huruf besar maupun ejaan, serta memberi kesempatan siswa untuk bertanya, khususnya bagi siswa yang belum dapat menulis untuk  menulis  geguritan secara benar. Siswa telah mengambil tempat duduk dengan nyaman dan posisi yang benar. Suasana kelas kelihatan menyenangkan, bahkan ketika waktu menulis telah selesai siswa berteriak kecewa.
2)    Pengungkapan tindakan-tindakan yang dilakukan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar. Selama mengikuti kegiatan belajar mengajar, kamauan menulis siswa menunjukkan adannya suatu peningkatan, terbukti ketika guru masuk kelas siswa meminta tugas untuk menulis untuk  menulis  geguritan. Siswa berebut ke depan kelas memasang gambar. Saat guru memberi keterangan ulang tentang cara menulis untuk  menulis  geguritan, sebagian besar siswa dapat memahami penjelasan guru, bahkan ada siswa yang mampu memberi penjelasan kepada siswa yang lain meskipun secara sederhana sekali.
3)    Pengungkapan tindakan-tindakan yang dilakukan guru selama proses kegiatan belajar mengajar. Selama proses pembelajaran berlangsung guru berupaya melaksanakan tugas mengajarnya sesuai denga skenario kegiatan belajar mengajar yang telah disusunnya serta menggunakan media yang telah dipilihnya sesuai pripsip-prinsip dan karakteristik yang dimilikinya.
Data hasil penelitian siklus III berikut ini : jumlah siswa tuntas belajar 30 orang (93,73%), jumlah siswa tidak tuntas belajar 2 orang (6,25%), nilai tertinggi 94, nilai terendah 62, rerata 80,06.Temuan kedua dibuktikan dengan adanya peningkatan perolehan hasil belajar dari tes menulis untuk  menulis  geguritan. Pada siklus sebelumnya diperoleh nilai rerata 75,63 meningkat menjafi 80,06 pada siklus III. Adapun prosentase ketuntasan juga mengalami peningkatan, 81,25% pada siklus II mencapai dan 93,75% Pada siklus III.

Diskripsi Data Penelitian
Untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik data, maka pada bagian ini disajikan data berupa rekapitulasi hasil tes setiap siklus, skor tertinggi, skor terendah, harga rerata (Mean) untuk semua siklus penelitian.
Tabel Rekapitulasi Data Hasil Penelitian

PEMBAHASAN
Kemampuan siswa untuk menulis untuk  menulis  geguritan pada siklus I menunjukkan bahwa siswa yang tergolong pada kategori rendah, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian siswa masih berkemampuan rendah dalam menulis untuk  menulis  geguritan, meskipun telah terjadi peningkatan setelah siswa mengikuti proses kegiatan belajar mengajar yang memanfaatkan model Examples  non examples sehingga dapat diartikan bahwa peningkatan yang dicapai siswa belum merubah posisi kemampuan siswa.
Hasil penelitian pada siklus II menunjukkan bahwa siswa  termasuk kategori cukup.  Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa sebagian besaar siswa memiliki kamampuan cukup dalam hal menulis untuk  menulis  geguritan, atau dapat diartikan bahwa sebagian besar siswa cukup dapat menulis untuk  menulis  geguritan. Peningkatan kemampuan pada siswa ini dimungkinkan karena media yang digunakan guru selalu bervariasi sehingga dapat menarik pethatian siswa, serta adanya keseriusan dan ketekunan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis untuk  menulis  geguritan.
Pada siklus III diperoleh hasil yanng menunjukkan ketegori kemampuan siswa dalam menulis untuk  menulis  geguritan tinggi. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dalam menarik kesimpulan bahwa sebagian besar siswa mampu menulis untuk  menulis  geguritan dengan baik. Atau dapat diartikan bahwa kemampuan siswa dalam menulis geguritan tinggi. Tingginya peningkatan kemampuan siswa dalam menulis ini disebabkan siswa telah memiliki tanggapan yang positif terhadap menulis untuk  menulis  geguritan yang ditunjang adanya rincian kegiatan pembelajaran yang menyenang­kan disertai model pembelajaran Examples  non examples yang bervariasi.
Siklus III merupakan siklus terakhir pada penelitian ini. Berdasarkan analisis data hasil penelitian pada putaran ini menunjukkan  kategori tinggi.
Peranan model Examples  non examples dalam meningkatkan kemampuan menulis untuk  menulis  geguritan ini ditandai dengan adanya peningkatan nilai rerata (mean score ) mulai dari siklus pertama sampai siklus terakhir yaitu siklus I  51,50; siklus II 75,63 ; dan siklus III 80,06. Selain ditandai adanya peningkatan mean score juga ditandai adanya peningkatan prosentase ketuntasan belajar dari siklus pertama hingga siklus terakhir, yaitu pada siklus I hanya 15,63%, siklus II meningkat menjadi 81,25% pada siklus III terjadi peningkatan menjadi 90,75 %.
Penggunaan model Examples  non examples dalam proses kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan kemampuan menulis untuk  menulis  geguritan, karena model pembelajaran Examples  non examples mampu menjelaskan kerangka tulisan yang akan dikembangkan siswa dalam menulis.
Di uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa model Examples  non examples dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan menulis  geguritan.              

PENUTUP
Simpulan
1.    Dengan penggunaan model Examples  non examples menunjukkan bahwa perolehan hasil belajar menulis geguritan mengalami peningkatan yang positif, pada siklus awal terbukti kemampuan siswa dalam menulis berada pada kategori rendah, dan pada siklus terakhir berada pada kategori tinggi.
2.    Tingkat ketuntasan belajar menulis geguritan pada siklus pertama yang tuntas hanya 2 dan yang dinyatakan tidak tuntas 30, namun pada siklus terakhir hampir semua siswa mampu memenuhi standar ketuntasan belajar minimal dalan menulis geguritan, hanya satu siswa yang tidak tuntas.

Saran
1.    Guru
Hendaknya guru bersedia mencoba menggunakan media pembelajaran khususnya Examples  non examples secara bervariasi dalam proses pembelajaran menulis geguritan, maka disarankan agar berusaha mengembang­kan sendiri bentuk model pembelajaran Examples  non examples karena lebih sesuai dengan situasi dan kondisi kelas yang dibinanya.
2.    Kepala Sekolah
Kepala sekolah hendaknya lebih mendorong agar guru yang dipimpinnya melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan berupaya melakukan perubahan-perubahan terhadap strategi pembelajarn, pengembangan materi pembelajaran dan media yanng digunakan, sebab hanya dengan jalan inilah nantinya para guru dapat meningkatkan mutu pembelajaran yang pada akhirnya bermuara pada meningkatnya kemampuan belajar siswa. Apabila para guru telah berhasil menciptakan strategi, media pembelajaran yanng ,menarik, niscaya para siswa akan memiliki respon yang positif, dan motivasi belajar yang tinggi demi meraih cita-citanya kelak dikemudian hari.
3.    Peneliti Lanjutan
Para peneliti lanjutan yang tertarik untuk menggunakan Penelitian Tindakan Kelas ini, disarankan agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.     Perlu menyesuaikan keluasan, kedalaman materi, dan media pembelajaran dengan tingkat kematangan siswa, dan alokasi waktu yang tersedia.
b.    Skenario atau Rencana Pembelajaran yang akan digunakan sebagai pedoman pelaksanaan tindakan.
c.     Pemantauan dan pengukuran terhadap fokus penelitian hendaknya dipersiapkan secara matang




DAFTAR PUSTAKA

Ali, Lukman dkk,1966, KBBI, Jakarta; Balai Pustaka
Depdiknas, 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah, Jakarta. Dirjen Dikdasmen
Nurgiyantoro, Burhan, 1988. Penilaian Dalam Pengajaran Bahasa, Yogyakarat, BPFE
Parera, J. D. 1984, Menulis Tertib dan Sistematis, Jakarta ; Erlangga
Purwanto, M. Ngalim, 1990 Psikologi Pendidikan, Bandung : Rosdakarya
Sardiman, A. M. 1994, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : Raja Grafindo Persada
Semi, M. Atar, 1990, Menulis Efektif, Padang ; Angkasa Raya.
Tarigan, H. G. 1986. Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa, Bandung ; Angkasa
Widyamartaya, 1993, Seni Menciptakan Makna : Bagaimana Mengapresiasi Daya Pikir Secara Kreatif, Yogyakarta ; Kanisius


Tidak ada komentar:

Posting Komentar