Minggu, 04 September 2016

PENINGKATAN KEMANDIRIAN DAN PRESTASI BELAJAR BAHASA JAWA MELALUI BLOG SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA SISWA KELAS VIII A SMPNEGERI 1 JIWAN SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2012 /2013

PENINGKATAN KEMANDIRIAN DAN PRESTASI BELAJAR BAHASA JAWA MELALUI BLOG SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA SISWA KELAS VIII A SMPNEGERI 1 JIWAN SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2012 /2013

SUPATMI , S.Pd
SMPNEGERI 1 JIWAN KABUPATEN MADIUN


Abstrak :
Kata Kunci  : Kemandirian, Prestasi Belajar, blog sebagai media

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian dan prestasi belajar bahasa Jawa dengan blog sebagai media pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar bahasa Jawa kelas VIII A SMPN 1 Jiwan  masih kurang mandiri. Bertolak dari kenyataan inilah maka penelitian ini dilaksanakan, dengan upaya untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa mata pelajaran bahasa Jawa.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun Tapel 2012 /2013 dengan jumlah siswa sebanyak 25 siswa. Penelitian ini dilakukan sebanyak dua siklus dengan dua kali pertemuan di setiap siklusnya. Rancangan penelitian tindakan tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Hasil penelitian ini menunjukkan dengan blog sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan kemandirian dan prestasi belajar siswa bahasa Jawa pada siswa kelas VIII A SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun. Hal ini ditandai dengan peningkatan hasill prosentase angket respon siswa indikator kemandirian belajar siswa yang berupa motivasi sebelum tindakan hingga setelah tindakan siklus I yaitu dari 39,5% menjadi 66%, kemudian menjadi 83,5% pada siklus II. Berupa kedisiplinan sebelum tindakan hingga setelah tindakan siklus I yaitu dari 40% menjadi 68,25%, kemudian menjadi 86,5% pada siklus II. Berupa inisiatif dan kreatif sebelum tindakan hingga setelah tindakan siklus I yaitu dari 47,75% menjadi 60,5%, kemudian menjadi 81,75% pada siklus II. Berupa tanggung jawab sebelum tindakan hingga setelah tindakan siklus I yaitu dari 46,25% menjadi 71,5%, kemudian menjadi 82,25% pada siklus II. Peningkatan prestasi belajar dapat dilihat dari hasil nilai rata-rata pretest sebelum menggunakan media blog sebesar 58,4, pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 66, kemudian pada siklus II mengalami peningkatan kembali menjadi 75,12. Selain itu, berdasarkan pengamatan selama penelitian berlangsung terdapat keberhasilan proses berupa peningkatan hasil indikator kemandirian belajar siswa yang berbentuk motivasi, kedisiplinan, inisiatif dan kreatif, serta tanggung jawab.






A.   PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi pada saat ini berkembang dengan pesat, salah satunya adalah internet. Perkembangan dunia internet saat ini begitu cepat, hal ini dikarenakan semua orang membutuhkan internet tanpa terkecuali dunia pendidikan. Proses pelaksanaan pembelajaran di SMP sudah seharusnya memanfaatkan inovasi-inovasi metode baru dalam menyampaikan materi. Dengan inovasi metode baru dalam pembelajaran agar membuat siswa tertarik dan senang mengikuti pelajran dengan harapan dapat meningkatakan kemandirian dan prestasi belajar.
Kegiatan belajar mengajar bahasa Jawa di SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun pada umumnya masih kurang mandiri, hal ini dikarenakan siswa kurang aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas dan cenderung pasif. Hal ini dikarenakan siswa masih bergantung pada guru dan peranan guru di kelas masih dominan.
Pemilihan metode, media, dan pendekatan dalam pembelajaran di kelas juga perlu dilakukan dalam upaya meningkatan kemandirian belajar siswa yang tercermin pada rendahnya mutu pendidikan yang tercermin pada rendahnya hasil belajar siswa. Hal ini disebabkan antara lain pendekatan dalam pembelajaran yang masih didominasi oleh guru yang menempatkan siswa sebagai objek, sehingga siswa banyak bergantung pada gurunya dalam proses belajar. Masalah itu terjadi terus-menerus selama siswa dalam proses pembelajaran di sekolah yang menyebabkan siswa tidak mandiri karena selalu bergantung dengan guru, oleh karena itu diperlukan upaya pembaharuan.
Kehadiran Teknologi Informasi (TI) dewasa ini mulai mempengaruhi penyelenggara­an pendidikan, berbagai model pengembangan pembelajaran berbasis TI ini seakan-akan tengah menjadi idola dan booming. Blog dengan segala kemudahan yang ditawarkanya dalam menulis dan posting artikel di internet, memberikan peluang dan nuansa baru dalam mendistribusikan pengetahuan kepada peserta didik karena tidak perlu memahami konsep pemrograman untuk bisa menggunakan­nya.
Blog memberikan sebuah peluang agar kegiatan belajar lebih menarik dan interaktif. Melalui blog, sumber-sumber materi yang relevan dapat dipublikasikan ke seluruh penjuru sehingga bisa diakses oleh siapapun. Dengan demikian kesulitan siswa dalam mengumpulkan sumber-sumber informasi yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dapat diatasi. Dengan adanya blog yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja, proses pembelajaran tidak berhenti hanya sampai di kelas saja. Dirumah, di warnet, atau dimanapun, para siswa bisa melanjutkan proses pembelajarannya dengan cara membaca tulisan dari gurunya di blog.
Media Blog adalah salah satu media pembelajaran yang mendorong siswa untuk dapat belajar mandiri tanpa tergantung dengan guru karena tujuan utama pembelajaran dengan blog adalah meningkatkan efisien dan efektifitas pembelajaran disekolah guna mencapai tujuan pembelajaran yang optimal.
Dengan media blog peserta didik mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk belajar sendiri, membaca uraian, dan petunjuk dalam lembaran kegiatan, menjawab pertanyaan-pertanyaan serta melaksanakan tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam setiap materinya. Karena itu peserta didik dalam batas-batas tertentu dapat maju sesuai dengan irama kecepatan dan kemampuan masingmasing dalam belajarnya.
Berdasarkan dari uraian-uraian di atas, maka diperlukan suatu media pembelajaran baru yang lebih efisien dan efektif dan sesuai dengan perkembangan jaman untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa di kelas VIII SMPN 1 Jiwan. Oleh karena itu penggunaan blog sebagai media pembelajaran sebagai upaya meningkatkan kemandirian dan prestasi belajar siswa kelas VIII A SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun  perlu diteliti.

B.   RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah “Apakah penggunaan blog sebagai media dapat meningkatkan kemandirian dan prestasi belajar Bahasa Jawa siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Jiwan Kabupaten Madiun Tapel 2012/2013?”.

C.   TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemandirian dan prestasi siswa dalam belajar dengan menggunakan blog sebagai media pembelajaran pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Jiwan Kabupaten Madiun.

D.   MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara praktis maupun teoritis. Manfaat penelitian secara praktis adalah sebagai berikut :
a)    penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar Bahasa Jawa.
b)    mengembangkan kemampuan guru dalam permasalahan pembelajaran di kelas, terutama permasalahan yang berkaitan dengan kemandirian belajar Bahasa Jawa,
c)    hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pengembangan proses pengajaran bahasa Jawa dalam meningkatkan kemandirian belajar Bahasa Jawa pada siswa.

E.   HIPOTESA TINDAKAN
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah dengan tindakan penggunaan blog sebagai media pembelajaran di VIII A SMP Negeri 1 Jiwan Kabupaten Madiun dapat meningkatkan kemandiri­an dan prestasi belajar bahasa Jawa.

F.   KAJIAN PUSTAKA
Kemandirian Belajar
Sistem pembelajaran mandiri merupakan sistem pembelajaran yang didasarkan kepada disiplin terhadap diri sendiri yang dimiliki oleh siswa dan disesuaikan dengan keadaan perorangan siswa yang meliputi kemampuan, ketepatan belajar, kemauan, minat, waktu yang dimiliki, dan keadaan sosial ekonominya (Haryono, 1986 : 75). Kemandirian belajar adalah sikap, kemauan siswa untuk melakukan kegiatan belajar secara individual atau sendiri tanpa adanya keharusan atau paksaan. Dalam hal ini merupakan kegiatan mandiri siswa untuk memperoleh apa yang dirasa dibutuhkan dan ingin segera dipenuhi.
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan sebagai suatu keadaan dapat berdiri sendiri tanpa tergantung kepada orang lain (Ali, 1994:625). Sedangkan menurut Kemp sebagaimana dikutip Pujiastuti (2003:34) belajar mandiri merupakan kegiatan belajar yang dilakukan sendiri, disertai rasa tanggung jawab sendiri dan sesuai dengan kecepatan dan minatnya sendiri. Dalam sistem ini diharapkan siswa mengandalkan diri sendiri dan meminimal­kan bantuan orang lain, namun bukan berarti dia harus belajar sendiri tetapi juga belajar secara kelompok. Menurut Sunardi (2001:64), belajar mandiri memiliki ciri utama bahwa siswa tidak bergantung pada pengarahan guru yang terus menerus, tetapi mereka mempunyai kreativitas dan inisiatif sendiri serta mampu untuk bekerja sendiri dengan merujuk bimbingan yang diperolehnya.
Kemandirian belajar khususnya pelajar, sesungguhnya merupakan upaya strategis merajut masa depan diri dan bangsanya. Dari sikap ini diharapkan tumbuh kemandirian dalam bersikap, berwirausaha, berdemokrasi, bermasyarakat, ber­bangsa dan bernegara. Kemandirian belajar dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau kondisi aktivitas belajar dengan kemampuan sendiri, tanpa tergantung kepada orang lain. Ia selalu konsisten dan semangat belajar dimanapun dan kapanpun. Dalam dirinya sudah melembaga kesadaran dan kebutuhan belajar melampaui tugas, kewajiban, dan target jangka pendek, nilai dan prestasi. Kondisi demikian telah menyadar­kan mereka pada belajar sepanjang hayat, long life education (http//pikiranrakyat.com/cetak/ 2006/042006/15/99forumguru.htm).
Menurut Arsyad (2007 : 3) kata media berasal dari bahasa latin “medius” yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Media apabila dipahami secara mendalam dapat berupa manusia, materi, atau kondisi yang membuat siswa memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau sikap. Secara khusus pengertian media dalam proses belajar mengajar lebih cenderung diartikan sebagai alat tulis grafis, fotografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Sedangkan Sadiman, (2003 : 6) mengemukakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Dari beberapa pendapat diatas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Blog merupakan singkatan dari "web blog" adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urut terbalik (isi terbaru dahulu baru kemudian diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut (http://id.wikipedia.org/wiki/Blog).

G.  METODE PENELITIAN
a)    Setting Penelitian
Objek sasaran penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Jiwan Kabupaten Madiun. Desain Penelitian Tindakan Kelas ini berbentuk Siklus yang terdiri dari dua siklus apabila hasil refleksi menunjukkan ada kekurangan, maka akan diperbaiki pada pelaksanaan siklus beikutnya

b)   Rencana Tindakan
Penelitian tindakan merupakan tindakan yang tersusun, dan dari segi definisi mengarah pada tindakan. Rencana bersifat fleksibel karena tindakan sosial dalam batas tertentu tidak dapat diramalkan. Rencana disusun berdasarkan hasil pengamatan awal yang reflektif. Adapun tahapan setiap siklus adalah perencanaan, pelaksanaan, observasi dan  refleksi.
Untuk menunjang validitas data dalam penelitian ini diperlukan data-data selama melaksana­kan tindakan sedang cara pengumpulan­nya melalui observasi, wawancara,  tes dan dokumentasi
Langkah–langkah proses penelitiannya adalah sebagai berikut :
SIKLUS I
1.    Perencanaan
a.     Membuat blog pembelajaran yang akan digunakan berisi materi sesorah atau pidato.
b.    Membuat Rencana Pembelajaran (RP) tentang materi yang akan di ajarkan dengan blog pembelajaran.
c.     Menyusun dan menyiapkan lembar observasi mengenai kemandirian belajar siswa
d.    Menyusun pedoman wawancara untuk guru.
e.     Memepersiapkan sarana dan media pembelajran yang akan digunakan.
2.    Pelaksanaan
a.       Pelaksanaan proses belajar mengajar di siklus I ini melipuiti kegiatan awal, inti dan penutup.
b.       Tahapan dalam Proses pembelajaran untuk meningkatkan kemndirian siswa meliputi :
1)    Guru megenalkan blog sebagai media pembelajaran pada siswa, siswa diminta membuka materi yang ada dalam blog dan memperhatikan materi yang ada.
2)    Siswa membuka materi yang ada dalam blog dan memperhatikan,
3)    Guru medistribusikan lembar kerja siswa
4)    Guru meminta siswa untuk segera mengerjakan soal latihan yang telah diberikan kepada siswa.
5)    Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya tentang materi pembelajaran.
6)    Guru berkeliling dan membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran  

3.    Monitoring atau Pengawasan
Pengawasan dilakukan selama tindakan berlangsung. Observer (peneliti) menggunakan instrumen antara lain lembar observasi yang dilengkapi dengan catatan lapangan. Aktivitas siswa menjadi fokus utama pengamatan. Hasil observasi digunakan sebagai data yang bersifat kualitatif untuk menilai keberhasilan penelitian secara proses.

4.    Evaluasi dan Refleksi
Evaluasi dan refleksi dilakukan denga cara mengumpulkan semua catatan dan data yang diperlukan selama pembelajaran. Kemudian semua catatan dan data tersebut dianalisis dan hasilnya didiskusikan dengan guru teman sejawat untuk mengetahui kebenaran data tersebut.
Untuk mengethui kemndirian siswa dalam pembelajaran ditentukan penggolongan persentase secara kolaboratif data kemandirian siswa yang menyangkut motivasi, inisiatif dan kreatif, kedisiplinan dan tanggung jawab siswa selama pembelajaran adalah :
·      81%-100% : sangat mandiri
·      61%-80% : mandiri
·      41%-60% : cukup mandiri
·      21%-40% : kurang mandiri
·      0%-20% : sangat kurang mandiri
Selain itu hasil refleksi dan evaluasi tersebut juga untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang masih terjsdi selama pembelajaran.
Dengan demikian peneliti dan guru menentukan tindakan ulang untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Tindakan ulang tersebut berupa siklus-siklus lanjutan dari siklus I. Kemudian diadakan refleksi dari data yang diperoleh dari lembar observasi untuk mengetahui tingkat kemandirian dan prestasi belajar dari tindakan yang telah dilakukan. Siklus diberhentikan bila proses pembelajaran sudah mencapai target kemandirian dan prestasi yang diinginkan.

SIKLUS II
Langkah–langkah Proses pembelajaran pada Siklus II pada hakekatnya tidak ada perbedaannya dengan Siklus I, namun untuk menambah kualitas pembelajaran melalui Blog, peneliti akan menambahkan video tentang sesorah pada blog  sehingga media akan lebih menarik dan untuk mengkaji keberhasilanya maka di Siklus II disusun instrumen kuesioner untuk siswa dan lember observasi untuk melihat keaktifan guru dalam  proses pembelajaran.

H.   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
SIKLUS I
Dari hasil angket respon siswa diperoleh data sebagai berikut
Dari hasil persentase angket siklus pertama dapat ditarik kesimpulan tingkat kemandirian belajar siswa sudah ada peningkatan daripada sebelum dilakukan penelitian tindakan walaupun peningkatanya belum maksimal sesuai dengan target yang peneliti yaitu dalam motivasi belajar sebesar 66% ini berararti motivasi siswa belajar siswa sudah baik, dalam inisiatif siswa sebesar 60,5% ini berarti inisiatif dalam taraf cukup, kedisiplinan siswa, kedisiplinan siswa mempunyai persentase 68,25% ini termasuk dalam taraf baik, dan tanggung jawab siswa mempunyai persentase 71,5% jadi tanggung jawab siswa suadah dalam taraf baik. Itulah hasil analisis dari penelitian tindakan kelas siklus pertama. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan kemandirian belajar siswa belum terwujud sesuai target peneliti.
Untuk memudahkan pemahaman peningkatan skor nilai prestasi juga disajikan dalam bentuk diagram.
Gambar 5. Diagram Peningkatan Nilai Rata-rata Pra Tindakan dan Posttest Siklus I
Berdasarkan refleksi siklus I, didapatkan hasil bahwa kemandirian dan prestasi belajar siswa masih kurang. Oleh karena itu, diputuskan untuk mengadakan tindakan siklus II agar peningkatan kemandirian dan prestasi belajar siswa lebih maksimal. Setelah siklus II dilaksanakan, peneliti kembali memberikan angket untuk mengetahui kemandirian belajar siswa pada siklus II. 

SIKLUS II
Berdasarkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dalam penelitian ini sudah menunjukkan adanya peningkatan. Akan tetapi masih ada siswa yang masih kurang mandiri dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, perlu dilanjutkan siklus II. Hasil respon angket kemandirian Siswa pada Silus II adalah sebagai berikut:
Dari hasil persentase angket siklus kedua dapat ditarik kesimpulan tingkat kemandirian belajar siswa sudah banyak mengalami peningkatan daripada siklus pertama dan sebelum dilakukan penelitian tindakan. Peningkatanya suadah maksimal sesuai dengan target yang peneliti yaitu dalam motivasi belajar sebesar 83,5% ini berararti motivasi siswa belajar siswa sudah sangat baik, dalam inisiatif siswa sebesar 81,75% ini berarti inisiatif dalam baik dan banyak mengalami peningkatan, kedisiplinan siswa, kedisiplinan siswa mempunyai persentase 86,5% ini termasuk dalam taraf yang sangat baik, dan tanggung jawab siswa mempunyai persentase 82,25% jadi kedisiplinan siswa sudah dalam taraf sangat baik dan mengalami banyak peningkatan. Itulah hasil analisis dari penelitian tindakan kelas siklus kedua. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan kemandirian belajar siswa sudah terwujud sesuai target peneliti. Pada siklus kedua ini sudah membaik dibanding dengan siklus pertama. Dari hasil perbandingan angket di atas dapat dikatakan tingkat kemandirian belajar siswa sudah mengalami peningkatan dibandingkan dengan sebelum dilakukanya penelitian tindakan ini. Peningkatan skor nilai prestasi juga terjadi, disajikan dalam bentuk diagram.

Gambar 7: Diagram Peningkatan Nilai Rata-rata Posttest Siklus I dan Posttest Siklus II
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa peningkatan nilai rata-rata siklus I dan siklus II juga mengalami peningkatan sebesar 9,12 poin, dengan rincian nilai rata-rata pada siklus I 66 dan nilai rata-rata pada siklus II adalah 75,12.
Dari semua data di atas, berdasarkan hasil sebelum tindakan hingga setelah tindakan siklus II dapat disimpulkan bahwa nilai prestasi mengalami peningkatan yang. Tindakan yang diberikan membantu siswa dalam upaya meningkatkan kemandirian dan prestasi belajar siswa. Dengan demikian, penelitian tindakan ini mampu meningkatkan kemandirian dan prestasi belajar siswa.

I.     PEMBAHASAN
Setelah melakukan serangkaian tindakan pada siklus pertama, siswa telah mengalami banyak kesempatan untuk melatih dan mengembangkan kemandirian belajar mereka, melatih kemandirian dengan tidak bergantung dengan guru, dapat belajar dan memahami materi pelajaran sendiri dengan menggunakan blog, bertanya pada guru apabila ada kesulitan (komunikasi dua arah), mengungkapkan gagasan secara lisan dan tulisan dengan, kemandirian belajar mereka kelihatan lebih bagus. Hal ini terlihat pada siklus kedua, dimana proses dan hasilnya jauh lebih baik dibandingkan pada pembelajaran blog pada siklus pertama.
Keberhasilan penelitian ini dapat dilihat dari hasil persentase angket siklus pertama dapat ditarik kesimpulan tingkat kemandirian belajar siswa sudah ada peningkatan daripada sebelum dilakukan penelitian tindakan walaupun peningkatanya belum maksimal sesuai dengan target yang peneliti yaitu dalam motivasi belajar sebesar 66% ini berararti motivasi siswa belajar siswa sudah baik, dalam inisiatif siswa sebesar 60,5% ini berarti inisiatif dalam taraf cukup, kedisiplinan siswa, kedisiplinan siswa mempunyai persentase 68,25% ini termasuk dalam taraf baik, dan tanggung jawab siswa mempunyai persentase 71,5% jadi tanggung jawab siswa sudah dalam taraf baik. Itulah hasil analisis dari penelitian tindakan kelas siklus pertama.
Pada siklus kedua Peningkatanya suadah maksimal sesuai dengan target yang peneliti yaitu dalam motivasi belajar sebesar 83,5% ini berararti motivasi siswa belajar siswa sudah sangat baik, dalam inisiatif siswa sebesar 81,75% ini berarti inisiatif dalam baik dan banyak mengalami peningkatan, kedisiplinan siswa, kedisiplinan siswa mempunyai persentase 86,5% ini termasuk dalam taraf yang sangat baik, dan tanggung jawab siswa mempunyai persentase 82,25% jadi kedisiplinan siswa sudah dalam taraf sangat baik dan mengalami banyak peningkatan.
Blog dapat digunakan sebagai media pembelajaran bahasa Jawa. Penggunaan media blog dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa, hal ini disebabkan karena penggunaan blog sebagai media pembelajaran menuntut siswa untuk aktif dan giat melaksanakan pembelajaran secara mandiri.
Kemandirian belajar siswa dapat meningkatkan prestasi belajar yaitu dapat dilihat dari hasil nilai rata-rata pretest sebelum menggunakan media blog sebesar 58,4, pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 66, kemudian pada siklus II mengalami peningkatan kembali menjadi 75,12.

J.    KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan menganai penggunaan blog sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan kemandirian dan prestasi belajar siswa kelas VIII A SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun dapat disimpulkan sebagai berikut.
Blog sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan kemandirian belajar bahasa Jawa di  kelas. Hal ini terlihat dari hasil persentase angket siklus I motivasi belajar sebesar 66%, dalam inisiatif siswa sebesar 60,5%, kedisiplinan siswa mempunyai persentase 68,25%, dan tanggung jawab siswa mempunyai persentase 71,5%. Pada siklus II peningkatan motivasi belajar sebesar 83,5%, inisiatif siswa sebesar 81,75% kedisiplinan siswa mempunyai persentase 86,5%, dan tanggung jawab siswa mempunyai persentase 82,25%. Kemandirian belajar siswa dapat meningkatkan prestasi belajar yaitu dapat dilihat dari hasil nilai rata-rata pretest sebelum menggunakan media blog sebesar 58,4, pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 66, kemudian pada siklus II mengalami peningkatan kembali menjadi 75,12.

Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, ada beberapa saran yang ditunjukan kepada guru Bahasa Jawa, siswa, dan instasi terkait sebagai berikut :
1.    Guru
Guru bahasa Jawa disarankan menggunakan blog sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan lain, tidak terbatas pada peningkatan kemandirian dan prestasi belajar siswa saja, misalnya untuk meningkatkan kemampuan menulis, membaca, dan sebagainya.
2.    Siswa
Siswa disarankan untuk selalu memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru dengan media blog sehingga dapat melatih dan mengembangkan kemandirian belajar.
3.    Sekolah
Pembelajaran dengan menggunakan blog dapat dijadikan sebagai sarana untuk melatih kemandirian belajar. Oleh karena itu, perlu dipikirkan kemungkinan diadakanya kegiata-kegiatan yang kondusif, misalnya pelatihan pembuatan blog pembelajaran yang baik untuk guru bidang studi masing-masing.







DAFTAR PUSTAKA
Adri, Muhammad. (2008). Guru Go Blog. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.
Ali, Lukman dkk. (1994). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Anitah, Sri, W. (2007). Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Arsyad, Azhar. (2007). Media Pembelajaran. Jakarta : PT. Raja Grafindo Perada.
Dali,Kartini Mu’takdin. 1987. Pengaruh Hubungan Manusia di kalangan Siswa terhadap kemandirian Belajar, Depdikbud: Jakarta
Hamdan, Herman. (1996). Pengembangan Kurikulum Pembelajaran Matematika. Malang : Imestep Jica.
Hamalik, Oemar. (2005). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Haryono, Anung. (1986) Teknologi Komunikasi Pendidikan Pengertian dan Penerapanya di Indonesia. Jakarta : CV Rajawali.
Lexy, J Meleong. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi, Bandung : Remaja Rosda Karya.
Madya, Suwarsih. (2009). Teori dan Praktik Penelitian Tindakan, Bandung: Alfabeta
Monks, F.J. (1986) Psikologi Perkembangan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Sadiman, Arief S. dkk. (2003). Media Pendidikan, Pengertian, Pengembngan, dan Pemanfaatanya. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Sardiman, A.M.(2007). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Suardiman. (1984). Bimbingan Orang Tua dan Anak. Yogyakarta : Studing Sudjana, Nana. (2004). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Sudjana, Nana dan Rivai. (2002). Media Pengajaran. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Suharsimi Ar, 2006. Prosedur Penelitian, Sebuah Pendekatan Praktik. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Sunardi. (2005). Dampak Sistem Belajar Mandiri Jakarta : PT. Raja Grafida Persada.
Utomo, Jakop. (1990). Menuju Masyarakat Indonesia Baru. Jakarta: PT. Gramedia
Zainun (2002). Komponen Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara. http//pikiranrakyat.com/cetak/2006/042006/15/99forumguu.htm(05-02-2010) pada jam 19.37
http://www.pustekkom.go.id/SMPTbk.htm(11-02-210) pada jam 20.15
http://id.wikipedia.org/wiki/Blog (20-02-2010) pada jam 11.30


Tidak ada komentar:

Posting Komentar