Minggu, 04 September 2016

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STAD (Student Teams Achievement Divisions) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII C SMPN 2 KARE MADIUN TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN  STAD (Student Teams Achievement Divisions) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KELAS  VIII C SMPN 2 KARE MADIUN TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh : Anik Wijayati, SMPN 2 Kare Madiun


ABSTRAK
Kata Kunci : Peningkatan, Motivasi, Prestasi Belajar, STAD

Berdasarkan observasi di kelas VIII C SMP Negeri 2 Kare Madiun diperoleh bahwa pola pembelajaran yang diterapkan cenderung berpusat pada guru, dimana siswa kurang berkesempatan untuk mengembangkan kreativitas dan belum terlibat langsung dalam pembelajaran. . Guru kurang melatihkan diskusi kelompok sehingga prestasi belajar siswa belum optimal. Solusi pemecahkan masalah tersebut diterapkan suatu pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif yang dipilih adalah model STAD. Selain dapat meningkatkan motivasi siswa, model ini juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.    Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), penelitian ini dilakukan sebanyak 2 siklus. Pengukuran peningkatan motivasi belajar siswa meng-gunakan lembar observasi. Ada empat aspek motivasi yang diamati yaitu frekuensi perta-nyaan yang diajukan siswa, perhatian siswa, kerjasama antar siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok, dan peningkatan sumber belajar yang digunakan siswa. Pengukuran pe-ningkatan prestasi siswa menggunakan tes setiap akhir siklus.
Berdasarkan tindakan pada siklus I dan siklus II diperoleh hasil bahwa empat aspek motivasi yaitu frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa meningkat dari 46,25% pada siklus I menjadi 55,83% pada siklus II. Perhatian siswa meningkat dari 77,29% pada siklus I menjadi 85,42% pada siklus II. Kerjasama siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok meningkat dari 56,88% pada siklus I menjadi 81,25% pada siklus II. Peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan siswa meningkat dari 52,29% pada siklus I menjadi 56.04% pada siklus II. Rata-rata nilai post test siklus I ke siklus II meningkat dari 67,96% dengan ketuntasan klasikal 40,74% menjadi 76,85 dengan ketuntasan klasikal 77,78%. Siswa yang belum mencapai KKM diberikan remidi hingga tuntas 100%.
Berdasarkan data di atas diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model pembe-lajaran STAD dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIIID SMP Negeri 1 Malang.




PENDAHULUAN
Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut peran guru ter­utama dalam proses pembelajaran agar siswa memiliki pengalaman belajar yang bermakna. Kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa dapat diukur melalui indikator yang disusun oleh guru dan merupakan penjabaran kompetensi dasar serta diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran.
Masalah  umum yang sering dihadapi guru dalam mengajar adalah siswa kurang perhatian, kurang beminat, dan tidak punya motivasi dalam belajar sehingga prestasi belajar mereka rendah. Hal ini juga terjadi pada SMPN 2 Kare Kabupaten Madiun. Rata-rata siswa kurang perhatian, kurang berminat dan tidak punya motivasi dalam mengikuti proses belajar. Ditambah lagi kurangnya buku penunjang dan alat-alat peraga yang menyebabkan guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dalam menyampaikan materi ke siswa.
Pelajaran fisika merupakan pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa.Ini dapat dilihat dari hasil evaluasi belajar tahun-tahun sebelumnya di mana nilai mata pelajaran fisika rata-rata lebih rendah dari mata pelajaran lainnya. Untuk kelas VIII C misalnya,pada materi ”Getaran dan Gelombang” hanya 30% siswa yang mencapai KKM. Sementara yang 70% masih di bawah KKM yang telah ditentukan yaitu 75.  Dari kenyataan itulah peneliti ingin menaik­kan persentase ketuntasan belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran STAD.
Penerapan model pembelajaran STAD juga dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, yang ditandai dengan semakin banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan atau menanggapi pertanyaan siswa lain (Parlan, 2006:38). Hasil penelitian  tindakan kelas oleh Dewi (2007) model STAD dapat meningkatkan prestasi siswa. Demikian juga hasil penelitian tindakan kelas oleh Rely (2008) penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Melalui penerapan model pembelajaran STAD diharapkan prestasi dan motivasi belajar siswa kelas VIII C SMPN 2 Kare Madiun Tahun Pelajaran 2012/2013  diharapkan dapat meningkat.
Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah pada Penelitian Tindakan Kelas ini adalah bagaimana peningkatan motivasi belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran STAD di kelas VIII C SMPN 2 Kare dan Bagaimana peningkatan prestasi siswa setelah penerapan model pembelajaran STAD di  kelas VIII C SMPN 2 Kare?
Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui peningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII C SMPN 2 Kare Madiun setelah penerapan model pembelajaran STAD dan mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa kelas VIII C SMPN 2 Kare Madiun setelah penerapan model pembelajaran STAD.
Sesuai dengan permasalahannya maka sebelum penelitian ini dilakukan, hipotesis yang akan diuji yaitu Penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan motivasi siswa kelas VIII C SMPN 2 Kare Madiun dan Penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII C SMPN 2 Kare Madiun.
Hasil dari pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi siswa, guru dan sekolah :
Ruang lingkup dan keterbatasan penelitian ini adalah:
1. Penelitian ini dilakukan pada materi cermin dan lensa. Materi ini diajarkan pada se-mester 2.
2. Aspek yang diamati adalah motivasi siswa yang di ukur berdasarkan dari peningkatan aktifitas yang terdiri atas frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa, perhatian siswa, kerjasama siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok dan peningkatan sumber bela-jar yang dimanfaatkan siswa. Prestasi belajar siswa dilihat dari nilai post test siswa setiap akhir siklus.
Definisi operasional penelitian ini adalah:
1.  Model pembelajaran STAD adalah pembelajaran yang didasarkan pada pengelompokan siswa secara heterogen yang terdiri atas siswa yang memiliki kemampuan tinggi, rendah, dan sedang yang ditunjukkan oleh prestasi belajarnya.
2. Motivasi adalah hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita yang dicerminkan oleh skor hasil observasi selama proses belajar.
3. Prestasi belajar adalah tingkat kemampuan belajar fisika yang dicerminkan oleh skor atau nilai kemampuan mengerjakan soal-soal fisika pada materi cermin dan lensa yang telah dibelajarkan melalui test prestasi belajar pada akhir siklus.
4. Peningkatan yaitu pengukuran ketercapaian indikator keberhasilan motivasi dan prestasi belajar yang ditunjukkan dengan angka peningkatan persentasenya.

METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan ku-alitatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena peneliti berupaya mengkaji lebih mendalam tentang peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas VIII C SMP Negeri 2 Kare Madiun pada mata pelajaran fisika melalui model pembelajaran STAD.
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dimana dalam PTK terjadi kerjasama antara peneliti dengan guru biologi yang bertugas sebagai pengamat untuk mengambil data selama penelitian. Desain penelitian yang digunakan mengacu pada model Kemmis dan M.C Taggart dalam Susilo (2008) yang terdiri dari empat komponen, yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

Kehadiran dan Peran Peneliti di Lapangan
Berdasarkan pendekatan dan jenis penelitian, maka kehadiran peneliti di lapangan sangat diperlukan, karena peneliti bertindak sebagai pengelola instrumen, perancang tindakan, pelaksana tindakan dan pelapor hasil penelitian. Selama pelaksanaan tindakan di-bantu satu orang observer dengan maksud untuk dapat membantu peneliti dalam pengumpulan data melalui observasi motivasi siswa di dalam kelas sekaligus sebagai ko-laborator dalam pelaksanaan refleksi.

Lokasi penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 2 Kare Madiun yaitu pada kelas VIIIC Tahun pelajaran 2012/2013

Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII C SMP Negeri 2 Kare Madiun dengan jumlah siswa 28 orang, yang terdiri dari 21 orang laki-laki dan 19 orang siswa perempuan.

Data dan Sumber Data Penelitian
Data yang akan dikumpulkan meliputi :
1.    Data keterlaksanaan model pembelajaran STAD.
2.    Data motivasi siswa. 
3.    Data prestasi belajar siswa.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.    Sumber data keterlaksanaan pembelajaran adalah proses pembelajaran
2.    Sumber data motivasi siswa adalah siswa.
3.      Sumber data prestasi siswa adalah siswa.

Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Instrumen yang dipakai untuk mengukur keterlaksanaan pembelajaran adalah lembar observasi. Instrumen ini digunakan sebagai pedoman dalam mengamati pelaksanaan model pembelajaran STAD yang diterapkan oleh guru. Penyusunan butir-butir aspek yang diamati mengacu pada kajian pustaka tentang  model pembelajaran STAD.
2. Instrumen yang dipakai untuk mengukur motivasi siswa adalah lembar observasi motivasi (diadaptasi dari Soeharto, 2003). Adaptasi ini dilakukan sesuai dengan kajian pustaka dan kebutuhan data yang peneliti harapkan.
3. Instrumen yang dipakai untuk mengukur prestasi siswa adalah soal post test siklus I dan siklus II. Bentuk test pilihan ganda sebanyak 40 soal. Sebelum soal digunakan kepada siswa terlebih dahulu dikonsultasikan kelayakannya kepada pembimbing.

Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi Keterlaksanaan Model Pembelajaran STAD
            Observasi dilakukan untuk mengamati keterlaksanaan model pembelajaran STAD yang dilakukan oleh guru dan siswa. Pengamatan ini untuk mengetahui kesesuaian antara langkah-langkah model pembelajaran STAD dan pelaksanaan tindakan. Observasi ini dilakukan oleh tiga observer dengan berpedoman pada lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran STAD.
2. Observasi Motivasi
Pengumpulan data motivasi siswa adalah dengan observasi langsung. Sebelum melakukan kegiatan observasi, peneliti dan tiga orang observer melakukan diskusi untuk menyamakan persepsi menentukan skor motivasi siswa. Masing-masing observer mengamati 3-4 kelompok. Observer mengamati aspek-aspek yang tertera pada lembar observsi motivasi sehingga dapat mengamati perubahan motivasi belajar siswa secara langsung. Aspek-apek motivasi siswa yang diamati adalah frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa, perhatian siswa, kerjasama siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok, dan peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan siswa.
3. Tes tertulis
            Post test yang diberikan berupa test tertulis. Test atau soal yang diberikan kepada siswa dalam bentuk bahasa tulisan. Pelaksanaan post test dilakukan pada akhir siklus. Materi post test siklus I yaitu cermin dan materi post test untuk siklus II yaitu lensa. Waktu pelaksanaan post test selama 30 menit.

Analisis Data
            Pengambilan data dilakukan selama proses penelitian, sementara analisis data dilakukan setelah meninggalkan tempat penelitian (Moleong, 2005). Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah:
1. Analisis Data Observasi Keterlaksanaan Model Pembelajaran STAD
            Analisis data hasil observasi keterlaksanaan model pembelajaran STAD digunakan untuk menjawab permasalahan, ”Bagaimana keterlaksanaan model pebelajaran STAD di kelas VIIID SMPN 2 Kare Madiun?”. Rentang nilai keberhasilan pada setiap aspek model pembelajaran STAD dengan ketentuan seperti pada tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1 Tingkat Keberhasilan Keterlaksana­an Model Pembelajaran STAD
Rentang
Katagori
0 – 25
Kurang
26 – 50
Cukup
51 - 75
Baik
76 - 100
Sangat baik

2. Analisis Data Lembar Observasi Motivasi Siswa
Analisis data hasil observasi motivasi siswa digunakan untuk menjawab permasalahan, ”Bagaimana peningkatan motivasi belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran STAD di kelas VIIID SMPN 1 Malang?”
Persentase keberhasilan motivasi dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
 % KM=  x 100%
%KM = Persentase Keberhasilan Motivasi

Penentuan tingkat keberhasilan dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut.

Tabel 3.2 Tingkat keberhasilan Motivasi
Rentang
Katagori
25 - 50
Rendah
51 - 75
Sedang
76 - 100
Tinggi

3. Analisis Data Prestasil Belajar
Analisis data prestasi belajar siswa digunakan untuk menjawab permasalahan ”Bagaimana peningkatan prestasi siswa setelah penerapan model pembelajaran STAD di kelas VIIID SMPN 1 Malang?”. Prestasi belajar siswa ditentukan berdasarkan penilaian acuan patokan. Skor yang diperoleh siswa melalui post test pada tiap siklus akan digunakan untuk menentukan ketuntasan individual dan ketuntasan klasikal terhadap indikator yang telah ditetapkan. Ketuntasan individual atau ketuntasan per siswa ditentukan dengan rumus :
K =    100%   

K  =  Persen ketuntasan belajar per siswa
Tingkat penguasaan materi ajar dapat dilihat pada tabel 3.3 berikut

Tabel 3.3 Tingkat Penguasaan Materi Ajar
Rentang
Keterangan
0 < Skor ≤ 20%
Sangat kurang
20% < Skor ≤ 40%
Kurang baik
40% < Skor ≤ 60%
Cukup baik
60% < Skor ≤ 80%
Baik
80% < Skor ≤ 100%
Sangat baik

Sebagai standar ketuntasan belajar digunakan patokan yang ditetapkan oleh SMP Negeri 1 Malang pada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) mata pelajaran fisika, yaitu siswa dikatakan tuntas belajarnya jika memenuhi KKM  75 dan ketuntasan klasikal yang ditetapkan yaitu 85%.

PROSEDUR PENELITIAN
Observasi awal
Observasi awal dilakukan dengan:
1)    Mewawancara wakil kepala sekolah urusan kurikulum dan guru mitra
2)    Menentukan kelas yang digunakan penelitian yaitu kelas VIIIC
3)    Menetapkan fokus observasi
4)    Menetapkan banyaknya siklus, yaitu 2 siklus

Siklus 1
a. Perencanaan Tindakan meliputi:
1)    Menyusun jadwal penelitian
2)    Menyusun rencana pembelajaran dengan materi sifat-sifat cahaya, cermin datar, cermin cekung, cermin cembung untuk siklus 1
3)    Menyusun LKS
4)    Menyusun soal tes prestasi belajar tiap siklus
5)    Merancang pembagian kelompok siswa berdasarkan kelompok kooperatif
6)    Menyiapkan lembar observasi,
b. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan pembelajaran atau kegiatan inti dimulai pada tahap ini dengan melakukan pembelajaran sebagai pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Kegiatan ini mengacu pada skenario pembelajaran menggunakan model STAD yaitu (1) menyajikan materi, (2) diskusi kelompok, (3) diskusi kelas, (4) kuis (5)  memberikan penghargaan.
c. Observasi
Observer melakukan pengamatan menggunakan pedoman observasi yang telah direncanakan :
1)    Apakah rencana yang telah ditetapkan dilaksanakan atau tidak.
2)    Jika dilaksanakan, apakah pelaksanaannya sesuai dengan rencana yang dibuat.
3)    Jika sesuai, apakah pelaksanaannya itu berdampak pada motivasi siswa dan prestasi belajar siswa.
d. Refleksi
     Data yang diperoleh dari hasil observasi selama proses pembelajaran dilakukan analisis dan dilakukan refleksi sebagai bahan penyusunan rencana tindakan pada siklus berikutnya. Pada tahap refleksi ada beberapa kriteria yang dijadikan sebagai rambu-rambu keberhasilan, misalnya: apakah proses pembelajaran sudah sesuai dengan rencana dan bagaimana peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran STAD di kelas VIII C SMPN 2 Kare Madiun Tahun Pelajaran 2012/2013.

Siklus II
a. Perencanaan Tindakan, meliputi:
1)    Merencanakan tindakan, berdasarkan hasil refleksi siklus I,
2)    Merencanakan observasi atau monitoring.
3)    Merencanakan refleksi, analisis dan kesimpulan.

b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan peneliti melaksanakan pembelajaran yang dimulai dengan memberikan penguatan pada model STAD, dengan tujuan untuk kelancaran dan membantu siswa dalam pelaksanaan tugas individu dan kelompok. Materi pembelajaran pada siklus II adalah pembiasan, lensa cekung dan lensa cembung.
c. Observasi
Observer melakukan pengamatan:
1)    Apakah rencana yang telah ditetapkan dilaksanakan atau tidak.
2)    Jika dilaksanakan, apakah pelaksanaannya sesuai dengan rencana yang dibuat.
3)    Jika sesuai, apakah pelaksanaannya itu berdampak pada motivasi siswa dan prestasi belajar siswa.
d. Refleksi
Data yang diperoleh dari hasil observasi selama proses pembelajaran dilakukan analisa dan dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ada kriteria yang dijadikan sebagai rambu-rambu keberhasilan adalah: apakah proses pembelajaran sudah sesuai dengan rencana dan bagaimana pengaruhnya terhadap peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas VIII C SMPN 2 Kare Madiun Tahun Pelajaran 2012/2013.

Indikator Keberhasilan Tindakan
Penelitian ini dikatakan berhasil apabila rerata observasi motivasi siswa siklus II > siklus I, dan skor prestasi tes pada siklus II > siklus I.

Pengecekan Keabsahan Data
Teknik pemeriksaan yang digunakan dalam penelitian untuk menetapkan keabsahan data didasarkan atas kriteria kepercayaan (credibility), yaitu menggunakan teknik triangulasi dan pengecekan teman sejawat seperti yang disarankan Moleong (2005). Pada dasarnya kriteria derajat kepercayaan menggantikan konsep validitas internal dari penelitian non kualitatif. Kriteria ini berfungsi: pertama melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai; kedua, mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti (Moleong, 2005:324).
Triangulasi merupakan tekhnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data  untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Penelitian ini menggunakan triangulasi metode, yaitu membandingkan data hasil pengamatan lapangan dan dokumentasi. Keabsahan data yang dimaksud difokuskan pada pendekatan model pembelajaran STAD.
Teknik pengecekan teman sejawat dilakukan dalam bentuk diskusi. Hal ini dimaksudkan untuk membicarakan proses dan hasil penelitian. Diskusi dilaksanakan untuk memperoleh masukan baik dari segi metodologi, konteks penelitian, maupun pelaksanaan tindakan yang dilakukan.

HASIL PEMBAHASAN
A.   Pelaksanaan Model Pembelajaran STAD
Pada siklus I siswa masih beradaptasi dengan model pembelajaran yang baru pertama kali mereka kenal. Siswa masih agak canggung dengan batasan-batasan waktu yang disediakan di tiap tahap STAD. Pada tahap penyajian materi yang di isi dengan demonstrasi sebagian siswa belum tertarik, sebagian maju ke depan untuk meihat dari dekat, tetapi masih ada yang duduk dari di belakang. Pada tahap diskusi kelompok, siswa yang sudah mengerti belum bisa menjelaskan kepada siswa yang belum mengerti dalam satu kelompoknya secara optimal, dalam mengerjakan tugas kelompok sebagian masih sendiri-sendiri sehingga kurang kerjasama dalam penyelesaian tugas. Pada tahap  diskusi kelas, kelompok masih malu-malu untuk maju ke depan, akhirnya harus ditunjuk oleh guru. Pada tahap kuis siswa belum terbiasa dengan soal-soal yang harus dikerjakan secara mandiri, masih ada siswa yang kerjasama, meskipun telah diingatkan, ini terjadi karena siswa belum menguasai materi pelajaran.
  Pada siklus I siswa merasa waktu untuk diskusi kelompok kurang sehingga hasil diskusi belum optimal. Kekurangan ini diperbaiki pada siklus II. Waktu diskusi kelompok yang semula 25 menit ditambah menjadi 30 menit. Penambahan waktu diskusi kelompok dimanfaatkan oleh siswa yang belum mengerti dapat bertanya kepada siswa yang sudah mengerti dengan waktu yang banyak.
Proses pembelajaran pada siklus II berjalan sesuai dengan rencana. Kegiatan pembelajaran berlangsung lancar. Siswa sudah memahami tahap-tahap model pembelajaran STAD. Siswa sudah memahami tahapan-tahapan yang akan mereka lakukan. Pada tahap penyajian materi yang diisi dengan demonstrasi, siswa antusias maju ke depan dan membantu guru. Pada tahap diskusi kelompok, siswa yang sudah mengerti pada materi diskusi menjelaskan kepada teman satu kelompoknya yang belum mengerti pada materi tersebut sampai bisa. Pada tahap diskusi kelas, kelompok maju ke depan tanpa malu-malu dan tidak di tunjuk oleh guru.
Keterlaksanaan pembelajaran siklus II lebih lancar daripada siklus I. Proses pembelajaran pada siklus II memberikan hasil motivasi dan prestasi yang lebih baik. Karena siswa lebih antusias dengan model pembelajaran yang melibatkan mereka secara langsung

B.      Motivasi Belajar    
Motivasi siswa diamati oleh tiga observer dengan menggunakan lembar observasi, Ada empat aspek yang diamati yaitu frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa, perhatian siswa, kerjasama siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok dan peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan oleh siswa. Hasilnya ada pada tabel 5.1 di bawah ini.

Table 5.1 Motivasi Siswa Pada Siklus I
Aspek
Pert I
(%)
Pert II
(%)
Pert III
(%)
Frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa
44,38
45,63
48,75
Perhatian siswa
74,38
78,13
79,38
Kerjasama siswa dalam kelompok
53,75
58,13
58,75
Peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan siswa
51,25
52,50
53,13

Tabel 5.2 Motivasi Siswa Pada Siklus II
Aspek
Pert I
(%)
Pert II
(%)
Pert III
(%)
Frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa
53,13
55,63
58,75
Perhatian siswa
81,88
86,25
88,13
Kerjasama siswa dalam kelompok
77,50
81,25
84,38
Peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan siswa
53,75
56,25
58,12

Tabel 5.3 Peningkatan Persentase Rata-rata Motivasi Pada Siklus I dan Siklus II
Aspek
Pert I
(%)
Pert II
(%)
Kenaikan
(%)
Frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa
46,25
55,83
9,59
Perhatian siswa
77,29
85,42
8,13
Kerjasama siswa dalam kelompok
56,88
81,2
24,37
Peningkatan sum­ber belajar yang dimanfaatkan siswa
52,29
56,04
3,75
 
            Berikut disajikan grafik peningkatan empat aspek motivasi belajar siswa pada siklus I dan siklus II
Grafik 5.1 Peningkatan Motivasi

 Pada pertemuan I, II dan III masing-masing terlihat bahwa persentase perhatian lebih besar dari persentase tiga aspek motivasi yang lain. Peningkatan persentase juga terjadi pada siklus II dibandingkan dengan siklus I. Dilihat dari peningkatan siklus I ke siklus II, peningkatan kerjasama siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok lebih besar dari peningkatan tiga aspek motivasi yang lain. Aspek kerjasama siswa dalam menye-lesaikan tugas mengalami peningkatan 24,37%. Hal ini sebagai indikator terjadinya proses penjelasan dari siswa yang sudah mengerti pada materi pertemuan tersebut kepada siswa yang belum mengerti pada materi itu telah dilaksanakan dengan baik oleh kelompok. Dengan kata lain penerapan model pembelajaran STAD telah meningkatkan kerjasama pada pembentukan kelompok dengan pola kooperatif.
Peningkatan motivasi dari siklus I ke siklus II terjadi sesuai dengan tahap-tahap pada proses pembelajarannya. Siswa perhatian pada saat guru melakukan demonstrasi, bekerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok, bertanya ketika diskusi kelompok dan diskusi kelas serta memanfaatkan sumber belajar. Sehingga setiap tahap meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Supriyo (2008) dan Rely (2008) bahwa model pembelajaran kooperatif STAD mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.

C.     Prestasi Belajar
Penerapan model pembelajaran STAD dilaksanakan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Prestasi belajar yang dimaksud adalah tingkat kemampuan belajar fisika yang tercermin pada skor atau nilai kemampuan mengerjakan soal-soal fisika pada materi cermin dan lensa yang telah dibelajarkan. Soal yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar adalah soal post test pada akhir siklus belajar. Data rata-rata tiap siklus prestasi belajar ada pada tabel 5.4 di bawah ini.

Tabel 5.4 Prestasi Belajar Siswa
Siklus
Rata-rata
Siklus I
67,96%
Siklus II
76,85%

Dari table 5.4 diatas terlihat bahwa terjadi kenaikan rata-rata prestasi belajar pada siklus I dan siklus II, pada siklus II rata-rata prestasi belajar lebih baik dari siklus I. Hal ini karena siswa telah mengikuti model pembelajaran STAD mulai dari tahap penyajian materi yang di isi dengan demonstrasi, siswa terlibat aktif membantu guru. Pada tahap diskusi kelompok, siswa yang belum mengerti pada materi yang sedang didiskusikan oleh kelompok tersebut, bertanya kepada teman dalam kelompok­nya yang sudah mengerti pada materi tersebut sampai bisa. Pada tahap diskusi kelas siswa bertukar pikiran lebih mendalam mengenai tugas kelompok yang dikerjakan, sehinga siswa aktif dan memiliki pengalaman belajar. Perubahan tingkah laku pada penerapan model pembelajaran STAD berasal dari interaksi sosial, dimana siswa bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan anggota kelompoknya. Prestasi belajar merupakan suatu puncak proses belajar yang dipengaruhi oleh proses-proses penerimaan, keaktifan, penyimpanan serta pemanggilan untuk pembangkit pesan dan pengalaman (Dimyati & Mudjiono, 2006).

KESIMPULAN DAN SARAN
A.   Kesimpulan
Penerapan Model Pembelajaran STAD untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII C SMP Negeri 2 Kare MadiunTahun Pelajaran 2012/2013 ini dapat disimpulkan bahwa:
1.    Proses pembelajaran dengan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan motivasi siswa kelas VIII C SMP Negeri 2 Kare Madiun dapat meningkatkan motivasi siswa. Motivasi siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Aspek frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa meningkat dari 46,25% menjadi 55,83% (sedang), aspek perhatian siswa dari 77,29% menjadi 85,42% (tinggi), aspek kerjasama siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok meningkat dari 56,88% menjadi 81,25% (tinggi), dan peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan siswa meningkat dari 52,29% menjadi 56,04%.
2.    Proses pembelajaran dengan model STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Rata-rata nilai prestasi siswa pada siklus II 76,25% nilai ini meningkat dibandingkan nilai rata-rata pada siklus I 66,75%.

B. Saran
Berdasarkan pada hasil refleksi siklus II, maka diajukan saran yang perlu dipertimbangkan antara lain sebagai berikut.
1.    Guru
a.     Karena penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa, diharapkan guru menggunakan model pembelajaran STAD  dalam proses belajar mengajar sebagai variasi dalam pembelajaran fisika.
b.    Bagi tenaga pengajar yang tertarik menggunakan model pembelajaran STAD sebaiknya mempertimbangkan hal-hal seperti: kesiapan guru, kesiapan siswa, dan ketersediaan waktu untuk menyusun bahan pembelajaran.

2.    Peneliti selanjutnya
a.     Penelitian ini terbatas pada pokok bahasan cermin dan lensa, sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut dengan menerapkan model pembelajaran STAD pada pokok bahasan lain.
b.    Ketuntasan klasikal pada penelitian ini mencapai 70%, sehingga belum tercapai Ketuntasan Klasikal Minimal yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 85%, kekurangan ini diharapkan dapat disempurnakan pada penelitian berikutnya.




DAFTAR RUJUKAN
Akhmad Sudrajat. 2008. Teori-teori Belajar, (on line), http : // www.wordpress.com, diakses 16 Februari 2009.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Chotimah, Husnul. 2007. Peningkatan Proses dan Hasil Belajar Biologi dalam Pendekatan Kontekstual melalui Model Pembelajaran Think Pair Share pada Peserta Didik kelas X-6 SMA Laboratorium UM. PTK. Malang: SMA Lab.UM.
Dewi. 2007. Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Pembelajaran Fisika. Skripsi tidak diterbitkan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.  
Dimyati & Mujiono. 2006. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Ellyana.2007. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD untuk Meningkatkan Motivasi, Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII-A SMP PGRI Purwodadi Kabupaten Pasuruan. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar mengajar. Jakarta. Bumi Aksara.
Hamzah, B.Uno. 2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.
Kamadi, Waras, dkk. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Malang: Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran Universitas Negeri Malang.
Karuru, Perdy. 2007. STAD untuk Pembelajaran IPA, (on line), http : // www.wordpress.com, diakses16 Januari 2009.
Moleong, L.J. 2005. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nur, M.2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press-UNESA.
Parlan, Dewi Ambarwati, Eni. 2006. Penggunaan  Pembelajaran Kooperatif Model  STAD untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Kimia Siswa kelas XII SMA Negeri 9 Malang. PTK Tidak diterbitkan. Malang.
Ridwan. 2008. Ketercapaian Prestasi Belajar, (on line), http://ridwan202.wordpress.com. Diakses 25 Juli 2009.
Rely. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD Terhadap peningkatan Motivasi Belajar Biologi Siswa SMPN 4 Malang. PTK Tidak diterbtkan. malang



Tidak ada komentar:

Posting Komentar