Minggu, 04 September 2016

MENCAPAI KETUNTASAN BELAJAR SISWA DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION) KELAS VII-E SEMESTER GASAL TAHUNPELAJARAN 2015/2016 SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN

MENCAPAI KETUNTASAN BELAJAR SISWA DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION)  KELAS VII-E SEMESTER GASAL TAHUNPELAJARAN 2015/2016 SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN


Oleh : Dra. ENDAH LISTYORINI

SMPN 1 DOLOPO KAB. MADIUN



ABSTRAK
Kata Kunci :  Model CIRC, ketuntasan belajar
Model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) adalah model pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 dan setiap kelompok harus heterogen. Siswa dalam kelompok dituntut untuk dapat bekerjasama untuk menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana yang telah diberikan oleh guru. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut diharapkan peserta didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pelaksanaan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition), (2) respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) bila ditinjau dari minat siswa pada mata pelajaran Pendidikan IPS, dan (3) ketuntasan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition).
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK, dengan RPP dan LKS sebagai perangkat pembelajaran. Instrumen penelitian yang digunakan: Tes Hasil Belajar, Lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran, lembar pengamatan aktivitas siswa dan angket respon siswa.
Hasil pengamatan dan pembahasan, diperoleh kesimpulan bahwa: (1) Kemampuan guru dalam mengelola KBM dengan model pembelajaran CIRC juga mengalami peningkatan, yaitu dari nilai rata-rata 2,47 dengan kualifikasi cukup baik. (2) Model pembelajaran CIRC dapat menarik siswa untuk senang belajar sebesar 90% dan membantu memahami pelajaran sebesar 77,5%. Sehingga pembelajaran CIRC merupakan model pembelajaran yang efektif jika digunakan, (3) Hasil belajar siswa meningkat pada setiap putaran yaitu pada putaran I diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 34,38% dengan nilai rata-rata 63,25; putaran II diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 59,37% dengan nilai rata-rata 72,5; dan putaran III diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 93,75% dengan nilai rata-rata 80,94. Sehingga penerapan model pembelajaran CIRC ini efektif jika diterapkan.




PENDAHULUAN
Pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif masih perlu dikembangkan, pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari khususnya pada mata pelajaran IPS. Salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan konteks itu adalah pendekatan pembelajaran kontekstual. Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan­nya dalam kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, antara lain : kontruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). (Pustaka Yustisia, 2006 : 162)
Dalam pendekatan pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dengan bercermin pada konteks tersebut, maka sebagai guru, peneliti ingin menerapkan model pembelajaran yang efektif, dan model pembelajaran yang digunakan adalah CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition), dimana pada model pembelajaran CIRC siswa dalam kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 dan setiap kelompok harus heterogen. Siswa dalam kelompok dituntut untuk dapat bekerjasama untuk menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana yang telah diberikan oleh guru. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut diharapkan peserta didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti ingin mengambil judul penelitian  Mencapai Ketuntasan Belajar Siswa  dengan Penerapan Model Pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)  Kelas VII-E Semester Gasal Tahun pelajaran 2015/2015 SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun

Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah pelaksanaan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)?
2.    Bagaimana respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) bila ditinjau dari minat siswa pada mata pelajaran IPS?
3.    Apakah penggunaan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) efektif bila ditinjau dari nilai ketuntasan belajar siswa ?

Tujuan Penulisan
1.    Untuk mengetahui pelaksanaan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran CIRC.
2.    Untuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran CIRC bila ditinjau dari minat siswa pada mata pelajaran IPS.
3.    Untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran CIRC.

Manfaat Penelitian
Dengan menggunakan model pembelajaran CIRC dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1.    Bagi guru
Untuk melakukan perbaikan pembelajaran  dan  upaya dalam mengoptimalkan hasil belajar siswa.
2.    Bagi siswa
Membuka wawasan siswa bahwa dalam kegiatan belajar mereka ditunut lebih aktif dan meningkatkan minat belajar mata pelajaran IPS.
3.    Bagi sekolah
Sebagai bahan pertimbangan dan alternatif dalam membuat rencana model pembelajaran yang akan diterapkan guna meningkatkan kualitas pembelajaran.

KAJIAN PUSTAKA
Penelitian Terdahulu
Dalam landasan filosofis CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah kontruktivisme, yaitu filosofis belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal, tetapi merekontruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya.
Pada pendekatan kontekstual, siswa dituntut untuk dapat melakukan aktivitas pembelajaran mandiri. Pembelajaran mandiri adalah suatu proses belajar yang mengajak siswa melakukan tindakan mandiri yang melibatkan terkadang satu orang, biasanya satu kelompok. Tindakan mandiri ini dirancang untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kehidupan siswa sehari-hari secara sedemikian rupa untuk mencapai tujuan bermakna. Tujuan ini mungkin menghasilkan hasil yang nyata maupun yang tidak nyata. (Johnson, 2002 : 152)
Pembelajaran mandiri membangkitkan antusiasme yang sama pada anak-anak dari taman kanak-kanak hingga universitas. Bebas menggambarkan gagasan, minat, dan bakat mereka. Para siswa dengan pembelajaran mandiri dari segala usia ini dengan bersemangat mengajukan pertanyaan, mengadakan penyelidikan, dan melakukan berbagai percobaan. Brooks (dalam Johnson, 2002 : 153)
Demikian juga dengan model pembelajaran CIRC yang menuntut siswa secara berkelompok untuk melakukan aktivitas belajar mandiri. Telaah literatur tentang pembelajaran mandiri dengan model pembelajaran CIRC  yang dilakukan dan dikembangkan di Johnson Hopkins University (Slavin, 1997 : 4) memberikan penjelasan bahwa dengan CIRC siswa mampu mencari, menemukan dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru.
Penelitian yang dilakukan di Yaleta School District El Paso-Texas, tentang pengembangan model pembelajaran CIRC  dapat meningkatkan aktivitas dan kreatifitas siswa dalam memahami mata pelajaran bahasa Inggris dan Spanyol (dalam Slavin dkk,1997: 3)
Adapun perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian saat ini adalah pada materi yang digunakan, di mana pada penelitian saat ini menggunakan materi IPS  dengan materi pokok Keadaan Alam dan Penduduk di Indonesia yang dipergunakan pada penelitian ini.

Model Pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
CIRC dikembangkan oleh Robert J. Stevens dan Robert E. Slavin. Pada model pembelajaran ini guru mengacu pada belajar kelompok siswa. Siswa dalam satu kelas dipecah menjadi beberapa kelompok dengan anggota 4-5 orang secara heterogen. Dalam kerja kelompok ini, guru memberikan sebuah topik permasalahan yang berupa materi bacaan. Kemudian siswa berkoordinasi serta bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap materi bacaan. Dan hasil dari kerja kelompok tersebut dipresentasikan secara bergiliran di depan kelas (Depdiknas, 2006).
Proses pelaksanaan model pembelajaran CIRC  dilaksanakan dalam beberapa tahap sebagai berikut:
1. Persiapan
a. Materi
Materi pembelajaran CIRC  dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran kelompok. Pada penelitian ini, materi pokok yang digunakan adalah Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia. Sebelum penyajian materi pembelajaran dibuat lembar kegiatan siswa (LKS) yang dikerjakan oleh siswa dalam kelompok-kelompok.

b. Menetapkan siswa dalam kelompok
Kelompok-kelompok dalam pembelajaran ini beranggotakan 4-5 orang siswa yang terdiri dari siswa pandai, sedang dan rendah. Disamping itu guru mempertimbangkan kriteria heterogenitas yang lain seperti jenis kelamin, latar belakang sosial, dan sebagainya.
1)    Menentukan skor awal. Skor awal merupakan skor rata-rata secara individu pada test sebelumnya.
2)    Pembagian lembar hasil (book report). Guru memberikan lembar hasil, yang mana lembar hasil ini digunakan oleh siswa pada saat mengerjakan tugas yang berupa materi bacaan.

2. Penyajian Materi
a.     Pendahuluan
Pendahuluan menekankan pada konsep yang akan dipelajari oleh siswa dalam kelompok dan menginformasikan mengapa hal itu penting, informasi tersebut ditujukan untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari.
b.    Pengembangan
1)    Mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok.
2)    Pembelajaran kontekstual menekankan bahwa belajar adalah memahami makna dan bukan menghafal.
3)    Saling mengontrol pemahaman siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
4)    Memberikan penjelasan mengapa jawaban pertanyaan tersebut benar atau salah.
c.     Latihan terbimbing
1)    Siswa disuruh mengerjakan soal-soal atas pertanyaan yang diberikan.
2)    Pemberian tugas tidak boleh menyita waktu yang terlalu lama. Guru memberikan waktu + 10 menit untuk memberikan tugas kepada siswa.

3. Kegiatan Kelompok
a.     Guru membagikan bahan diskusi yang berupa materi bacaan untuk siswa kepada setiap anggota kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari.
b.    Siswa dalam kelompok diharuskan untuk berdiskusi mencari ide pokok yang terdapat dalam materi bacaan yang telah diberikan oleh guru sebelumnya.
c.     Kelompok menuliskan hasil pembahasan pada book report dan kemudian membacakan hasil tersebut di depan kelas.
d.    Kelompok yang lain diharuskan untuk memberikan umpan balik atas hasil pembahasan diskusi kelompok lain.

4. Evaluasi
Pada tahap ini, guru memberikan evaluasi kepada siswa yang harus dikerjakan secara individu dalam waktu yang telah ditentukan ±15 menit.

5. Penghargaan Kelompok
Dalam memberikan penghargaan kelompok dilakukan dua tahap penilaian / perhitungan sebagai berikut :
1) Menghitung skor individu
Skor yang diperoleh siswa digunakan untuk menentukan nilai perkembangan individu dan untuk menentukan skor kelompok. Untuk skor individu, sebelumnya kita harus menetapkan skor berdasarkan hasil kuis yang lalu, menghitung skor berdasarkan kuis yang diberikan saat itu, menghitung skor perkembangan yang didapatkan siswa pada skor kuis yang terkini dengan skor awal mereka yang lalu apakah nilai atau poin yang mereka dapatkan sama atau bahkan melampaui dengan menggunakan skala pada tabel. Sedangkan skor kelompok dihitung dengan menambahkan skor peningkatan tiap-tiap individu anggota kelompok dan membaginya dengan jumlah anggota tim tersebut.
2) Menghargai prestasi kelompok
Dalam memberikan penghargaan terhadap prestasi kelompok, terdapat tiga tingkat penghargaan sebagai berikut;
a.    Kelompok dengan rata-rata skor 15 disebut sebagai kelompok baik (good team).
b.    Kelompok dengan rata-rata 20 disebut sebagai kelompok hebat (great team).
c.     Kelompok dengan rata-rata skor 25 disebut kelompok super (super team).

METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action research) yang artinya suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional. Suyanto (dalam Kisyani-Laksono, 2006 : 3). Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif.
Pada penelitian ini terbagi menjadi empat tahapan pokok yaitu tahap planning (rencana awal), tahap tindakan / observasi, tahap refleksi, tahap revisi sebagai berikut : 
1.    Tahap Planning (Rencana Awal)
Langkah-langkah yang ditempuh dalam tahap ini adalah :
a.     Menentukan materi pokok, tujuan pembelajar­an dan tugas-tugas pembelajaran.
b.    Menyusun instrumen penelitian yang dipakai untuk mengumpulkan data penelitian, terdiri dari :
1)    Perangkat pembelajaran meliputi satuan pembelajaran, rencana pembelajaran (RP), lembar observasi, dan lembar tes.
2)    Menyusun butir-butir soal tes (pre test dan post test). 3) Membuat Lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa serta lembar pengelolaan.
c.     Menetapkan pengamat selama proses belajar mengajar yaitu kelas VII-E semester gasal Tahun Pelajaran 2015/2016   SMPN 1 Dolopo Kab. Madiun

2.    Tahap Pelaksanaan
a.     Melaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan rencana pelajaran yang telah disampaikan dengan menerapkan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual yang di dalamnya terdapat beberapa tahapan yaitu : (1) Pendahuluan dengan menekankan konsep yang akan dipelajari, (2) Mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran, (3) Membimbing siswa dalam kelompok kooperatif, (4) Menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik, (5) Mengevaluasi hasil dan membimbing membuat rangkuman.
b.    Mengobservasi proses belajar mengajar oleh pengamat dengan mengisi lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa.
c.     Mengadakan diskusi dengan pengamat yang melakukan pengamatan, sesuai dengan hasil pengamatan ketika proses pembelajaran langsung.
d.    Menerangkan hasil diskusi dan menganalisis penyelesaian / pemecahan jika terdapat masalah yang timbul dalam pembelajaran sehingga menghasilkan refleksi dan revisi untuk putaran selanjutnya.
e.     Di awal proses belajar mengajar siswa diberi tes awal, kemudian dilaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan yang telah direncanakan, setelah proses pembelajaran selesai, siswa diberi tes akhir dalam setiap putaran untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual.
3.    Tahap Refleksi
Peneliti mengkaji hasil pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan dengan para pengamat mengenai kekurangan tindakan guru dalam kelas selama proses belajar mengajar berlangsung. Peneliti menganalisis solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki kinerja guru dalam penerapan model pembelajaran CIRC pada pertemuan selanjutnya.
4.    Tahap Revisi
Berdasarkan hasil refleksi, peneliti membuat rancangan pembelajaran untuk putaran berikutnya, dengan mengupayakan adanya pemantauan dan pemecahan masalah yang timbul selama pembelajaran, untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pada putaran sebelumnya.

Lokasi, Subjek dan Objek Penelitian
1.    Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 1 Dolopo Kab. Madiun
2.    Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa Kelas VII-E semester gasal Tahun Pelajaran 2015/2016  SMPN 1 Dolopo Kab. Madiun.
3.    Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran CIRC.

Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data digunakan teknik pengumpulan data :
1.    Tes
2.    Dokumentasi
3.    Observasi
4.    Angket

Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1.    Lembar pengamatan proses pembelajaran
2.    Lembar pengamatan aktivitas siswa
3.    Tes. Tes yang digunakan terdiri dari dua jenis yaitu :
a.     Pre test dan Post test
b.    Tes formatif

Teknik Analisis Data
Untuk menjawab rumusan masalah yang pertama, pelaksanaan model pembelajaran CIRC melalui langkah-langkah seperti di bawah ini :
1.    Persiapan
Sebelum penelitian dilakukan ada beberapa perangkat pembelajaran yang hams disiapkan seperti : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),  lembar observasi, dan lembar tes.
2.    Penyajian materi, dengan tahap-tahap sebagai berikut :
a.     Pendahuluan menekankan pada konsep yang akan dipelajari oleh siswa dalam kelompok dan menginformasikan mengapa hal itu penting, informasi tersebut ditujukan untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari.
b.    Pengembangan
1)    Mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari oleh siswa dalam kelompok-kelompok.
2)    Pembelajaran kontekstual menekankan bahwa belajar adalah memahami makna bukan menghafal.
3)    Saling mengontrol pemahaman siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
4)    Memberikan penjelasan mengapa jawaban pertanyaan benar atau salah.
c.     Latihan terbimbing
1)    Siswa disuruh mengerjakan soal-soal atas pertanyaan yang diberikan.
2)    Pemberian tugas tidak boleh menyita waktu lama Guru memberikan waktu ±10 menit untuk memberikan tugas kepada siswa.
d.    Kegiatan kelompok
1)    Guru membagikan bahan diskusi yang berupa materi bacaan untuk siswa kepada setiap anggota kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari.
2)    Siswa dalam kelompok diharuskan untuk berdiskusi mencari ide pokok yang terdapat dalam materi bacaan yang telah diberikan oleh guru sebelumnya.
3)    Kelompok menuliskan hasil pembahasan dan kemudian membaca­kan hasil tersebut di depan kelas.
4)    Kelompok yang lain diharuskan untuk memberikan umpan balik atas hasil pembahasan diskusi kelompok lain.
e.     Evaluasi
Pada tahap ini, guru memberikan evaluasi kepada siswa yang harus dikerjakan secara individu sesuai waktu yang ditentukan oleh guru ±15 menit
f.     Penghargaan kelompok Pada tahap ini guru memberikan penghargaan kelompok yang sistem kerjasamanya bagus dan memiliki skor tertinggi dari kelompok yang lain melalui pujian. Dalam memberikan penghargaan kelompok dilakukan dua tahap penilaian / perhitungan sebagai berikut:
1)    Menghitung skor individu Skor yang diperoleh siswa digunakan untuk menentukan nilai perkembangan individu dan untuk menentukan skor kelompok. Untuk skor individu sebelumnya kita harus menetapkan skor dasar berdasarkan hasil kuis yang lalu, menghitung skor berdasarkan kuis yang diberikan saat itu, menghitung skor perkembangan yang didapatkan siswa pada skor kuis yang terkini dengan skor yang mereka dapatkan sama atau bahkan melampaui dengan menggunakan skala pada tabel. Sedangkan skor kelompok dihitung dengan menambahkan skor peningkatan tiap-tiap individu anggota kelompok dan membaginya dengan jumlah anggota kelompok tersebut.
2)    Menghargai prestasi kelompok Dalam memberikan penghargaan terhadap prestasi kelompok, terdapat tiga tingkat penghargaan sebagai berikut :
a)       Kelompok dengan rata-rata skor 15 disebut sebagai kelompok baik (good team).
b)      Kelompok dengan rata-rata 20 disebut sebagai kelompok hebat (great team).
c)       Kelompok dengan rata-rata skor 25 disebut kelompok super (super team).
Aktivitas yang dilakukan oleh guru dan siswa pada pelaksanaan pembelajaran ini akan dianalisis dengan menggunakan rumus persentase seperti berikut ini:
Frekuensi aktifitas guru / siswa
X 100 % 
Frekuensi aktifitas keseluruhan
3)    Untuk menjawab rumusan masalah yang kedua, respon siswa terhadap penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran CIRC bila ditinjau dari minat siswa pada mata pelajaran IPS  digunakan teknik analisis yang dihitung dengan rumus sebagai berikut :


P =
n
X 100 %
N
Dimana :
P : prosentase
n : Jumlah jawaban yang merespon
N : Jumlah siswa yang menjadi responden
4)    Untuk menjawab rumusan masalah ketiga, penerapan model pembelajaran CIRC  pada mata pelajaran IPS  efektif bila ditinjau dari ketuntasan belajarnya. Teknik analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan standar penilaian ketuntasan belajar siswa dan ketuntasan kelas yang telah ditetapkan oleh SMPN 1 Dolopo Kab. Madiun yang menyatakan seorang siswa dikatakan tuntas belajar apabila mencapai nilai 65, dan suatu kelas dikatakan tuntas belajar apabila kelas tersebut terdapat > 85% dari siswa yang telah mencapai daya serap > 65. Perhitungan untuk menyatakan bahwa suatu siswa dikatakan tuntas belajar adalah sebagai berikut :
Siswa tuntas belajar =
Jumlah skor yang diperoleh
X 100
Jumlah skor keseluruhan

Perhitungan yang menyatakan bahwa suatu kelas dinyatakan tuntas belajar adalah sebagai berikut :
Ketentuan Klasikal =
Jumlah skor yang tuntas
X 100
Jumlah keseluruhan siswa


HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Siklus I
1) Persiapan (Planning)
Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian. Setelah tahap perencanaan sudah matang, maka peneliti melanjutkan pada tahap ke 2 yaitu penyajian materi.
2) Penyajian materi (Action)
Pada awal pertemuan pelajaran, guru menyampaikan pada siswa tentang model pembelajaran CIRC dan aturan-aturan yang harus ditaati siswa. Setelah itu guru memberikan tes awal untuk mengetahui pemahaman siswa pada materi minggu lalu dan hasil dari tes awal ini digunakan untuk menentukan skor dasar siswa. Kegiatan ini dilakukan selama 20 menit. Guru memulai pembelajaran dengan menjelaskan materi pelajaran yaitu tentang materi pelajaran mengenal Benua dan Samudera. Dalam menjelaskan materi, guru mengajukan beberapa pertanyaan pada siswa untuk mengetahui pemahaman siswa tentang materi yang disampaikan. Kegiatan ini dilakukan selama 20 menit dan dilanjutkan dengan kegiatan kelompok.
3) Kegiatan kelompok
Pembelajaran dilaksanakan dalam kelompok-kelompok yang terdiri dan 5-6 siswa yang heterogen. Dalam hal ini guru meminta pada siswa melakukan kegiatan dengan memberikan materi bacaan yang harus dikerjakan secara berkelompok dan guru mengamati secara bergantian. Kegiatan ini dilakukan selama 25 menit. Pembelajaran dilanjutkan dengan presentasi kelas, dimana guru meminta beberapa kelompok untuk menyampaikan hasil dari diskusinya di depan kelas untuk diadakan diskusi serta membahas hasil kegiatan sesuai dengan materi bacaan yang telah diberikan oleh guru, kelompok lain diharuskan untuk saling menanggapi hasil diskusi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kegiatan ini dilakukan selama 20 menit. Setelah kegiatan presentasi kelompok berakhir peneliti melanjutkan  pada tahap berikutnya yaitu tahap evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa.
4) Evaluasi
Setelah diadakan tes akhir pertama (post test) selama 10 menit, dalam tes ini siswa mengerjakan  tes  secara  individu  dan diakhiri dengan membahas soal yang telah dikerjakan.  Dan tahap ini guru melanjutkan pada tahap  pemberian penghargaan kepada kelompok belajar yang memiliki nilai tertinggi.
5)    Penghargaan
Pembelajaran dilanjutkan oleh guru yaitu membimbing siswa untuk membuat rangkuman dan materi pelajaran yang sudah diterima melalui tanya jawab dengan siswa dan memberikan penghargaan kepada kelompok dengan kerjasama yang bagus melalui suatu pujian. Kegiatan ini dilakukan selama 10 menit.
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dilakukan pengamatan terhadap aktifitas siswa dan guru, dan pengelolaan kelas dalam pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual.
Pengamatan ini dilakukan oleh guru kelas VII-E semester gasal Tahun Pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun.
Aktifitas guru yang mendapat persentase paling menonjol adalah  membimbing siswa (32,5%) dan melatih keterampilan kooperatif siswa (20%). Guru dalam hal ini lebih banyak membimbing siswa tentang bagaimana memahami materi pelajaran bersama kelompoknya dengan cara memunculkan keterampilan bertanya dan meminta siswa lain untuk menjawab dalam kegiatan kelompok, memberikan umpan balik (10%) dan mengklarifikasi pemahaman siswa yang kurang jelas pada akhir pembelajaran ketika siswa melakukan presentasi kelompok. Terkadang guru terpaksa memberikan informasi dalam bentuk jadi kepada siswa yang masih kesulitan dalam memahami materi pelajaran.
Sedangkan aktifitas siswa yang paling menonjol adalah berdiskusi antar siswa (22%), mendengarkan penjelasan guru (17%), presentasi kelompok (15%) dan menulis yang relevan dalam KBM (16%). Aktifitas berdiskusi antar siswa ini sejalan dengan aktifitas guru dalam memberikan umpan balik selama siswa belajar kelompok (10%). Terkadang muncul perilaku yang tidak relevan dalam KBM (6%), hal ini terjadi saat guru memberi petunjuk kelompok lain dan mereka merasa tidak diperhatikan sehingga mereka bersenda gurau. Aktifitas siswa yang menonjol kedua yaitu mendengarkan penjelasan guru (17%), pada saat itu guru menjelaskan materi secara singkat sehingga siswa berinisiatif untuk mencatat penjelasan guru. Aktifitas siswa yang menonjol lainnya adalah presentasi kelompok (15%) dan menulis yang relevan dalam KBM (16%), dimana siswa menyajikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas untuk mendiskusikan dan membahas hasil kegiatan sesuai dengan materi bacaan yang telah diberikan oleh guru, dan kelompok lainnya menanggapi dan merangkum materi melalui tanya jawab yang dibantu oleh guru.
Kategori yang diamati dalam pengelolaan pembelajaran CIRC meliputi persiapan, pendahuluan, kegiatan inti, penutup, pengelolaan waktu, suasana kelas, dan teknik bertanya. Keterampilan guru secara keseluruhan rata-rata mendapatkan nilai 2,47. Dengan aspek kualifikasi baik yaitu : persiapan, pendahuluan, kegiatan inti, dan suasana kelas. Sedangkan aspek yang memperoleh kualifikasi cukup baik yaitu penutup, pengelolaan waktu, dan teknik bertanya guru, hal ini dikarenakan guru kurang mendorong dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi, guru lebih banyak menjelaskan materi hingga siswa cenderung mendengar secara pasif dan guru. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya persentase aktifitas siswa dalam mendengarkan penjelasan guru (17%).
Pada siklus I ini diperoleh ketuntasan klasikal sebesar  34,38% (11 siswa yang tuntas dan 32 siswa) dengan nilai rata-rata kelas 63,25 menurut standar penilaian (DIKNAS 2006) bahwa pada putaran ini ketuntasan klasikal belum tercapai. Hal ini disebabkan siswa belum terbiasa dengan kegiatan pembelajaran CIRC.
Suatu penilaian pada pembelajaran kooperatif tipe CIRC dapat dilihat pada perkembangan individu maupun kelompok. Nilai ini digunakan untuk memberikan penghargaan pada prestasi siswa baik secara individu maupun kelompok. Pada putaran ini semua kelompok mendapatkan penghargaan sebagai kelompok hebat, kecuali kelompok III yang mendapatkan penghargaan sebagai kelompok baik dan kelompok VII-E sebagai kelompok super.

Siklus  II
1) Persiapan
Pada materi ini perencanaan dilakukan berdasarkan revisi pada putaran I, yang perlu diperbaiki adalah (a) mengurangi aktifitas guru dalam menyampaikan materi yang dapat dipelajari siswa dalam kelompok-kelompok kooperatif dan hanya menjelaskan materi yang penting-penting saja, (b) guru harus meningkatkan aktivitasnya untuk melatih keterampilan kooperatif siswa dan memberikan waktu kepada siswa untuk menjawab pertanyaan, (c) guru meningkatkan perhatian kepada siswa secara lebih merata dan menyeluruh dalam membimbing kelompok untuk meminimalkan perilaku yang tidak relevan dalam KBM, (d) mengelola waktu dengan baik agar kegiatan pelaksanaan pembelajaran kooperatif CIRC dapat maksimal. Instrumen penelitian yang digunakan adalah satuan pelajaran (silabus), rencana pembelajaran yang sudah direvisi pada putaran I, LKS, lembar tes yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa, dan lembar pengamatan aktifitas guru dan siswa dalam pembelajaran kooperatif CIRC.
2) Penyampaian materi
Pada awal pertemuan pelajaran, guru menyampaikan pada siswa tentang model pembelajaran CIRC dan aturan-aturan yang harus ditaati siswa. Setelah itu guru memberikan tes awal untuk mengetahui pemahaman siswa pada materi minggu lalu dan hasil dari tes awal ini digunakan untuk menentukan skor dasar siswa. Kegiatan ini dilakukan selama 20 menit. Guru memulai pembelajaran dengan menjelaskan materi pelajaran yaitu tentang Benua dan Samudera. Dalam menjelaskan materi, guru mengajukan beberapa pertanyaan pada siswa untuk mengetahui pemahaman siswa tentang materi yang disampaikan. Kegiatan ini dilakukan selama 20 menit dan dilanjutkan dengan kegiatan kelompok.
3) Kegiatan kelompok
Pembelajaran dilaksanakan dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa yang heterogen. Dalam hal ini guru meminta pada siswa melakukan kegiatan dengan memberikan materi bacaan yang harus dikerjakan secara berkelompok dan guru mengamati secara bergantian. Kegiatan ini dilakukan selama 25 menit. Pembelajaran dilanjutkan dengan presentasi kelas, dimana guru meminta beberapa kelompok untuk menyampaikan hasil dari diskusinya di depan kelas untuk diadakan diskusi serta membahas hasil kegiatan sesuai dengan materi bacaan yang telah diberikan oleh guru, kelompok lain diharuskan untuk saling menanggapi hasil diskusi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kegiatan ini dilakukan selama 20 menit. Setelah kegiatan presentasi kelompok berakhir peneliti melanjutkan pada tahap berikutnya yaitu tahap evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa pada putaran II ini.
4) Evaluasi
Setelah diadakan tes akhir pertama (post test) selama 10 menit, dalam tes ini siswa mengerjakan tes secara individu dan diakhiri dengan membahas soal yang telah dikerjakan. Dan tahap ini guru melanjutkan pada tahap pemberian penghargaan kepada kelompok belajar yang memiliki nilai tertinggi.
5) Penghargaan
Pembelajaran dilanjutkan oleh guru yaitu membimbing siswa untuk membuat rangkuman dan materi pelajaran yang sudah diterima melalui tanya jawab dengan siswa dan memberikan penghargaan kepada kelompok dengan kerjasama yang bagus melalui suatu pujian. Kegiatan ini dilakukan selama 10 menit.
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dilakukan pengamatan terhadap aktifitas siswa dan guru, dan pengelolaan kelas dalam pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual. Pengamatan ini dilakukan oleh guru kelas VII-E semester gasal Tahun Pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun
Aktifitas guru yang mendapatkan persentase paling menonjol adalah membimbing siswa (27,5%) dan mendorong/ melatih keterampilan kooperatif siswa (25%). Peran guru dalam mendorong dan melatih keterampilan kooperatif kelompok meningkat sebesar 5% seiring dengan menurunnya aktifitas guru dalam membimbing/ memberi petunjuk pada siswa sebesar 5%. Dalam hal ini, guru telah berusaha memberikan petunjuk/ membimbing siswa dengan cara memberikan pertanyaan tanpa memberi informasi dalam bentuk jadi lagi kepada siswa yang mengalami kesulitan. Tetapi guru lebih banyak mendorong dan melatih siswa melalui keterampilan kelompok dalam menyelesaikan masalah sehingga diskusi kelompok menjadi lebih hidup dan aktif dibandingkan pada putaran I. Aktifitas guru yang menonjol lainnya juga tampak banyak mengalami peningkatan, kecuali aktifitas yang tidak relevan dalam KBM yang dapat diminimalkan menjadi 0% dan 2,5%. Aktifitas menyampaikan informasi menurun sebesar 2,5%, hal ini dikarenakan guru hanya menjelaskan materi secara singkat tentang pemerintahan dan bahasa resmi negara-negara Asia tenggara dan juga menjawab pertanyaan siswa yang belum jelas tentang materi tersebut. Aktifitas mengorganisasikan siswa dalam kelompok kooperatif tetap 5%. Aktifitas kerja kelompok yang tampak lebih aktif dan hidup pada putaran II tidak lepas dan meningkatnya aktifitas guru dalam memotivasi siswa sebesar 2,5%.
Aktifitas siswa yang dominan pada putaran II adalah berdiskusi antar siswa (23%) dan mendengarkan penjelasan guru (18%). Aktivitas berdiskusi antar siswa mengalami peningkatan sebesar (1%). Peningkatan aktifitas ini sejalan dengan peningkatan aktifitas guru dalam mendorong dan melatih keterampilan kooperatif kelompok, di mana kegiatan kelompok kooperatif sudah tampak lebih hidup dengan berdiskusi antar siswa dan aktifitas berlatih keterampilan kooperatif yang mengalami peningkatan sebesar 1%. Dikarenakan guru sudah mengurangi aktivitasnya dalam menjelaskan materi tentang pemerintahan dan bahasa resmi negara-negara Asia tenggara. Aktifitas siswa yang mengalami penurunan pada putaran II adalah perilaku siswa yang tidak relevan dalam KBM sebesar 3%, seiring dengan upaya guru dalam meningkatkan motivasi dan memberikan umpan balik terhadap kelompok secara merata antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya sehingga mereka mendapatkan perhatian yang cukup dari guru dan kesempatan bersenda gurau dalam diskusi kelompok menjadi kecil. Meskipun demikian, aktifitas perilaku dalam KBM akan lebih diminimalkan lagi atau bahkan dihilangkan pada materi selanjutnya. Aktifitas siswa yang juga mengalami peningkatan adalah presentasi kelompok (16%).
 Kategori yang diamati dalam pengelolaan pembelajaran CIRC meliputi persiapan, pendahuluan, kegiatan inti, penutup, pengelolaan waktu, suasana kelas, dan teknik bertanya. Keterampilan guru secara keseluruhan rata-rata mendapatkan nilai 3. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran banyak mengalami peningkatan pada siklus II. Aspek yang berhasil diperbaiki adalah pendahuluan, kegiatan inti, penutup, pengelolaan waktu, dan suasana kelas.
Pada siklus II ini diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 97,5% (39 siswa yang tuntas dan 40 siswa) dengan nilai rata-rata kelas 75

Siklus III
1) Persiapan
Pada tahap ini yang perlu diperbaiki adalah (a) mengurangi aktifitas guru dalam menyampaikan materi yang dapat dipelajari siswa dalam kelompok-kelompok kooperatif dan hanya menjelaskan materi yang penting-penting saja, (b) guru harus meningkatkan aktifitasnya untuk melatih keterampilan kooperatif siswa dan memberikan waktu kepada siswa untuk menjawab pertanyaan, (c) guru meningkatkan perhatian kepada siswa secara lebih merata dan menyeluruh dalam membimbing kelompok untuk meminimalkan perilaku yang tidak relevan dalam KBM, (d) guru harus berusaha mengefektifkan kerja kelompok dengan cara memotivasi siswa dengan memberikan umpan balik. Instrumen penelitian yang digunakan adalah satuan pelajaran (silabus), rencana pembelajaran yang sudah direvisi pada putaran II, LKS, lembar tes yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa, dan lembar pengamatan aktifitas guru dan siswa dalam pembelajaran kooperatif CIRC. Dan tahap perencanaan akan dilanjutkan pada tahap penyajian materi.
2) Penyampaian materi
Pada awal pertemuan pelajaran, guru menyampaikan pada siswa tentang model pembelajaran CIRC dan aturan-aturan yang harus ditaati siswa. Setelah itu guru memberikan tes awal (pre test) untuk mengetahui pemahaman siswa pada materi minggu lalu dan hasil dari tes awal ini digunakan untuk menentukan skor dasar siswa. Kegiatan ini dilakukan selama 20 menit. Guru memulai pembelajaran dengan menjelaskan materi pelajaran yaitu tentang mengenal kepala negara dan pemerintahan negara-negara Asia tenggara. Dalam menjelaskan materi, guru mengajukan beberapa pertanyaan pada siswa untuk mengetahui pemahaman siswa tentang materi yang disampaikan. Kegiatan ini dilakukan selama 20 menit dan dilanjutkan dengan kegiatan kelompok.
3) Kegiatan kelompok
Pembelajaran dilaksanakan dalam kelompok-kelompok yang terdiri dan 5-6 siswa yang heterogen. Dalam hal ini guru meminta pada siswa melakukan kegiatan dengan memberikan materi bacaan yang harus dikerjakan secara berkelompok dan guru mengamati secara bergantian. Kegiatan ini dilakukan selama 25 menit. Pembelajaran dilanjutkan dengan presentasi kelas, dimana guru meminta beberapa kelompok untuk menyampaikan hasil dan diskusinya di depan kelas untuk diadakan diskusi serta membahas hasil kegiatan sesuai dengan materi bacaan yang telah diberikan oleh guru, kelompok lain diharuskan untuk saling menanggapi hasil diskusi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kegiatan ini dilakukan selama 20 menit. Setelah kegiatan presentasi kelompok berakhir peneliti melanjutkan pada tahap berikutnya yaitu tahap evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa pada putaran II ini.
4) Evaluasi
Setelah diadakan tes akhir pertama (post test) selama 10 menit, dalam tes ini siswa mengerjakan tes secara individu dan diakhiri dengan membahas soal yang telah dikerjakan. Dan tahap ini guru melanjutkan pada tahap pemberian penghargaan kepada kelompok belajar yang memiliki nilai tertinggi.
5) Penghargaan
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dilakukan pengamatan terhadap aktifitas siswa dan guru, dan pengelolaan kelas dalam pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual. Pengamatan ini dilakukan oleh guru kelas VII-E SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun. Berdasarkan hasil observasi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, diperoleh hasil pengamatan aktifitas guru dan siswa yang ditunjukkan pada tabel 4.7 sebagai berikut :
Aktifitas guru yang mendapatkan persentase paling menonjol adalah memberikan petunjuk/ membimbing siswa (25%) dan mendorong/ melatih keterampilan kooperatif siswa (27,5%). Peran guru dalam mendorong dan melatih keterampilan kooperatif kelompok meningkat sebesar 2,5% seiring dengan menurunnya aktifitas guru dalam membimbing/ memberi petunjuk pada siswa sebesar 2,5%. Pada saat siswa bekerja dalam kelompok guru terus-menerus mendorong dan melatih keterampilan kooperatif dan satu kelompok ke kelompok lain dengan frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan putaran kedua sambil terus memberikan petunjuk/membimbing siswa dengan cara memberikan pancingan saja tanpa memberi informasi dalam bentuk jadi lagi kepada kelompok yang mengalami kesulitan. Sementara guru meningkatkan aktifitas memotivasi siswa dan memberikan umpan balik pada kelompok agar diskusi kelompok berjalan aktif. Hal ini didukung pada tabel, dimana aktifitas memotivasi siswa meningkat sebesar 2,5%. Guru mengurangi aktifitas merangkum materi sebesar 5% dan putaran II dengan cara menunjuk beberapa siswa satu dan siswa yang lainnya saling melengkapi. Aktifitas mengorganisasikan siswa dalam kelompok kooperatif tetap 5%.
Aktifitas siswa yang dominan pada putaran III adalah berdiskusi antar siswa (24%) dan mendengarkan penjelasan guru (20%). Aktivitas berdiskusi antar siswa mengalami peningkatan sebesar (1%). Ini menunjukkan bahwa siswa telah terbiasa dengan model pembelajaran CIRC. Peningkatan aktifitas ini sejalan dengan peningkatan aktifitas guru dalam mendorong dan melatih keterampilan kooperatif kelompok, dimana kegiatan kelompok kooperatif sudah tampak hidup dengan aktifitas berlatih keterampilan kooperatif yang mengalami peningkatan sebesar 2%. Siswa juga berlatih menjadi individu yang mandiri, yang didukung oleh data aktifitas berdiskusi antara siswa dan guru yang menurun sebesar 4%. Aktifitas mendengarkan penjelasan guru naik mengalami peningkatan sebesar 1%. Aktifitas guru meningkatkan motivasi siswa dan memberi umpan balik berpengaruh terhadap aktifitas perilaku siswa yang tidak relevan dalam KBM. Aktifitas presentasi kelompok meningkat sebesar 1%. Secara umum, seluruh aktifitas siswa pada putaran III ini mengalami perubahan positif.
Kategori yang diamati dalam pengelolaan pembelajaran CIRC meliputi persiapan, pendahuluan, kegiatan inti, penutup, pengelolaan waktu, suasana kelas, dan teknik bertanya. Keterampilan guru secara keseluruhan rata-rata mendapatkan nilai 3,32. Dengan kualifikasi baik yaitu persiapan, pendahuluan, penutup, pengelolaan waktu, suasana kelas, dan teknik bertanya. Sedangkan aspek yang memperoleh kualifikasi sangat baik yaitu kegiatan inti, hal ini dikarenakan guru sudah mengurangi aktifitas memberikan petunjuk/ membimbing siswa sebesar 2,5%. Hal ini diikuti meningkatnya aktifitas guru dalam mendorong dan melatih keterampilan kooperatif sebesar 2,5%.
Pada putaran III ini diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 100% dengan nilai rata-rata kelas 79,2 menurut standar penilaian (DIKNAS 2006) bahwa pada putaran ini ketuntasan klasikal sudah tercapai. Hal ini disebabkan siswa sudah terbiasa dengan kegiatan pembelajaran CIRC.

PEMBAHASAN
1.  Pelaksanaan model pembelajaran CIRC pada materi Benua dan Samudera
     Pada tahap kegiatan dan pengamatan dapat diperoleh gambaran mengenai hasil pembelajaran CIRC pada materi Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia tampak bahwa siswa belum terbiasa dengan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran CIRC, sehingga guru lebih banyak membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini ditunjukkan dalam aktifitas guru yang dominan membimbing siswa (32,5%), didukung aktifitas siswa berdiskusi antar siswa dan guru (11%), dan kegiatan siswa berlatih keterampilan kooperatif (13%), siswa kurang antusias dalam berdiskusi sehingga guru harus lebih tegas mengatasinya ini ditunjukkan dalam perilaku siswa yang tidak relevan dalam kegiatan mengajar (6%), perilaku guru yang tidak relevan dalam mengajar (2,5%). Dalam kegiatan belajar mengajar guru mendorong dan melatih keterampilan kooperatif sebesar (20%) sehingga diskusi antar siswa dapat berjalan dengan baik (22%), walaupun diikuti dengan perilaku siswa yang tidak relevan dalam KBM (6%).
Pada aktifitas guru memberikan petunjuk siswa menurun sebesar 5% seiring dengan meningkatnya aktifitas guru dalam mendorong dan melatih keterampilan kooperatif sebesar 5%, memotivasi siswa 2,5%, memberikan umpan balik 2,5%. Aktifitas siswa yang mendukung adalah berlatih keterampilan kooperatif sebesar (14%) atau meningkat 1% dari putaran I dan berdiskusi antar siswa (23%), perilaku siswa yang tidak relevan dalam KBM masih ada meskipun telah turun menjadi 3% dan materi mengenal batas-batas negara-negara Asia tenggara.
Aktifitas guru mendorong dan melatih keterampilan kooperatif (27,5%), memberi petunjuk membimbing siswa (25%), didukung oleh aktifitas siswa yaitu berdiskusi antar siswa (24%), berlatih melakukan keterampilan kooperatif (15%) yang terus meningkat dari materi putaran I dan II, serta aktifitas presentasi kelompok (16%). Walaupun pada putaran I dan II aktifitas guru dalam mendorong dan melatih keterampilan kooperatif serta  membimbing siswa tetap. Hal ini didukung pula oleh penilaian keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran kooperatif, dimana aspek suasana kelas mendapat nilai rata-rata 3,3 (baik) dan aspek berpusat pada siswa mendapat nilai 3 (baik). Meskipun guru telah berusaha semaksimal mungkin mengefektifkan kerja kelompok dengan banyak memotivasi siswa (12,5%) dan memberi umpan balik (25%), perilaku siswa yang tidak relevan dalam KBM masih ada (2%). Ini merupakan permasalahan yang disarankan untuk diselesaikan pada penelitian berikutnya yaitu bagaimana menghilangkan perilaku yang tidak relevan dalam KBM.

2. Respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran CIRC
a. Pada pembelajaran kooperatif CIRC materi Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia merupakan materi yang mudah dipahami oleh siswa (90%). Hal ini dikarenakan mata pelajaran IPS ditunjang dengan buku paket yang mudah dipahami ( 52,5% ), bahasa yang digunakan oleh guru juga dapat dimengerti oleh siswa (85%) dan juga guru dalam menjelaskan materi sudah mencakup semua aspek yang terkandung dalam materi (75%). Selain itu materi yang diberikan berhubungan antara satu dengan yang lainnya (72,5%).
b. Pada penelitian ini model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran CIRC. Model ini merupakan model yang baik digunakan pada mata pelajaran IPS (77,5%). Hal ini dikarenakan model tersebut sudah terbukti dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran IPS (77,5%) dan membuat siswa tertarik pada mata pelajaran IPS (77,5%) selain dapat membantu dalam memahami pelajaran IPS, model pembelajaran ini juga tidak membuat siswa bingung (87,5%). Sehingga model pembelajaran CIRC ini dapat digunakan untuk model pembelajaran selanjutnya (72,5%).
c. Selain aspek materi dan aspek model pembelajaran, penelitian ini juga menghasilkan respon siswa terhadap minat siswa terhadap mata pelajaran IPS dengan hasil sebagai berikut : Siswa merasa senang dengan mata pelajaran IPS (72,5%). Selain itu siswa juga berminat untuk berminat mengetahui materi lebih dalam lagi (52,5%) sehingga termotivasi untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia (75%) dan mencoba belajar sendiri di rumah (85%)

3. Hasil ketuntasan belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran CIRC
Siswa yang tuntas pada putaran I tidak mencapai ketuntasan klasikal karena hanya 11 siswa yang tuntas dengan nilai diatas KKM. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran CIRC sehingga siswa yang tuntas kurang dari 85%. Walaupun pada putaran I penelitian ini belum berhasil tetapi pada putaran II dan III mengalami peningkatan dengan hasil ketuntasan belajar yaitu 59,38% atau sebanyak 19 siswa pada siklus II dan 93,75% atau sebanyak 30 siswa pada siklus III,  ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran CIRC merupakan model pembelajaran yang efektif bila digunakan pada mata pelajaran IPS karena siswa yang tuntas pada putaran III lebih dari 85%.

Grafik hasil ketuntasan belajar siswa kelas VII-E



PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kemampuan guru dalam mengelola KBM dengan model pembelajaran CIRC pada materi pokok Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia juga mengalami peningkatan, terjadi peningkatan kualitas pembelajaran CIRC.
2. Model pembelajaran CIRC dapat menarik siswa untuk senang belajar sebesar dan membantu memahami pelajaran sebesar, pembelajaran CIRC merupakan model pembelajaran yang efektif.
3. Hasil/prestasi belajar siswa meningkat pada setiap putaran. Ketuntasan belajar meningkat, model pembelajaran CIRC ini efektif diterapkan.

Saran
Dari hasil penelitian ini hal-hal yang perlu disarankan mengenai model pembelajaran CIRC adalah:
1.   Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk penerapan model pembelajaran CIRC pada materi pokok yang berbeda dalam mata pelajaran IPS karena ternyata model pembelajaran ini mampu membantu siswa mencapai ketuntasan belajar individu maupun klasikal, meningkatkan interaksi positif antar siswa dan menghilangkan kesenjangan antar siswa kelompok atas dan siswa kelompok bawah melalui kelompok kooperatif.
2.   Siswa perlu dibiasakan bekerja dalam kelompok kooperatif dengan melatih lebih banyak keterampilan kooperatif tingkat bawah, menengah dan atas sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran CIRC.
3.   Diperlukan persiapan dan perencanaan yang lebih baik dan matang untuk menyelenggarakan pembelajaran CIRC yang meliputi pemilihan konsep atau materi pelajaran yang akan disajikan.




DAFTAR PUSTAKA
American federation of Teacher. 1997. Cooperative Reading and Composition (CIRC). www.csos.jhu.edu/sa/overcirc.html
Ardiana, Leo Idra. 1998. Penelitian Tindakan Kelas. Depdiknas
Arikunto, Suharsimi. 2001. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Dalyono. 1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Johnson, Elaine B. 2002. CTL (Contextual Teaching and Learning). Bandung : Mizan Learning Center
Kisyani-Laksono. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Unesa
Muslich, Masnur. 2006. KTSP : Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual Jakarta: Bumi Aksara
Slavin, Robert. 1997. Effect of Bilingual Cooperative Reading and Composition onp Students Transitioning From Spanish to English, report No.10. www.links.jstor.org
Steven, Robert., Madden dkk. 1987. Journal of Cooperative Reading and Composition: Two Field Experiment Volume 22 No.4. www.links.jstor.org
Sudjana, Nana. 1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung Algesindo
Sudjana, Nana. 1998. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung Remaja Rosdakarya
Syah, Muhibbin. 2001. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung Remaja Rosda Karya

Tim Pustaka Yustisia. 2006. Panduan Lengkap KTSP. Yogyakarta : Pustaka Yustisia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar