Minggu, 04 September 2016

PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERBASIS MASALAH SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR DAN PENGUASAAN MATERI IPA-BIOLOGI PADA SISWA KELAS IXH SMP NEGERI 1 JIWAN KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2014/2015

PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERBASIS MASALAH SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR DAN PENGUASAAN MATERI IPA-BIOLOGI PADA SISWA KELAS IXSMP NEGERI 1 JIWAN  KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Oleh : CATUR WURI ANDAYANI
SMPN 1 JIWAN KABUPATEN MADIUN


ABSTRAK

Kata Kunci : Pembelajaran Kontekstual Berbasis Masalah, Prestasi Belajar

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju mengakibatkan suatu kurikulum tidak boleh bersifat statis melainkan harus bersifat dinamis atau fleksibel, artinya bisa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan, tehnologi dan kebutuhan. Kurikulum yang sudah usang harus diperbaiki. Sedangkan setiap pembaharuan menimbulkan banyak perubahan, begitu pula sebaliknya perubahan akan menimbulkan pembaharuan dalam dunia pendidikan.
Rendahnya mutu pendidikan adalah salah satu permasalahan bangsa Indonesia di bidang pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan lain, dan peningkatan mutu manajemen sekolah, namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang memadai.
Pada prinsipnya untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan adanya perubahan yang mendasar dalam penggunaan metode pembelajaran. Sebab metode pembelajaran yang diterapkan oleh para guru sampai sekarang belum banyak yang mengalami perubahan meskipun sudah banyak para guru yang mendapatkan pelatihan. Metode-metode tersebut sudah saatnya diganti dengan metode baru seperti  metode laboratorium, metode diskusi, metode kerja kelompok atau metode permainan.
Telah disadari dan diketahui bahwa dalam belajar seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor eksternal dan internal yang dimiliki oleh siswa satu dengan yang lainya adalah berbeda-beda, salah satu diantaranya  adalah kurangnya minat belajar siswa. Hal ini merupakan kendala yang dihadapi seorang guru, karena guru akan merasa kesulitan dalam menyampaikan materi pembelajaran, khususnya yang menyangkut konsep-konsep yang esensial. Sehingga banyak guru yang mengambil jalan pintas saat mengajar, dengan menerapkan metode pembelajaran satu arah, yaitu dengan ceramah.
Penerapan metode pembelajaran satu arah bersifat teoritis, dan  siswa beranggapan pelajaran membosankan dan tidak menarik. Sehingga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara optimal, akibatnya siswa tidak dapat menguasai materi yang disampaikan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, diperlukan adanya reformasi penggunaan model pembelajaran yang diterapkan oleh seorang guru. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan Kontekstual, karena pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa,dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Muslich 2007: 41)
Dengan pembelajaran kontekstual ,siswa akan aktif memecahkan masalah dengan melakukan kolaborasi dengan teman dalam kelompoknya. Suasana pembelajaran seperti ini akan memberi peluang kepada siswa untuk dapat membangun pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang didapatkan karena aktifitas siswa akan lebih bermakna bila dibandingkan dengan pengetahuan yang didapat karena hanya sekedar menerima informasi tanpa mengalami sendiri.
Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.
Apa yang menjadikan belajar aktif ? Agar belajar menjadi aktif siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari.  Belajar aktif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud) .Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan cuma itu, siswa perlu “mengerjakannya”, yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktekkan keterampilan, dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan untuk bisa memecahkan suatu masalah .
Dengan menyadari gejala-gejala atau kenyataan tersebut di atas, maka penulis ingin  melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Penerapan pembelajaran kontekstual berbasis masalah sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar dan penguasaan materi pelajaran IPA-Biologi pada siswa kelas IXH SMPN 1 Jiwan tahun pelajaran 2014/2015”.



PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju mengakibatkan suatu kurikulum tidak boleh bersifat statis melainkan harus bersifat dinamis atau fleksibel, artinya bisa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan, tehnologi dan kebutuhan. Kurikulum yang sudah usang harus diperbaiki. Sedangkan setiap pembaharuan menimbulkan banyak perubahan, begitu pula sebaliknya perubahan akan menimbulkan pembaharuan dalam dunia pendidikan.
Rendahnya mutu pendidikan adalah salah satu permasalahan bangsa Indonesia di bidang pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan lain, dan peningkatan mutu manajemen sekolah, namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang memadai.
Pada prinsipnya untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan adanya perubahan yang mendasar dalam penggunaan metode pembelajaran. Sebab metode pembelajaran yang diterapkan oleh para guru sampai sekarang belum banyak yang mengalami perubahan meskipun sudah banyak para guru yang mendapatkan pelatihan. Metode-metode tersebut sudah saatnya diganti dengan metode baru seperti  metode laboratorium, metode diskusi, metode kerja kelompok atau metode permainan.
Telah disadari dan diketahui bahwa dalam belajar seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor eksternal dan internal yang dimiliki oleh siswa satu dengan yang lainya adalah berbeda-beda, salah satu diantaranya  adalah kurangnya minat belajar siswa. Hal ini merupakan kendala yang dihadapi seorang guru, karena guru akan merasa kesulitan dalam menyampaikan materi pembelajaran, khususnya yang menyangkut konsep-konsep yang esensial. Sehingga banyak guru yang mengambil jalan pintas saat mengajar, dengan menerapkan metode pembelajaran satu arah, yaitu dengan ceramah.
Penerapan metode pembelajaran satu arah bersifat teoritis, dan  siswa beranggapan pelajaran membosankan dan tidak menarik. Sehingga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara optimal, akibatnya siswa tidak dapat menguasai materi yang disampaikan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, diperlukan adanya reformasi penggunaan model pembelajaran yang diterapkan oleh seorang guru. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan Kontekstual, karena pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa,dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Muslich 2007: 41)
Dengan pembelajaran kontekstual ,siswa akan aktif memecahkan masalah dengan melakukan kolaborasi dengan teman dalam kelompoknya. Suasana pembelajaran seperti ini akan memberi peluang kepada siswa untuk dapat membangun pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang didapatkan karena aktifitas siswa akan lebih bermakna bila dibandingkan dengan pengetahuan yang didapat karena hanya sekedar menerima informasi tanpa mengalami sendiri.
Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.
Apa yang menjadikan belajar aktif ? Agar belajar menjadi aktif siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari.  Belajar aktif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud) .Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan cuma itu, siswa perlu “mengerjakannya”, yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktek­kan keterampilan, dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan untuk bisa memecahkan suatu masalah.
Dengan menyadari gejala-gejala atau kenyataan tersebut di atas, maka penulis ingin  melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Penerapan pembelajaran kontekstual berbasis masalah sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar dan penguasaan materi pelajaran IPA-Biologi pada siswa kelas IXH SMPN 1 Jiwan tahun pelajaran 2014/2015”.

KAJIAN PUSTAKA
A.     Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota kelurga dan masyarakat (Nurhadi,2003:4).
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yakni: kontruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan dan penilaian autentik (Trianto, 2008:20).
Dalam kelas kontekstual tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yangsedangdipelajar.

B.      Pengajaran Berbasis Masalah
Pengajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pandekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
Pengajaran masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur (200: 2)), “Pengajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Teacihg (Pembelajaran Proyek), Experienced-Based Education (Pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic Learning (Pembelajaran Autentik), dan Achoered Instruction (Pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)”.
Peran guru dalam pengajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Secara garis besar pengajaran berbasis masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan ikuiri.

1. Ciri-ciri Pengajaran Berbasis Masalah
Pengembangan pengajaran berbasis masalah telah mencoba menunjukkan ciri-ciri pengajaran berbasis masalah sebagai berikut:
a)    Pengajuan pertanyaan atau masalah
b)    Pengajaran berbasis masalah bukan hanya mengorganisasikan prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Mereka mengajukan situasi kehidupan yang nyata dan autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi itu.
c)    Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
d)    Meskipun pengajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu , masalah yang akan diselidiki telah dipilih yang benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.

2. Penyelidikan autentik
Pengajaran berbasis masalah meng­haruskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari pemecahan masalah nyata. Mereka harus menganalisasi dan mendefinisikan masalah, mengembankan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat iferensi, dan merumuskan kesimpulan.

3.  Menghasilkan produk / karya dan memamerkan­nya
Pengajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa transkrip debat, laporan, model fisik, video atau program komputer (Ibrahim & Nur, 200:  5-7).
Pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa bekerja sama satu sama lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil). Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.

4.  Tujuan Pembelajaran dan Hasil Belajar
Hasil belajar adalah nilai yang dicapai yang telah atau dilakukan ataupun dikerjakan. Nawawi (1981: 100) mengemukakan pengertian hasil belajar sebagai keberhasilan murid dalam mempelajari materi pembelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk nilai/skor dari hasil tes mengenai sejumlah pelajaran tertentu.
Sadly (1977: 904) mengemukakan pengertian hasil belajar adalah “Hasil yang dicapai oleh tenaga atau daya kerja seseorang dalam waktu tertentu”. Sedangkan AD Marimba mengatakan hasil belajar adalah kemampuan seseorang yang secara langsung dapat diukur (1978: 143). Hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya. (Ali, 1987: 323). Sedangkan menurut Sulkan Yasin, “…hasil belajar adalah hasil karya yang dicapai”. (Yasin, 1990: 249).
Dengan demikian maka pengertian hasil belajar secara keseluruhan adalah keberhasilan yang dicapai seseorang (siswa) yang dilakukan dalam proses belajaraa diwujudkan dalam angka-angka atau nilai-nilai dalam raport setelah mengadakan evaluasi atau penilaian terhadap usaha belajar yang telah dilakukan di sekolah.
Arikunto (1997: 5-7) mengemukakan bahwa penilaian hasil belajar mempunyai makna ditinjau dari berbagai segi, yaitu:

5. Makna bagi siswa
Dengan adanya penilaian hasil belajar siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di sini ada dua kemungkinan, yaitu:
a.     Memuaskan, jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan, tentu siswa ingin memperoleh kepuasan lagi pada kesempatan yang lain.
b.    Tidak memuaskan, jika siswa tidak puas dengan hasil yang diperoleh, ia akan berusaha agar lain kali tidak akan terulang lagi.

6. Makna bagi guru
Dengan  hasil penilaian, maka guru akan mengetahui siswa yang sudah menguasai bahan maupun yang belum menguasai bahan. Dengan demikian guru akan lebih memusatkan perhatiannya pada siswa-siswa yang belum berhasil.
Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Jika sebagian besar siswa memperoleh nilai jelek, mungkin metode yang digunakan belum tepat, karena itu guru perlu mencoba metode lain dalam mengajar.
Uraian rinci dijelaskan lebih jauh oleh Ibrahim dan Nur (2000: 7-12) berikut ini:
a.     Keteramplan Berpikir dan Keterampilan Pemecahan Masalah
b.    Berbagai macam ide telah digunakan untuk menggambarkan cara seseorang berpikir. Tetapi, apakah sebenarnya yang terlibat dalam proses berpikir? Apakah keterampilan berpikir itu dan terutama apakah keterampilan berpikir itu?
c.     Berpikir adalah proses yang melibatkan operasi mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan penalaran.
d.    Berpikir adalah proses secara simbolik menyatakan (melalui bahasa) objek nyata dan kejadian-kejadian dan penggunaan pernyataan simbolik itu untuk menemuan prinsip-prinsip esensial tentang objek dan kejadian itu untuk menemukan prinsip-prinsip esensial tentang objek dan kejadian itu.
e.     Berpikir adalah kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasar pada inferensi atau pertimbangan yang seksama.
Tentang berpikir tingkat tinggi, Resnick (1987) memberikan penjelasan sebagai berikut:
a.     Berpikir tingkat tinggi adalah nonalgoritmik, yaitu alur tindakan yang tidak sepenuhnya dapat diterapan sebelumnya.
b.    Berpikir tingkat tinggi cenderung kompleks. Keseluruhan alurnya tidak dapat diamati dari satu sudut pandang.
c.     Berpikir tingkat tinggi sering kali menghasilkan banyak solusi, masing-masing dengan keuntungan dan kerugian.
d.    Berpikir tingkat tinggi melibatkan pula pertimbangan dan interpretasi.
e.     Berpikir tingkat tinggi melibatkan ketidakpastian. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas tidak selamanya diketahui.
f.     Berpikir tingkat tinggi melibatkan banyak penerapan banya kriteria, yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain.
g.    Berpikir tingkat tinggi melibatkan banyak pengaturan diri tentang proses berpikir.
h.    Berpikir tingkat tinggi melibatkan pencarian makna, menemukan struktur pada keadaan yang tampaknya tidak teratur.
i.      Berpikir tingkat tinggi adalah kerja keras. Ada pengerahan kerja mental besar-besaran saat melakukan berbagai jenis elaborasi dan pertimbangan yang dibutuhkan.
Meskipun proses memiliki beberapa kesamaan antarsituasi, proses itu juga bervarisai bergantung pada apa yang dipikirkan seseorang. Sebagai contoh, proses yang kita gunakan untuk memikirkan IPA berbeda dengan proses yang kita gunakan untuk memikirkan puisi.

7.  Pemodelan Peran Orang Dewasa
Resnick juga memberikan rasional tentang bagaimana pengajaran berbasis masalah membantu siswa untuk berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar tentang pentingnya peran orang dewasa. Dalam banyak hal pengajaran berbasis masalah bersesuaian dengan aktivitas mental di luar sekolah sebagaimana yang diperankan oleh orang dewasa.
Pengajaran berbasis masalah memiliki unsur-unsur belajar magang. Hal tersebut mendorong pengamatan dan dialog dengan orang lain, sehingga secara bertahap siswa dapat memahami peran penting dari aktivitas mental dan belajar yang terjadi di luar sekolah.
Pengajaran berbasis masalah melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan siswa menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun pemahamannya tentang fenomena tersebut.

8. Pembelajaran yang Otonom dan Mandiri
Pengajaran berbasis masalah berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan otonom. Bimbingan guru yang berulang-ulang mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan, mencari penyelesaian terhadap masalah nyata oleh mereka sendiri. Dengan begitu, siswa belajar menyelesaikan tugas-tugas mereka secara mandiri dalam hidupnya.

9. Tahapan Pengajaran Berbasis Masalah
Pengajaran berbasis masalah terdiri dari lima tahapan utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.
Tahapan
Tingkah Laku Guru
Tahap 1
Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelas­kan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
Tahap 2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan meng­organisasikan tugas belajar yang berhubung­an dengan masalah tersebut
Tahap 3
Membimbing penyelidikan individual dan kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informsi yang sesuai, melaksanakan eksperi­men, untuk mendapat­kan penyelesaian dan pemecah­an masalahnya.
Tahap 4
Mengembang­kan dan menyaji­kan hasil karya
Guru membantu siwa merencanakan dan menyiap­kan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka berbagai tugas dengan temannya.
Tahap 5
Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan maslah
Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di kelas IXH SMP Negeri 1 Jiwan tahun pelajaran 2014/2015 sejumlah 25 siswa, terdiri dari 12 laki-laki dan 13 perempuan.
Penelitian tindakan ini dilakukan dalam dua siklus materi kelangsungan hidup makluk hidup melalui adaptasi, seleksi alam dan perkembangbiakan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Maret 2015.
Adapun rincian tahap pelaksanaan kegiatan pembelajaran tiap siklusnya sebagai berikut:
1.    Tahap Perencanaan Tindakan
Kegiatan    yang   dilakukan   pada   tahab  ini, peneliti  berdiskusi  bersama observer  dalam  hal  persiapan  instrumen  yang akan digunakan untuk penelitian, yaitu sebagai berikut:
a.  Menyusun silabus pembelajaran
b.  Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual berbasis masalah
c.  Sebagai alat belajar digunakan LKS dan buku teks yang tersedia.
d   Menyusun format tes yang akan digunakan untuk mengevaluasi hasil  belajar siswa.
e.  Menyusun format observasi yang akan digunakan untuk melihat keaktifan  tiap siswa pada saat pembelajaran berlangsung.
2.  Pelaksanaan Tindakan
     Tindakan ini dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil/dampak dari diterapkannya Pembelajaran Kontekstual Berbasis Masalah. Adapun rincian pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut :

SIKLUS I
a.  Kegiatan Pendahuluan
1)     Memberikan salam ,memimpin doa dan menanyakan keadaan siswa
2)     Memotivasi siswa dengan pertanyaan
3)    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai dalam belajar
b. Kegiatan Inti
1)  Guru menyampaikan inti materi yang ingin dicapai
2)  Guru memberikan permasalahan  dalam bentuk soal untuk dikerjakan secara kelompok
3)  Siswa diminta berada dalam tatanan kelompok untuk mendiskusikan pemecahkan masalah atau atau soal yang sudah diberikan .
4)  Guru meminta siswa berfikir tentang materi/permasalahan yang telah disampaikan secara berkelompok
5)  Masing-masing kelompok diminta mengemukakan hasil diskusinya
7)  Guru memimpin diskusi kelas
8)  Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja bagus
9)  Guru mengarahkan siswa membuat rangkuman sesuai dengan tujuan pembelajaran
c.   Kegiatan Akhir
      1)   Guru memberi evaluasi (Post tes) untuk mengetahui daya serap siswa
       2)  Guru menyampaikan salam penutup.

SIKLUS II
a.  Kegiatan Pendahuluan
1. Memberikan salam ,memimpin doa dan menanyakan keadaan siswa
2.  Memotivasi siswa dengan pertanyaan
3.  Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai dalam belajar
b. Kegiatan Inti
1. Guru menyampaikan inti materi yang ingin dicapai
2. Guru memberikan permasalahan  dalam bentuk soal untuk dikerjakan secara kelompok
3.  Siswa diminta berada dalam tatanan kelompok untuk mendiskusikan pemecahkan masalah atau atau soal yang sudah diberikan .
4.  Guru meminta siswa berfikir tentang materi / permasalahan yang telah disampaikan secara berkelompok
5.  Masing-masing kelompok diminta mengemukakan hasil diskusinya
6.  Guru memimpin diskusi kelas
7.  Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja bagus
8.  Guru mengarahkan siswa membuat rangkuman sesuai dengan tujuan pembelajaran

c.  Kegiatan Akhir
1)  Guru memberi evaluasi (Post tes) untuk mengetahui daya serap siswa
2)  Guru menyampaikan salam penutup

3. Tahap Observasi
Dalam pelaksanaan pengamatan ini,peneliti dan pengamat melakukan tindakan pengamatan terhadap aktifitas siswa. Sebagai bahan refleksi bagi peneliti yang bertindak sebagai guru bidang studi maka dilakukan juga pengamatan terhadap aktivitas guru selama pembelajaran berlangsung. Agar didapat hasil pengamatan yang lebih terarah diperlukan pedoman pengamatan melalui  instrumen pengamatan berupa chek list.

4. Tahap Refleksi
Refleksi merupakan evaluasi yang dilakukan oleh peneliti dan observer Pada tahab ini peneliti melakukan analisa, mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hasil Refleksi ini digunakan untuk melakukan perbaikan pada siklus berikutnya

Analisa Data
Analisa data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data. Hasil pengumpulan data akan dianalisa berdasarkan kategorinya yaitu :

1.   Data Hasil  belajar
Data ini diambil dengan menggunakan tes tulis (post tes) yang dilaksanakan diakhir pertemuan. Tes yang disajikan kepada siswa berupa soal uraian . Siswa yang telah menjalani tes dinyatakan tuntas dalam belajar jika mendapat skor minimal 82 sesuai dengan  KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) mata pelajaran Biologi SMP Negeri 1 Jiwan. ntuk mengetahui ketuntasan belajar maka dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
% Nilai =  x  100%

Untuk  mengetahui ketuntasan belajar secara klasikal yang sekaligus untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa digunakan rumus  sebagai berikut :
Ketuntasan  =  x  100%

2.  Data keaktifan dalam KBM
Untuk mengetahui pencapaian indikator keaktifan siswa secara klasikal dihitung dengan menggunakan rumus :
Pencapaian klasikal=  x 100%

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian siklus I, dan siklus II diperoleh hasil dalam tabel 1 sebagai berikut :

Tabel 1.    Ketuntasan Belajar Siswa
No.
Siklus
Ketuntasan Belajar
Tuntas
Tidak Tuntas
Jml
%
Jml
%
1
Siklus I
15
60
10
40
2
Siklus II
23
92
2
8

Tabel 2Keaktifan Belajar Siswa
No.
Aspek yang diamati
Ketercapaian
Siklus I
Siklus II
1
Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat
56%
80%
2
Motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran (meyelesaikan tugas mandiri atau tugas kelompok)
56%
72%
3
Interaksi siswa dalam mengikuti diskusi kelompok
60.00%
84%
4
Hubungan siswa dengan guru selama kegiatan pembelajaran
72.00%
88%
5
Hubungan siswa dengan siswa lain selama pembelajar­an (dalam kerja kelompok)
72.00%
84%
6
Partisipasi siswa dalam pembelajaran (memperhatikan), ikut melakukan kegiatan kelompok, selalu  mengikuti petunjuk guru).
84.00%
92%
Rata -Rata
66.67
83.33

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan pemahaman penguasaan materi IPA-Biologi pada siswa kelas IXH SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2014/2015. Berdasarkan data menunjukkan terdapat peningkatan prosentase ketuntasan belajar dari siklus I 60% menjadi 92% pada siklus II.
Sedangkan pada tabel 2 terlihat keberanian siswa bertanya dan mengemukakan pendapat, rerata perolehan skor pada siklus I  56 % menjadi 80% pada siklus II. Begitupun dalam indikator motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran pada siklus I  rata-rata 56 % dan pada siklus II 72 %. Dalam indikator interaksi siswa selama mengikuti diskusi kelompok pada siklus I 60% dan pada siklus II  84%. Dalam indikator hubungan siswa dengan guru selama kegiatan pembelajaran, pada siklus I 72 % dan pada siklus II 88%. Dalam indikator hubungan siswa dengan siswa, pada siklus I 72% sedangkan pada siklus II 84%. Dalam indikator partisipasi siswa dalam pembelajaraan terlihata pada siklkus I 84%, sedangkan pada silklus II  92%.
Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas di atas prosentase ketercapaian pada siklus pertama mengalami peningkatan yang signifikan pada siklus kedua, maka dapat disimpulkan bahwa temuan pada penelitian menjawab hipotesis yang dirumuskan, bahwa penerapan pembelajaran kontekstual berbasis masalah dapat meningkatkan prestasi belajar dan penguasaan materi pelajaran IPA-Biologi pada siswa kelas IXH SMP Negeri 1 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2014/2015

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.       Penerapan pembelajaran kontekstual berbasis masalah dapat meningkatkan prestasi belajar dan penguasaan materi IPA-Biologi pada siswa kelas IXH SMP Negeri 1 Jiwan  Kabupaten Madiun tahun pelajaran 2014/2015
2.       Penerapan pembelajaran kontekstual berbasis masalah dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa siswa kelas IXH SMP Negeri 1 Jiwan  Kabupaten Madiun tahun pelajaran 2014/2015

Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar IPA-Biologi lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut:
1.  Pembelajaran pengetahuan IPA-Biologi dapat menggunakan model kontekstual berbasis masalah (Problem Based Learning )sebagai salah satu alternatif dalam proses penyampaian pembelajaran di sekolah.
2.  Melalui pembelajaran model kontekstual berbasis masalah (Problem Based Learning), guru dapat dengan mudah merespon potensi atau modalitas siswa dalam setiap kelompok belajar, apakah tergolong kepada kelompok Visual, atau kelompok Auditorial atau kelompok Kinestetik. Dengan demikian seorang guru yang profesional dapat elbih efektif dapat melakuakn kegiatan proses belajar mengajar, serta dengan mudah dapat merespon perbedaan-perbedaan potensi yang dimiliki peserta didiknya
3.  Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran, walau dalam taraf yang sederhana, di mana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
4.  Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan pada siswa kelas IXH SMP Negeri 1 Jiwan  Kabupaten Madiun tahun pelajaran 2014/2015.




DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta, 2002.
Ali, Muhammad. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon, 1996.
Dayan, Anto. Pengantar Metode Statistik Deskriptif. Jakarta: Lembaga Penelitian Pendidian dan Penerangan Ekonomi, 1972.
Djamarah, Syaiful Bahri. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta, 2000.
Hadi, Sutrisno. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi UGM1982.
Hamalik, Oemar. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004.
Hasan, Chalijah. Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan. Surabaya: Al-Ikhlas, 2004.
Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998.
Hudoyo, H. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP Malang, 1990.
Lee, W.R. Language Teaching Games and Contests. London: Oxfortd University Press, 1985. 
Melvin, L. Siberman. Aktif Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia dan Nuansa, 2004.
Riduwan. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta, 2000.
Sardiman, A.M. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara, 1996.
Satiadarma, Monty P. dan Fidelis E. Waruwu. Mendidik Kecerdasan Pedoman Bagi Orang Tua dan Guru dalam Mendidik Anak Cerdas. Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2003.

Soekamto, Toeti. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka, 1997A. Jalil, 2006 Pembelajaran dan Pendekatan Problem Posing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Siswa Kelas VIII SMP Negeri IV Malang Pada Konsep system Hormon Tahun Pelajaran 2004/2005. Tesis tidak dipublikasikan, Universitas Negeri Malang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar